spot_img
BerandaNewsSecurityGoogle: Hampir 90% Pengguna Internet Pakai Sandi Lemah

Google: Hampir 90% Pengguna Internet Pakai Sandi Lemah

-

Jakarta, Selular.ID – Di Indonesia, hampir 2 dari 3 pengguna internet pernah mengalami pelanggaran data pribadi atau mengenal orang yang pernah mengalaminya. Meski begitu, lebih dari 92% responden yang disurvei mengaku memiliki kebiasaan online yang kurang aman.

Laporan di atas berdasarkan survei atas permintaan Google, dan dilakukan oleh agensi riset pasar YouGov, dengan responden sebanyak 13.870 di 11 pasar Asia Pasifik.

Tujuannya untuk mempelajari kebiasaan digital yang kurang aman dan membantu meningkatkan perhatian untuk lebih berhati-hati menjelang hari belanja tahunan terbesar, 11.11.

Menurut hasil penelitian tersebut, mereka membagikan sandi kepada orang lain, menggunakan sandi yang sama untuk berbagai layanan, dan membuat sandi yang mudah ditebak.

Amanda Chan, Product Marketing Manager Google Indonesia menjelaskan, kebiasaan yang masih banyak dilakukan dan berisiko terhadap keamanan sandi, yaitu, penggunaan ulang sandi.

Dalam survei itu banyak pengguna internet membagikan sandi kepada orang lain, menggunakan sandi yang sama untuk berbagai layanan, dan membuat sandi yang mudah ditebak. Ada 89% pengguna masih mempertahankan menggunakan sandi lemah.

“Saat kita mengorbankan keamanan demi kemudahan dengan membagikan sandi kepada orang lain, menggunakan sandi yang sama untuk berbagai layanan, dan membuat sandi yang mudah ditebak,” terang Amanda dalam virtual Shop Safer with Google, (3/11/21).

Menurutnya, selama pandemi, aktivitas belanja online melalui e-commerce meningkat pesat dan rata-rata pengguna internet saat ini memiliki 25% lebih banyak sandi dari pada sebelum pandemi. Rata-rata sekarang orang memiliki sekitar 80 sandi. Jumlah ini sangat banyak untuk diingat.

Penelitian Google juga menjelaskan bahwa 79% responden di Indonesia menggunakan sandi yang sama untuk beberapa situs, dengan 2 dari 5 orang mengaku melakukannya untuk hingga 10 situs yang berbeda.

Di antara kelompok ini, 40% mengatakan bbahwa mereka bertindak demikian karena khawatir tidak bisa mengingat sandi, sedangkan 30% beralasan demi kemudahan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, separuh dari responden lokal juga mengaku memakai sandi yang mudah ditebak dengan memadukan hal-hal yang paling gampang diretas. Mulai dari tanggal penting, nama pasangan, nama hewan peliharaan, hingga kode pos.

Bahkan hampir 1 dari 4 orang mengaku menyimpan sandi dalam aplikasi Catatan di ponsel, yang umumnya tidak dienkripsi secara default.

Hal ini tentunya akan memunculkan masalah lain, yaitu para pengguna ulang sandi akan dua kali lebih rentan menjadi menjadi korban pencurian data keuangan online.

Dalam penelitian ini menemukan bahwa 3 dari 5 responden membagikan sandi kepada teman atau keluarga. Khususnya untuk akun platform streaming, layanan pesan-antar makanan, dan situs e-commerce.

Untuk transaksi online, 3 dari 4 orang mengaku pernah melakukan pembelian di halaman yang tidak ditandai dengan simbol aman.

Baca Juga:Pemahaman Akan Keamanan Data Pribadi Masih Menjadi Tantangan  

Padahal, hal itu sangat berisiko karena memberikan kesempatan kepada penipu untuk mencuri informasi dan melakukan pembelian dengan uang mereka.

Selain itu, 74% responden yang menyimpan informasi keuangan secara online juga membagikan sandi kepada teman dan keluarga.

Hal tersebut juga meningkatkan kerentanan terhadap pelanggaran data pribadi karena sandi mereka digunakan di beberapa perangkat.

 

Artikel Terbaru