Jumat, 24 Mei 2024
Selular.ID -

Suksesi di Posisi Puncak BlackBerry, John Chen Pensiun Digantikan Richard Lynch

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – BlackBerry mengumumkan CEO John Chen akan mengundurkan diri pada 4 November setelah menjabat selama satu dekade di mana ia mengawasi peralihan dari perangkat ke perangkat lunak.

Seturut pensiunnya John Chen, anggota dewan perusahaan, menunjuk Richard Lynch. Dia akan mengambil alih posisi untuk sementara, hingga manajemen memutuskan CEO definitif.

Lynch sendiri bukan orang baru di lingkungan Blackberry. Ia bergabung dengan dewan direksi sejak 2013. Sebelum berkarir di Blackberry, Lynch merupakan Wakil Presiden Eksekutif Chief Technology Officer di Verizon Communications dan Verizon Wireless.

Perusahaan menyatakan pensiunnya John Chen sejalan dengan ketentuan kontraknya dan menandai selesainya strategi Project Imperium, yang melibatkan perombakan bisnis perusahaan, sejak mundur dari bisnis handset beberapa tahun lalu.

John merupakan pemimpin terkemuka dan terbukti dalam industri teknologi. Sebelum bergabung dengan BlackBerry, ia menjabat sebagai Chairman dan CEO Sybase, sejak tahun 1997 selama 15 tahun, di mana ia mengembangkan dan memimpin reinvensi perusahaan dari perusahaan teknologi yang sudah matang dan tumbuh lambat menjadi inovator dengan pertumbuhan tinggi senilai lebih dari $1,5 miliar.

Di bawah arahannya, Sybase menjadi penyedia terkemuka solusi mobilitas perusahaan dan perdagangan selular, mencapai profitabilitas selama 55 kuartal berturut-turut.

John sebelumnya memegang serangkaian posisi eksekutif di Siemens Nixdorf, Pyramid Technology, Unisys dan Burroughs, di mana ia memulai karirnya sebagai seorang insinyur.

Baca Juga: Penyebab Utama Nokia Bangkrut, Apakah Karena iPhone dan BlackBerry?

John lulus dari Brown University magna cum laude dengan gelar sarjana teknik elektro dan gelar master di bidang teknik elektro dari California Institute of Technology.

Di luar urusan perusahaan, John aktif terlibat dalam hubungan internasional. Dia telah bersaksi di depan Kongres mengenai hubungan dagang AS-Tiongkok.

John menjabat sebagai dewan direksi The Walt Disney Company dan Wells Fargo. Dia aktif dalam komunitas nirlaba, dan juga merupakan wali dari Caltech, anggota CFR, wali nasional The First Tee dan Gubernur San Francisco Symphony.

Di bawah kendali John, BlackBerry baru ini telah memisahkan divisi IoT dari bisnis keamanan sibernya, dan divisi IoT diharapkan dapat berjalan secara independen sebagai entitas baru.

Setelah bertahun-tahun berjuang dan gagal bersaing dengan ponsel pintar Android dan iPhone Apple, BlackBerry meninggalkan bisnis perangkat keras pada tahun 2016.

Mereka kemudian mencapai kesepakatan lisensi dengan pembuat perangkat yang berbasis di Tiongkok, TCL Communication, dan menjual paten dan aset terkait selulernya ke berbagai perusahaan, termasuk Huawei.

Prem Watsa, Direktur Utama dewan direksi, mengatakan bahwa pencapaian Chen “dalam menyelamatkan BlackBerry dan memposisikannya kembali sebagai perusahaan perangkat lunak dengan keamanan siber dan teknologi IoT terdepan sangatlah luar biasa”.

Setelah melepas bisnis handset, saat ini BlackBerry Limited terutama merupakan penyedia layanan Keamanan Siber dan Internet of Things (IoT).

Transformasi yang terbilang cukup radikal itu, membuat kinerja Blackberry semakin membaik. Perusahaan kini mulai menangguk keuntungan, setelah sempat merugi.

Rekor kerugian Blackberry tercatat sebesar 372 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,8 triliun dalam kuartal kedua tahun fiskal yang berakhir pada 31 Agustus.

Angka tersebut menurun dari laba sebesar 51 juta dollar AS (Rp 660 miliar) yang tercatat pada kuartal yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan turut menyusut hingga hanya sepertiganya menjadi 334 juta dollar AS.

Namun setelah sempat terseok-seok, perusahaan yang berbasis di Waterloo, Kanada, mulai bisa tersenyum. Mereka baru-baru ini melaporkan total pendapatan (pendahuluan) FY2023 sebesar $656 juta, dengan pendapatan IoT sebesar $206 juta dan pendapatan Keamanan Siber sebesar $418 juta.

Baca Juga: Android Bakal Ditinggalkan Para Produsen Smartphone China

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU