India Masih Berusaha Lindungi Produsen Smartphone Lokal, Bagaimana dengan Indonesia?

Smartphone India

Selular.ID – Dalam beberapa hal, Indonesia dan India memiliki banyak kesamaan. Kedua negara berada di empat besar pasar smartphone teratas di dunia.

Dengan daya serap mencapai lebih dari 150 – 160 juta unit per tahun, India mengalahkan Amerika Serikat sebagai pasar smartphone terbesar kedua di dunia. India hanya kalah oleh China, yang mampu menyerap lebih dari 200 juta smartphone setiap tahunnya.

Sementara dengan permintaan mencapai 50 – 60 juta unit per tahun, Indonesia duduk di peringkat ke empat, pasar smartphone global.

Baik India maupun Indonesia, permintaan ponsel yang tinggi didorong oleh pergeseran pengguna, dari feature phone  ke smartphone.

Hal ini merupakan imbas penetrasi jaringan 4G oleh operator selular, yang kini lebih banyak mengandalkan pemasukan dari layanan data, di tengah menurunnya penggunaan basic service (voice dan SMS).

Baca Juga: Kolaborasi dengan Brand Fashion Lokal, Free Fire Hadir di Festival Shopee

Kehadiran 4G memang mengubah drastis kebiasaan pengguna. Mengakses media sosial, membalas email, selancar di dunia maya, meng-upload/download foto atau dokumen kerja, bermain game, menonton video online dengan kualitas HD, serta beragam aktifitas lainnya, telah menjadi kebiasaan baru, terutama pada generasi milenial.

Ini adalah lompatan yang luar biasa, mengingat beberapa tahun  lalu, masyarakat masih terbiasa dengan layanan telekomunikasi dasar.

Keinginan untuk tetap terhubung dalam jaringan internet, dan akses pada layanan data, membuat pengguna rela menggantikan ponsel jadul (jaman dulu) yang minim fitur, dengan smartphone yang dapat menunjang beragam aktifitas sehari-hari.

Namun karena daya beli yang terbatas, pasar smartphone di kedua negara, didominasi segmen menengah ke bawah (mid to low end).

Alashil, smartphone dengan rentang harga di bawah Rp 2,5 juta ($200) terbilang dominan. Sesuai laporan IDC, segmen gemuk ini diperkirakan mencapai 2/3 dari total pasar secara keseluruhan.

Itu sebabnya, demi menggaet lebih banyak pangsa pasar, vendor pun berlomba-lomba menggarap segmen menengah bawah. Meski persaingan terbilang sangat ketat.

Strategi itu sejalan dengan upaya memperkuat segmen menengah atas dan premium yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi.

Pasar di segmen menengah atas memang terus meningkat, karena pengguna semakin membutuhkan perangkat yang lebih baik. Terutama dari sisi fitur, kapasitas penyimpanan, kamera yang lebih baik, dan inovasi teknologi lainnya, meski konsumen harus membayar lebih mahal.

Selain permintaan yang tinggi dan dominannya segmen menengah bawah, landscape pasar smartphone India dan Indonesia juga terbilang mirip, di mana vendor-vendor China kini semakin dominan.

Berdasarkan laporan IDC, sepanjang kuartal kedua 2022, top five vendor smartphone di India adalah: Xiaomi (20,4%), Realme (17,5%), Vivo (16,9%), Samsung (16,3%), dan Oppo (11,5%). Sisa sebanyak 17,5% dikerubungi oleh merek-merek lain.

Sedangkan top five vendor smartphone di Indonesia sepanjang kuartal I-2022 versi IDC, adalah: Samsung (23,3%), OPPO (20,2%), vivo (17,1%), Xiaomi (14,6%), dan Realme (12,3%).

Sementara versi Counterpoint menyebut Oppo adalah jawara pasar smartphone Indonesia pada Q1-2022 dengan raihan 22,3%, disusul Vivo (20,6%), Samsung (17,7%), Xiaomi (14,3%) dan Realme (11%).

Baca Juga: Nelangsa Brand Smartphone Lokal, Tak Hanya di Indonesia Tapi Juga di India

Kuatnya Penguasaan Pasar Brand-Brand China

Dengan permintaan yang tinggi setiap tahunnya, sejatinya pasar smartphone India dan Indonesia masih terbuka lebar bagi pemain lainnya. Namun suka tak suka, merek-merek asal China kini semakin berotot.

Kuatnya dominasi brand-brand China, terlihat dari penguasaan pasar yang terus meningkat. Posisinya juga nyaris tidak berubah sejak lima tahun terakhir.

Seperti halnya Indonesia, satu-satunya brand di luar China yang berada di peringkat atas pasar smartphone India hanya Samsung.

Namun nasib Samsung di Indonesia masih lebih baik. Meski terlempar dari posisi puncak pada akhir 2019, chaebol Korea itu kini mampu merebut kembali predikat sebagai vendor nomor satu, sesuai laporan IDC Q1-2022.

Sedangkan India, sejak digusur Xiaomi pada 2018, Samsung tak mampu bangkit kembali. Alih-alih kembali merebut posisi market leader, Samsung justru terpeleset ke posisi empat, sesuai laporan IDC Q2-2022.

Nasib lebih miris menimpa brand lokal. Dilibas brand-brand China, vendor lokal kini tak mampu berbuat banyak. Hal ini tak hanya terjadi di Indonesia namun juga di India.

Melongok ke belakang, sepanjang era 3G (2007 – 2014), brand-brand lokal cukup berjaya di Tanah Air. Siapa tak kenal Nexian. Brand lokal ini pernah menggamit sekitar 20% pangsa pasar pada 2007. Penguasaan Nexian hanya kalah dari Nokia yang saat itu menjadi penguasa pasar.

Begitu pun dengan Andromax. Brand yang menjadi ujung tombak Smartfren dalam menjaring pengguna CDMA itu, pernah meraih 15% pangsa pasar pada 2013. Menjadikan Andromax pemain yang disegani.

Selain Nexian dan Andromax, dua brand lokal lain yang pernah meraih kesuksesan di pasar dalam negeri adalah Advan dan Evercoss. Sementara merek lain yang juga pernah mencuri perhatian masyarakat, adalah Polytron, Mito, Axioo, Asiafone, HiCore, SPC Mobile dan HiMax.

Baca Juga: Implementasi Produk Lokal, Telkom Sosialisasikan P3DN di Lingkungan BUMN

Halaman berikutnya

India Bakal Larang Brand China Bermain di Segmen Low End..