Kembali Kucurkan Dividen Sejak 2017, Simak Kinerja Indosat Dalam 10 Tahun Terakhir

Indosat

Jakarta, Selular.ID – Kinerja yang kembali moncer membuat Indosat Ooredoo memutuskan untuk mengeluarkan dividen bagi pemegang saham pada tahun ini. Operator selular terbesar kedua di Indonesia itu, akan membagikan total dividen sebesar lebih dari Rp 9,4 triliun atau 1.748 per lembar saham.

Dividen diumumkan dalam dua bentuk terpisah. Pertama, dividen tahunan berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Indosat Ooredoo sebesar lebih dari Rp 4,5 triliun atau Rp 828 per lembar saham.

Kedua, Dividen Interim berdasarkan kinerja keuangan sembilan bulan tahun 2021 sebesar Rp 4,9 triliun atau Rp 920,14  per lembar saham.

Dalam sembilan bulan pertama tahun 2021, total pendapatan Indosat Ooredoo meningkat 12 % year-on-year (YoY) menjadi Rp 23 triliun. Pendapatan selular naik 10,3% YoY menjadi Rp 18,8 triliun. EBITDA juga meningkat 22,7% YoY mencapai Rp 10,4 triliun karena kombinasi pertumbuhan top-line dan fokus berkelanjutan pada efisiensi biaya operasional.

“Ini membantu memberikan pertumbuhan margin EBITDA sebesar 4,0 bps YoY, menjadi 45,1%. Indosat Ooredoo juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp 5,8 triliun,” terang Direktur Utama Indosat Ooredoo, Ahmad Al-Neama

Ini adalah kali pertama Indosat kembali membagikan dividen. Tercatat terakhir kali operator yang sudah memutuskan merger dengan Tri Huthcison itu membagikan keuntungan kepada para pemegang saham pada 2017.

Saat itu Indosat Ooredoo yang dipimpin oleh Alexander Rusli,  mengalokasikan 35% dari laba bersih 2016 untuk pembagian dividen sebesar Rp 385 miliar atau Rp 71,18 per lembar saham.

Memang jika dibandingkan kompetitor lain, seperti Telkom misalnya, Indosat terbilang jarang memberikan dividen. Pasalnya, pencapaian operator yang identik dengan warna kuning dan merah ini terbilang turun naik.

Tengok saja kinerja perusahaan sejak 10 tahun terakhir. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, operator yang dimiliki Qatar Telecom itu tak selalu mencetak laba.

Sebagai berikut: laba Rp 1,1 triliun (2011), laba Rp 0,5 triliun (2012), rugi Rp 2,7 triliun (2013), rugi Rp 1,8 triliun (2014), rugi Rp 1,2 triliun (2015), laba 3,94 triliun (2016), laba 1,1 triliun (2017), rugi 2,4 triliun (2018), laba 1,56 triliun (2019), dan rugi 716,72 miliar (2020).