Red Hat Ungkap Amunisi Operator Berperang Melawan OTT

Red Hat Ungkap Amunisi Operator Berperang Melawan OTT

Jakarta, Selular.ID – Seiring berkembangnya era digital dan meluasnya akses internet, trafik data operator kini didominasi layanan dari penyedia konten. Bukan rahasia lagi bahwa pertumbuhan pendapatan untuk komunikasi tradisional dan layanan konektivitas telah melambat atau bahkan menurun.

Lanskap kompetisi telah berubah di mana penyedia layanan konten sering kali mengancam peluang ekspansi pendapatan service provider. Untuk itu, operator harus terus berinovasi dalam transformasi digital.

Pada sesi media briefing yang digelarn virtual Kamis (16/12/2021) Ben Panic, Senior Director, Telco Vertical, Red Hat APAC, mengungkapkan, open source dapat membawa kekuatan inovasi komunitas kepada service provider dan ini adalah komponen penting dalam transformasi digital mereka.

“Kita berada di ambang perubahan besar dalam 25 tahun sejarah industri telekomunikasi, yaitu ketika jaringan telekomunikasi beralih ke 5G. Ini memungkinkan aliran pendapatan yang baru, memberikan peluang yang nyata bagi operator untuk memonetisasi aset mereka,” papar Ben memulai sesi.

Dunia saat ini adalah tentang data dan tengah mengalami perubahan lanskap dengan hadirnya 5G. Teknologi 5G bukan hanya tentang latency dan bandwith, tapi tentang network slicing, edge, dan komunitas ISV yang akan mengembangkan berbagai aplikasi baru. Di sini terbuka peluang bagi para operator di mana asset mereka—edge dan network footprint—akan memungkinkan mereka bekerja dengan komunitas ISV dan mengembangkan aplikasi-aplikasi bisnis yang bisa mereka hadirkan ke market.

Peluang-peluang seperti itu tidak terjadi ketika kita beralih dari 3G ke 4G. Sekarang, Ben melanjutkan, kita melihat lahirnya teknologi telemedicine disupport oleh rendahnya latensi di jaringan 5G. Aplikasi-aplikasi industri yang khusus, seperti di industri keamanan, penambangan, dan manajemen armada semuanya sedang dikembangkan dan digunakan.

Menurut Ben, ini benar-benar momentum yang menyenangkan bagi operator, mereka dapat mengembangkan aplikasi khusus yang baru untuk industri dan memanfaatkan jaringan mereka. “Walau begitu, tetap ada tantangan,” ucap Ben menekankan.

Asosiasi GSM, kelompok lobi global untuk operator jaringan mobile, telah merekomendasikan pada Maret lalu bahwa pemerintah Indonesia harus mengizinkan operator untuk menempati spektrum frekuensi rendah, menengah, dan tinggi untuk “memberikan cakupan yang luas dan mendukung berbagai kasus penggunaan,” bagi jaringan 5G. Namun pemerintah mengatakan bahwa operator seluler membutuhkan alokasi spektrum setidaknya 2,047 Mhz di berbagai pita frekuensi. Saat ini, pemerintah hanya mengalokasikan 737 Mhz untuk operator telekomunikasi. Artinya, pemerintah harus merelokasi spektrum 1.310 MHz, hampir dua kali lipat dari kapasitas saat ini, dan menegosiasikan kembali ketentuan penggunaan spektrum dengan pemegang spektrum itu saat ini.

Di samping itu, Ben melanjutkan, kecepatan beradaptasi 5G mungkin juga tidak merata, mengingat ada 17.000 pulau di Indonesia dan ini membutuhkan perubahan bertahap. Namun Indonesia sangat positif terhadap berbagai peluang yang ditawarkan oleh 5G.

“Jadi bukan rahasia lagi bahwa pertumbuhan pendapatan untuk komunikasi tradisional dan layanan konektivitas telah melambat atau bahkan menurun. Lanskap kompetisi telah berubah di mana penyedia layanan konten sering kali mengancam peluang ekspansi pendapatan service provider. Open source dapat membawa kekuatan inovasi komunitas kepada service provider dan ini adalah komponen penting dalam transformasi digital mereka,” terangnya.

Ben memaparkan ada 3 pilar untuk melakukan transformasi ke digital service provider (DSP): Digital Networks, Digital engagement dan operasional, dan Transformasi sistem pendukung bisnis.

Apa yang dilakukan edge computing adalah menjembatani gap antara janji jaringan 5G dan kapabilitas jaringan yang ada sekarang untuk memenuhi peningkatan demand untuk layanan yang mampu memberikan pengalaman yang lebih baik. Edge computing akan mengakselerasi inovasi, di mana aplikasi dan service akan dibangun di berbagai cloud provider, dan menciptakan peluang bagi perusahaan telco untuk tak sekadar memberikan jaringan.

Jaringan edge adalah perpanjangan dari NFVI Red Hat yang berbasis Red Hat OpenStack Platform. Dengan distributed compute node (DCN) di Red Hat OpenStack Platform 13, kita sekarang dapat menjalankan sejumlah kecil node komputasi di jaringan edge sambil mengelolanya dari pusat. Ini membantu mencegah operasional yang mengalami silo sambil membuka peluang workload mobilitas di seluruh jaringan. Langkah menuju cloudification jaringan ini didukung melalui OpenShift yang memungkinkan operator meluncurkan solusi yang sudah containerized di berbagai tipe cloud tanpa refactoring perangkat lunak yang diperlukan.

Menurut Ben, ada banyak use case edge yang sedang dikembangkan di market, tidak hanya memanfaatkan jaringan 5G tetapi juga edge. Use case inilah yang akan mendorong pertumbuhan dan peluang bagi operator. Keselamatan dan keamanan adalah tema umum di market edge saat ini.

“Sebagai contoh di pertambangan, mereka menjalankan operasi 24×7 365 hari setahun, pekerja mengendarai mesin besar dan ada peluang untuk mengurangi insiden di tambang dengan memanfaatkan kendaraan otonom dan kendaraan jarak jauh. Semua ini membutuhkan jaringan latensi sangat rendah yang didukung oleh 5G,” tutup Ben.