spot_img
BerandaNewsFeatureJalin Kemitraan Sejak 2014, Xiaomi Kini Bagaikan “Ayam Bertelur Emas” Bagi Erajaya

Jalin Kemitraan Sejak 2014, Xiaomi Kini Bagaikan “Ayam Bertelur Emas” Bagi Erajaya

-

Jakarta, Selular.ID – Setelah menunggu selama enam tahun, Xiaomi akhirnya mampu menjadi penguasa baru pasar ponsel di Indonesia.  Berdasarkan laporan lembaga riset pasar dan teknologi Canalys, vendor yang berbasis di Beijing itu, untuk kali pertama menjadi merek smartphone nomor satu pada kuartal kedua 2021.

Tercatat, lima besar vendor smartphone di Tanah Air sepanjang April-Juni 2021 adalah Xiaomi (28%), Oppo (20%), Samsung (18%), Realme (12%) dan Vivo (12%).

Dalam laporannya, Canalys menyebutkan bahwa Xiaomi mampu melompat dari posisi empat di kuartal sebelumnya ke posisi puncak. Vendor yang identik dengan warna jingga itu, memiliki pangsa pasar sebesar 28%, melonjak sebanyak 112% dibandingkan kuartal sama tahun lalu.

Melejitnya Xiaomi tak lepas dari penjualan sejumlah varian yang diminati oleh masyarakat Indonesia. Canalys mengungkapkan, dari 10 top smartphone di Indonesia sepanjang kuartal kedua tahun ini, Xiaomi mampu mendominasi.

Tanpa menyebut jumlah penjualan, Redmi 9A disebut Canalys sebagai jawara ponsel di Nusantara. Disusul Oppo A54 di posisi runner-up dan Oppo A15 di tempat ketiga. Ponsel ‘murah’ Xiaomi lainnya, Redmi 9C, menduduki posisi terlaris keempat, dengan penjualan yang dicatat Canalys lebih banyak dibandingkan Samsung Galaxy A12 dan Galaxy A02 yang berada di posisi lima dan enam.

Redmi 9T melengkapi daftar trio Redmi 9 series di Top 10 periode April—Juni 2021 di posisi ke delapan. Sementara Vivo Y12s dan Vivo Y20 2021 menjadi ponsel terlaris ketujuh dan buncit (kesepuluh). Sub-brand Xiaomi, Poco, juga mampu mencicipi daftar ponsel terlaris melalui Poco X3 Pro.

Manajer Riset Canalys Ben Stanton, menyebutkan bahwa faktor harga yang ditawarkan oleh Apple, Samsung dan merek-merek asal China, telah mempengaruhi peningkatan pangsa pasar di banyak negara, termasuk Indonesia. Namun bila dibanding dengan Samsung dan Apple, Xiaomi terbilang berani menawarkan produk high end hingga flagship dengan banderol harga entry level.

“Faktor harga juga mempengaruhi permintaan ke pasar massal. Harus diakui, dibandingkan dengan Samsung dan Apple, harga jual rata-rata Xiaomi masih lebih murah 40% – 75%. Jadi, prioritas pengguna akan tertuju ke Xiaomi, sehingga mereka bisa meningkatkan penjualan lewat perangkat terbarunya,” kata Ben.

Ayam Bertelur Emas

Meroketnya kinerja Xiaomi tentu memberikan keuntungan kepada para mitra, terutama mereka yang selama ini berada di garda terdepan penjualan. Dalam hal ini adalah Erajaya Swasembada. Perusahaan yang dipimpin oleh Hasan Aula itu, terus menuai laba meski ekonomi Indonesia melemah imbas pandemi covid-19.

Baca juga :  Sepak Terjang Bank Jago dari Bank Konvensional Bertransformasi ke Bank Digital

Hal itu tercermin dalam laporan keuangan terbaru yang dikeluarkan oleh perusahaan. Tercatat sepanjang semester I-2021, grup retail ponsel yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu, sukes meningkatkan laba secara  signifikan. Tak tanggung-tanggung hampir lima kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, mencapai Rp 558,5 miliar. Meroketnya laba itu, tak lepas dari lonjakan penjualan sebesar Rp 21,4 triliun pada semester 1-2021, naik hingga 47,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga :  A.T Kearney: Ketersediaan Frekwensi Menjadi Tantangan Utama Operator Menggelar 5G

Dengan performa yang sangat baik sepanjang semester pertama tahun ini, Erajaya berpeluang mengulang pencapaian tahun lalu, di mana perusahaan mampu membukukan kenaikan laba lebih dari dua kali lipat.

Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2020, emiten dengan kode ERAA ini mencatatkan laba senilai Rp 612 miliar. Melonjak 107,41% dari laba 2019 senilai Rp 295,06 miliar. Pendapatan ERAA juga tumbuh 3,55% menjadi Rp 34,11 triliun di sepanjang 2020 dari sebelumnya Rp 32,94 triliun pada 2019.

Kini dengan Xiaomi telah berada di posisi puncak, Erajaya seolah memiliki “cash cow”  tak terbatas. Tak percuma perusahaan menjalin kemitraan untuk menjual produk-produk Xiaomi , terutama melalui Erafone, jaringan toko retail milik perusahaan. Kerjasama keduanya bahkan telah terbentuk sejak kali pertama Xiaomi menghadirkan smartphone perdana di Tanah Air, yaitu Redmi 1S yang diluncurkan 27 Agustus 2014.

Dengan ribuan gerai Erafone di berbagai kota di seluruh Indonesia, di tambah Mi-Store, toko-toko khusus yang menjual perangkat Xioami, vendor yang identik dengan harga terjangkau itu, mampu dengan cepat melakukan penetrasi pasar.

Tak dapat dipungkiri, Xiaomi kini bagaikan “ayam bertelur emas” bagi Erajaya. Berkat tingginya laba yang dihasilkan dari Xiaomi, membuat Erajaya semakin leluasa membangun gerai baru.  Hingga kuartal pertama 2021, perseroan telah memiliki 88 titik distribusi dan 1.075 owned retail outlet. Selain itu, perseroan juga memiliki kerja sama dengan 62.000 toko retail pihak ketiga.

Tahun ini Erajaya menargetkan pembukaan 260 sampai 300 gerai baru seiring membaiknya penjualan.  Jumlah retail sebanyak itu, semakin menahbiskan Erajaya sebagai penguasa retail ponsel di Indonesia.

spot_img

Artikel Terbaru