Rabu, 26 Juni 2024
Selular.ID -

Pegipegi Tutup Operasi, Traveloka Rugi Milyaran Rupiah

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Situs penyedia layanan pemesanan dan pembelian tiket (Online Travel Agent/OTA) Pegipegi menghentikan operasinya sejak Senin (11/12/2023).

Selain mengumumkan penutupan, Pegipegi juga mengungkapkan nasib pesanan yang dilakukan konsumen sebelumnya. Pembelian yang dilakukan tetap berlaku, ungkap perusahaan.

Pegipegi juga menyinggung konsumen yang ingin refund maupun reschedule. Semuanya dapat dilakukan melalui email resmi layanan travel tersebut.

“Para pelanggan tidak perlu khawatir karena seluruh pembelian yang telah dibeli pelanggan di Pegipegi tetap berlaku, pelanggan masih bisa check in dan menggunakan transportasi udara dan darat sesuai waktu checkin maupun waktu keberangkatan,” kata Pegipegi.

“Jika ada pertanyaan, permintaan dana kembali (refund), penggantian jadwal (reschedule) atau komplain dapat disampaikan via email ke Pegipegi,” pungkas perusahaan.

Tamatnya Pegipegi, mengakhiri perjalanan 12 tahun perusahaan OTA itu di Indonesia, seiring dengan masih beratnya pertumbuhan bisnis start up imbas pandemi covid-19.

Di sisi lain, penutupan Pegipegi membuat induk usaha kehilangan duit milyaran rupiah. Untuk diketahui, Jet Tech Innovation Ventures Pte yang merupakan perusahaan investasi asal Singapura, mengakuisisi Pegipegi, dan dua startup serupa di dua negara lain. Yakni Mytour di Vietnam dan Travelbook di Filipina.

Sebelum dilego kepada Jet Tech, ketiganya merupakan anak usaha perusahaan asal Jepang Recruit Holdings. Alasan Recruit Holdings melepas ketiganya adalah persaingan yang terlalu ketat industri OTA di Asia Tenggara.

Baca Juga: Traveloka Terus Berupaya Dorong Pertumbuhan Transformasi Digital

Berdasarkan catatan CB Insight, akuisisi Pegipegi, Mytour, dan Travelbook oleh Jet Tech dilakukan pada 17 Desember 2018 lalu. Nilai akuisisinya mencapai US$ 66,8 juta atau sekitar Rp 968,6 miliar (kurs Rp 14.500 per dolar AS).

Belakangan, terungkap bahwa Jet Tech adalah perusahaan yang didirikan oleh Traveloka, perusahaan OTA terkemuka yang beroperasi di Asia Tenggara dan Australia.

Traveloka sendiri merupakan salah satu unicorn Indonesia yang didirikan pada 2012 lalu oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang.

Meski telah beroperasi di banyak negara, rapor Traveloka sejauh ini masih belum sepenuhnya menggembirakan. Perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$225,9 juta pada tahun finansial 2022, menurut VentureCap Insights, yang melacak pengajuan peraturan di Singapura. Jumlah tersebut meningkat 75% dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski pendapatan meningkat, namun perusahaan juga mencatatkan kerugian tahun berjalan sebesar US$98,2 juta. Angka itu telah turun dari US$138,2 juta pada 2021.

Sebagian besar pendapatan Traveloka berasal dari layanan perjalanan dan lokal yang disediakan oleh pihak ketiga di platformnya seperti hotel, maskapai penerbangan, dan vendor lainnya. Sebagian besar sisanya diatribusikan pada jasa keuangan.

Di tengah kompetisi yang cukup ketat dengan pemain lainnya, Traveloka berusaha mempertahankan posisi sebagai pemain utama di bisnis OTA. Tercatat, perusahaan memiliki kas dan setara kas sebesar US$108,9 juta pada akhir 2022.

Tak dapat dipungkiri, keputusan menghentikan operasi Pegipegi disinyalir merupakan upaya Traveloka untuk memangkas kerugian.

Sebelum menghentikan operasional Pegipegi, pada September 2022, Traveloka menutup sejumlah layanannya untuk kembali memprioritaskan inti bisnisnya di industri perjalanan. Setelahnya, Traveloka meraih pendanaan US$ 300 juta (Rp 4,5 triliun) dari BlackRock dan pemerintah Indonesia.

Pada awal 2023, Traveloka melakukan PHK terhadap sejumlah karyawan di berbagai negara. Traveloka juga mengumumkan pada Juli lalu bahwa perusahaan menyetop layanan pembayaran tagihan dan top up di akhir 2023.

Baca Juga: Gandeng Bank Jago, Traveloka Salurkan Kredit melalui PayLater

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU