Kamis, 18 Juli 2024

Australia Keluarkan Protokol Baru, Paksa Raksasa Teknologi Menindak ‘Konten Berbahaya’

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Pengawas internet Australia ingin memaksa raksasa teknologi untuk menindak materi pelecehan anak palsu dan “konten pro-teror” di bawah protokol baru yang dikembangkan di seluruh industri di negara tersebut.

Seperti dilansir AFP, Komisioner eSafety Australia Senin (20/11) mengatakan bahwa standar yang diterapkan akan mengharuskan perusahaan teknologi berbuat lebih banyak untuk mengatasi konten yang sangat berbahaya, termasuk materi “pelecehan seksual terhadap anak-anak sintetis” yang dibuat dengan kecerdasan buatan.

Regulator mengatakan mereka terpaksa turun tangan setelah memberi waktu dua tahun kepada industri teknologi untuk mengembangkan kodenya sendiri.

Kode-kode ini “gagal memberikan perlindungan yang memadai”, kata Komisaris eSafety, dan tidak memiliki “komitmen yang kuat untuk mengidentifikasi dan menghapus materi pelecehan seksual terhadap anak-anak”.

Standar baru ini, yang telah dirilis untuk konsultasi dan masih memerlukan persetujuan parlemen, akan berdampak pada perusahaan seperti Meta, Apple dan Google.

“Kode dan standar terdepan di dunia ini mencakup konten online terburuk dari yang terburuk termasuk materi pelecehan seksual terhadap anak-anak dan konten pro-teror,” kata Komisaris eSafety Julie Inman Grant, mantan karyawan Twitter.

Baca Juga: News Media Bargaining Code: Aturan yang Wajibkan Google Bayar Kompensasi Kepada Media-media Australia

Aturan tersebut akan berlaku untuk situs web, layanan penyimpanan foto, dan aplikasi perpesanan, kata Inman Grant.

“Fokus kami adalah memastikan industri mengambil langkah-langkah yang berarti untuk mencegah penyebaran konten yang sangat berbahaya seperti materi pelecehan seksual terhadap anak-anak.”

Upaya Australia sebelumnya untuk meminta pertanggungjawaban raksasa teknologi terbukti sulit untuk ditegakkan.

Sebelumnya negeri kanguru itu, telah meloloskan “Undang-Undang Keamanan Online” yang inovatif pada 2021.

Beleide ini menjadi ujung tombak upaya global untuk meminta pertanggungjawaban raksasa teknologi atas apa yang diunggah pengguna di media sosial.

Namun upaya untuk menggunakan kekuatan baru ini kadang-kadang ditanggapi dengan sikap acuh tak acuh.

Komisaris eSafety mendenda X milik Elon Musk sebesar Aus$610.500 (US$388.000) awal bulan ini, dengan mengatakan bahwa perusahaan tersebut gagal menunjukkan bagaimana mereka menghapus konten pelecehan seksual terhadap anak-anak dari platform tersebut.

Namun X – platform yang sebelumnya merupakan Twitter itu – mengabaikan batas waktu pembayaran denda, sebelum melancarkan tindakan hukum untuk membatalkannya.

Baca Juga: Bidik Google dan Big Tech Lainnya, Australia Susun Regulasi Baru Pembayaran Digital

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU