Dampak Kerasnya Persaingan dan Kurangnya Pasokan Chip, Pendapatan Xiaomi Meleset Dari Perkiraan

Kurangnya Pasokan Chip, Pendapatan Xiaomi Meleset Dari Perkiraan

Jakarta, Selular.ID Xiaomi melaporkan kenaikan pendapatan kuartal ketiga yang lebih kecil dari perkiraan sebesar 8,2% karena pertumbuhan penjualan smartphone terhenti di tengah persaingan yang semakin ketat dengan para pesaing.

Reuters melaporkan, saham Xiaomi tercatat turun hampir 7% pada pembukaan pasar pada hari Rabu (1/12). Vendor elektronik yang mendapatkan sebagian besar pendapatannya dengan menjual handset selular, mengatakan pendapatan smartphone hanya naik tipis 0,4% menjadi 47,8 miliar yuan ($7,49 miliar) dalam tiga bulan hingga 30 September.

Namun pengiriman smartphone turun 5,8% pada tahun ini di kuartal ketiga menjadi 43,9 juta unit. Vendor yang berbasis di Beijing itu, menunjuk kekurangan chip global sebagai penyebab utama penurunan.

Pada panggilan pendapatan, Presiden Xiaomi Xiang Wang mengatakan bahwa perusahaan “bekerja keras” untuk mendapatkan pasokan untuk handset 4G di pasar luar negeri.

Wang memperkirakan kekurangan itu akan berlanjut hingga paruh pertama tahun depan, meskipun dia masih mengantisipasi Xiaomi akan “mempertahankan pertumbuhan yang sangat tinggi” pada 2022.

Penjualan keseluruhan naik menjadi 78,06 miliar yuan pada kuartal Juli-September, meleset dari perkiraan pasar 79,20 miliar yuan dari Refinitiv.

Xiaomi yang telah berhasil merebut pangsa pasar di China setelah anjloknya kinerja Huawei yang terkena sanksi AS, baru-baru ini kehilangan posisi tidak hanya dari penjual teratas Oppo dan Vivo, tetapi juga oleh vendor yang sebelumnya merupakan sub brand Huawei, Honor.

Menurut laporan Canalys, Honor suskes melewati Xiaomi untuk meraih posisi nomor tiga dalam hal pangsa pasar smartphone di China pada kuartal Juli – September 2021.

Pengiriman Xiaomi di China hanya tumbuh 4% tahun-ke-tahun pada periode tersebut, kata Canalys. Secara keseluruhan penjualan smartphone di pasar China turun 5%.

Xiaomi telah menanggapi persaingan dengan mendorong agresif ke pasar ritel. Bulan lalu, perusahaan membuka toko ke 10.000 di China, dan berkomitmen untuk melipatgandakan jumlah itu dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan.

Di luar bisnis smartphone, pada Maret lalu, perusahaan mengumumkan bakal menghabiskan $10 miliar untuk memasuki pasar kendaraan listrik (EV). Xiaomi menargetkan dapat meluncurkan produksi massal EV pada paruh pertama 2024.

Xiaomi juga menghasilkan uang dengan menjual iklan online dan jenis perangkat keras konsumen lainnya. Pertumbuhan unit layanan internet, yang menghasilkan uang terutama dengan menempatkan iklan di berbagai aplikasi, melonjak 27% YoY.

Reuters melaporkan, Xiaomi memperoleh laba 5,18 miliar yuan dari bisnis iklan internet, sebagian besar sejalan dengan ekspektasi analis rata-rata sebesar 5,09 miliar yuan.