Musim Dingin Kini Membelenggu Samsung

Samsung

Selular.ID – Raksasa Korea Selatan Samsung mengungkapkan bahwa permintaan produk-produk elektronik dan teknologi telah melemah sepanjang 2022. Sementara pemulihan tidak secepatnya yang bisa dilakukan.

Malahan Samsung memperkirakan menurunnya permintaan produk-produk teknologi bakal terus berlanjut pada 2023.

Prediksi tersebut diungkapkan langsung oleh Han Jong-hee, saat gelaran CES pada 5 Januari 2023 di Las Vegas, AS.

Wakil Ketua dan Co-CEO Samsung Electronics itu, menyebutkan lonjakan suku bunga dan inflasi akan membebani permintaan produk konsumen di 2023. Meski permintaan menurun, Han memperkirakan pasar akan kembali pulih pada paruh kedua tahun ini.

Seperti dilaporkan The Wall Street Journal (WSJ), Han Jong-hee mengatakan bahwa perusahaan melihat penurunan ekonomi sebagai peluang untuk lebih mengintegrasikan rangkaian perangkat yang terhubung dengan perangkat lunak yang ramah pengguna.

Han saat ini memimpin divisi DX yang baru dibentuk pada Desember 2021. Divisi ini menggabungkan IT dan Komunikasi Selular (berganti nama menjadi MX) dan grup Elektronik Konsumen.

Menurut Han, merger tersebut menyelaraskan kedua grup dengan tujuan mengembangkan produk terhubung yang bekerja dengan mulus satu sama lain.

Baca Juga: Permintaan Menurun, Laba kuartalan Samsung Anjlok ke Level Terendah Dalam 8 tahun Terakhir

Dalam gelaran CES di Las Vegas yang digelar mulai pekan lalu, chaebol Korea Selatan itu, meluncurkan hub rumah pintar yang memungkinkan pengguna mengontrol perangkat dari jarak jauh di sekitar rumah seperti lampu, kunci, dan AC.

Pelanggan dapat menggunakan handset atau tablet Galaxy mereka untuk terhubung ke SmartThings Station, yang akan diluncurkan pertama kali di Korea Selatan dan AS pada Februari mendatang. Hub tersebut juga dapat digunakan sebagai pengisi daya nirkabel.

Meski yakin permintaan akan pulih pada pertengahan tahun, Samsung saat ini harus menelan pil pahit. Imbas harga chip memori yang turun dan melemahnya penjualan smartphone, laba Samsung pada Q4-2022 diperkirakan amblas 58% tahun-ke-tahun menjadi KRW5,9 triliun ($4,6 miliar).

Reuters melaporkan, pencapaian itu merupakan level terendah Samsung dalam delapan tahun terakhir, mengutip data Reinitiv SmartEstimate dari 21 analis.

Hasil yang tidak menggembirakan itu, sebenarnya tidak mengejutkan. Karena sebelumnya, dalam panggilan pendapatan Q3  (Oktober 2022), chaebol yang berbasis di Seoul itu, memperingatkan ketidakstabilan ekonomi makro yang berkelanjutan dapat memberikan tekanan pada ASP (average selling price).

Saat itu laba bersih Q3 perusahaan menukik sebesar 23,6% menjadi KRW9,4 triliun. Pertumbuhan pendapatan juga melambat menjadi 3,8% (YoY).

Di tengah perjuangan dunia melawan inflasi yang meroket, pergerakan kurs yang bergejolak, melonjaknya suku bunga, dan perang Rusia – Ukraina yang berkepanjangan, para raksasa teknologi dunia, termasuk Samsung, berusaha mencari pijakan baru.

Perusahaan Teknologi Banyak yang Babak Belur

Tak dapat dipungkiri, iklim yang memburuk tengah melanda perusahaan teknologi di seluruh industri.  Sehingga pelemahan kinerja, sejatinya tak hanya diderita Samsung.

Banyak raksasa teknologi lainnya juga menderita pelambatan sehingga berujung PHK.

Seperti yang ditempuh Meta, Twitter, dan Microsoft. Meta diketahui telah memangkas 15.000 karyawan. Begitu pun Twitter yang telah mengurang lebih dari 4.000 karyawan. Sedangkan Microsoft 1.000 karyawan.

Nasib lebih buruk dialami Amazon. Perusahaan teknologi asal AS itu terbilang paling boncos alias babak belur. Seperti tercemin dari pencapaian perusahaan pada kuartal III-2022.

Tercatat, pendapatan operasional Amazon anjlok 48,98% secara tahunan karena kebiasaan berbelanja konsumen yang berubah pasca-pandemi dan melonjaknya inflasi yang memangkas daya beli.

Berdasarkan laporan kinerja di kuartal III-2022, Amazon mengungkapkan pendapatan operasional turun menjadi US$ 2,5 miliar.

Padahal di kuartal III-2021, pendapatan Amazon mencapai US$ 4,9 miliar. Dengan pendapatan yang anjlok 48,98%, laba bersih Amazon juga ambles 21,87% menjadi US$ 2,9 miliar di kuartal III-2022. Berbanding terbalik karena laba bersih Amazon di kuartal III-2021 sebesar US$ 3,2 miliar.

Dikutip dari TechCrunch (28/10), Amazon mencatatkan kerugian operasional sebesar US$ 0,4 miliar di Amerika Utara pada kuartal III 2022. Padahal di periode yang sama tahun lalu, Amazion masih mencatat keuntungan operasional hampir US$ 1 miliar.

Secara internasional, kinerja Amazon juga lebih buruk, mencatat kerugian operasional sebesar US$ 2,5 miliar, dibandingkan kerugian US$ 900 juta di kuartal III 2021.

Memburuknya kinerja memaksa Amazon untuk mem-PHK karyawan. Tak tanggung-tanggung, raksasa e-commerce yang berbasis di Seattle, Washington itu, lagi-lagi melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK kepada 18 ribu karyawannya. Salah satu yang terbesar dalam sejarah industri teknologi di dunia.

Seperti halnya Samsung dan Amazon, kinerja Intel juga tidak sedang baik-baik saja. Pasar PC Global global memang sedang mengalami pelambatan dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut laporan firma riset IDC, pengiriman PC global turun 15,3 persen dari tahun ke tahun, menjadi 71,3 juta unit pada kuartal II-2022.

Baca Juga: Laba Q4 Samsung Menurun karena Penjualan Smartphone Lemah

Kondisi ini juga membuat Intel sebagai perusahaan semikonduktor terdampak. Analis memprediksi pendapatan Intel akan turun 15% pada kuartal III-2022.

Sementara itu, Intel sendiri menaksir penjualan pada 2022 sebesar 11 miliar dolar AS (Rp 169 triliun), angka yang lebih rendah dari target yang ditetapkan perusahaan.

Seperti halnya Amazon, Intel juga berencana melakukan PHK ribuan karyawannya. PHK disebut sudah dilakukan pada Desember 2022. Beberapa divisi menjadi sasaran, termasuk divisi penjualan.

Rencana tersebut kabarnya akan mempengaruhi hingga 20% pegawai perusahaan. Dalam laporan Bloomberg,  Intel disebutkan memiliki 113.700 karyawan pada Juli 2022.

Berbeda dengan para raksasa tersebut, sejauh ini Samsung belum berniat mengambil kebijakan drastis. Para karyawan sejauh ini belum terdampak, meski penjualan melesu akibat menurunnya permintaan dari dua divisi utama, smartphone dan semikonduktor.

Terakhir kali Samsung memangkas karyawan pada 2015. Saat itu sebanyak 10% karyawan di kantor pusat harus meninggalkan Samsung karena menurunnya penjualan, imbas produk baru mereka yang gagal menarik minat konsumen.

Pernah mem-PHK karyawan, bukan tidak mungkin Samsung akan kembali mengambil kebijakan serupa. Apalagi jika kondisi ekonomi tidak membaik. Membuat perusahaan harus mengecangkan ikat pinggang.