Buntut Blokade Jaringan 5G, Huawei Seret Swedia ke Pengadilan Arbritase

Buntut Blokade Jaringan 5G, Huawei Seret Swedia ke Pengadilan Arbritase
Buntut Blokade Jaringan 5G, Huawei Seret Swedia ke Pengadilan Arbritase

Selular.ID – Huawei Technologies mengatakan pihaknya telah memulai proses arbitrase terhadap Swedia di bawah Grup Bank Dunia, Minggu (30/1/2022).

Ini adalah babak baru pertikaian keduanya, setelah Swedia melarang raksasa teknologi China itu meluncurkan produk berteknologi 5G.

“Keputusan otoritas Swedia untuk mendiskriminasi Huawei dan mengecualikannya dari peluncuran 5G telah secara signifikan merugikan investasi Huawei di Swedia, yang melanggar kewajiban internasional Swedia,” kata perusahaan China itu dalam sebuah pernyataan kepada Agence France-Presse.

Oleh karena itu, perusahaan telah “memulai proses arbitrase” di bawah Pusat Internasional untuk Penyelesaian Perselisihan Investasi (ICSID) Grup Bank Dunia.

“Terhadap Kerajaan Swedia menyusul sejumlah tindakan yang diambil oleh otoritas Swedia yang menargetkan langsung investasi Huawei di Swedia dan mengecualikan Huawei dari peluncuran produk dan layanan jaringan 5G di negara ini,” tambah Huawei.

Baca Juga: Huawei Bersama Ditjen Diktiristek Kolaborasi Bangun Talenta Digital

Huawei tidak merinci kerusakan apa yang dicarinya. Namun menurut penyiar publik SVT, jumlah kerugian awal yang diderita raksasa China itu, mencapai sekitar 5,2 miliar kroner Swedia (US$550 juta), dan bisa jadi jauh lebih tinggi.

Seperti diketahui, menyusul Inggris pada pertengahan 2020, Swedia menjadi negara kedua di Eropa dan pertama di Uni Eropa yang secara eksplisit melarang operator jaringan menggunakan peralatan Huawei dalam pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk menjalankan jaringan 5G.

"Buntut

Negara Nordik itu juga memerintahkan Huawei untuk melepas peralatan yang sudah terpasang paling lambat 1 Januari 2025.

Setelah banding, pengadilan Swedia mengkonfirmasi keputusan oleh Otoritas Pos dan Telekomunikasi Swedia pada Juni 2021.

Keputusan tersebut membuat hubungan antara Swedia dan China tegang. Beijing memperingatkan pelarangan terhadap Huawei dapat memiliki “konsekuensi” bagi perusahaan-perusahaan negara Skandinavia di China, mendorong raksasa telekomunikasi Swedia dan pesaing Huawei Ericsson, takut akan pembalasan.

Faktanya, dinamika politik yang melibatkan China dan Swedia, telah membuat Ericsson menjadi korban dari perseteruan kedua negara.

Baca Juga: Huawei Bersama Ditjen Diktiristek Kolaborasi Bangun Talenta Digital

Seperti dilaporkan Mobile World Live, China menyumbang sekitar 10% dari pendapatan Ericsson pada tahun lalu, tetapi turun tajam setelah Swedia melarang Huawei dari pembangunan jaringan 5G, dengan alasan risiko keamanan.

Tuduhan yang dibantah keras oleh Huawei karena tanpa disertai bukti nyata.

Per September 2021, Ericsson hanya mendapatkan sekitar 2% dari kontrak 5G dari China Mobile, padahal sempat menggenggam 11% kontrak pada 2020.

Vendor yang berbasis di Stockholm itu, juga hanya memperoleh 3% saham dalam kontrak radio 5G dari dua operator lainnya, China Telecom dan China Unicom.

Ericsson, yang pernah menjadi pemasok utama peralatan telekomunikasi di China, mengatakan pada Juli lalu bahwa pendapatan pada Q2-2021 di negara itu turun hampir 60% dari tahun lalu.

Belakangan seperti dilaporkan oleh Reuters, Ericsson mengatakan tidak lagi mengandalkan tender 5G di China yang sebelumnya diharapkan akan dimenangkan.

Sejatinya, Ericsson telah memperingatkan bahwa bisnisnya di China dapat terancam oleh ketegangan geopolitik jika otoritas Swedia melarang Huawei memasok peralatan ke jaringan 5G.

Baca Juga: Huawei Siapkan Startup Berbasis Kecerdasan Artifisial

Vendor yang berbasis di Oslo itu, telah berkampanye selama berbulan-bulan menentang larangan tersebut.

Sayangnya lobi-lobi yang dilakukan oleh Ercisson tak mengubah pendirian pemerintah Swedia.

Larangan itu tetap berlaku dan telah ditegakkan di pengadilan.