BerandaNewsFeatureAkhir Perjalanan 24 Tahun Simpati, Kartu Prabayar Legendaris Pertama di Asia

Akhir Perjalanan 24 Tahun Simpati, Kartu Prabayar Legendaris Pertama di Asia

-

Jakarta, Selular.ID – Entah apa yang dirasakan oleh dedengkot telekomunikasi Indonesia Garuda Sugardo, saat mendengar Telkomsel akhirnya “melikuidasi” Simpati. Garuda adalah tokoh sentral dibalik kelahiran Simpati pada 1997. Berkat kejeliannya dalam menghadirkan nilai lebih pada Simpati, Telkomsel melesat menjadi operator terbesar di Indonesia yang mampu dipertahankan hingga kini.

Seperti diketahui, seiring dengan pengenalan logo baru Telkomsel pada akhir Juni lalu, bersama dengan dua produk prabayar lainnya (Kartu AS dan Loop), Simpati akhirnya dilebur menjadi Telkomsel Prabayar. Kartu Halo yang merupakan produk pasca bayar juga berganti rupa menjadi Telkomsel Halo. Di sisi lain, Telkomsel tetap mempertahankan by:U yang merupakan digital provider pertama di Indonesia.

Di luar penyederhanaan produk, dileburnya Simpati bukan tanpa sebab. Pasalnya, imbas teknologi 4G LTE yang pertama kali diluncurkan di Indonesia pada akhir 2014, layanan dasar (basic service) seperti voice dan SMS yang sebelumnya mendominasi keseharian pengguna di era 2G dan 3G, kini semakin berkurang. Digantikan oleh data, konten atau aplikasi.

Karena perubahan gaya hidup, di mana pelanggan sudah menjadi “data hungry”, maka segmentasi yang sebelumnya didasarkan pada demografi umum, seperti anak muda, kelompok profesional, dan mass market, menjadi tidak relevan lagi. Dengan kata lain, saat ini yang dibutuhkan semua pelanggan di era digital terutama kelompok milenial, adalah data internet.

Sebelumnya oleh Telkomsel, Simpati didesain sebagai layanan prabayar yang menyasar pengguna profesional. Berkat segmentasi yang tepat, kualitas layanan dan luasnya jaringan yang dimiliki Telkomsel, Simpati terbilang popular dan menjadi lumbung pendapatan terbesar Telkomsel. Meski tarifnya di atas rata-rata kartu prabayar lainnya.

Berbeda dengan Simpati yang menyasar high value costumer, Kartu AS yang diperkenalkan pertama kali pada 2004, membidik masyarakat luas sebagai target pasar. Sehingga tarifnya cenderung lebih murah dibandingkan Simpati.

Sedangkan Loop yang diluncurkan pada 2013, lebih ditujukan untuk konsumen muda. Kehadiran Loop juga merupakan upaya Telkomsel untuk menggaet kalangan milenial yang terus membesar jumlahnya. Selain upaya mengikis persepsi bahwa Telkomsel bukan operator untuk orang tua saja.

Dengan tamatnya riwayat Simpati, Kartu AS dan loop, Telkomsel mengikuti jejak para pesaing yang sudah lebih dulu melakukan penyederhanaan produk. XL Axiata misalnya – di luar Axis (prabayar segmen hemat) – saat ini hanya memiliki dua produk, yaitu XL Prabayar dan XL Pasca Bayar/Prioritas (dulu Xplor). Sebelumnya XL punya Jempol dan Bebas. Kedua produk prabayar itu dilebur menjadi satu pada 2008.

Begitu juga dengan Indosat Ooredoo yang hanya memiliki dua jenis produk. IM3 Ooredoo untuk pengguna prabayar dan Freedom Postpaid (dulu Matrix) untuk pelanggan pasca bayar. Sebelumnya Indosat punya dua jenis prabayar, IM3 dan Mentari. Rebranding perusahaan dari Indosat menjadi Indosat Ooredoo pada 2015, membuat Mentari yang merupakan produk warisan Satelindo, juga tinggal kenangan.

Kini cerita yang sama juga menimpa Simpati. Namun berbeda dengan produk prabayar operator lainnya, sejatinya Simpati memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Simpati adalah pionir sekaligus ikon evolusi industri selular, sejak layanan prabayar pertama kali diperkenalkan di Indonesia 24 tahun lalu.

Berkat kehadiran Simpati, operator lain pun mengikuti jejak Telkomsel. Mereka tak ingin, Telkomsel “berpesta” sendirian. Beragam produk prabayar laris manis dan menjadi standar industri selular di Indonesia hingga saat ini. Karena Simpati juga, jumlah pengguna prabayar di Indonesia sangat dominan. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai lebih dari 95%. Karakteristik pengguna ini, menjadi pembeda Indonesia dengan negara lain, yang umumnya didominasi oleh pelanggan pasca bayar.

Hantu Bad Debt

Namun siapa sangka, dibalik pencapaiannya yang fenomenal, munculnya Simpati sebenarnya dipicu oleh berbagai persoalan yang mendera industri selular nasional. Dinukil dari buku “3 Dekade Industri Selular: When Everything Become Digital” yang diterbitkan Selular Media Group (2016), pada masa-masa awal pertumbuhannya, operator selular sebenarnya mengandalkan penjualan dari kartu pasca bayar sebagai sumber pendapatan.

Begitu pun dengan Telkomsel yang memiliki Kartu Halo. Jumlah pelanggan Kartu Halo terus meningkat setiap tahunnya. Pada akhir 1996, pelanggan Kartu Halo sudah naik tujuh kali lipat dibandingkan 1995. Dari 26.000 menjadi 185.000. Pangsa pasar pun naik dari 12% menjadi 31%. Pertumbuhan signifikan dari Kartu Halo, semakin mendekatkan posisi Telkomsel dengan penguasa pasar saat itu, Satelindo.

Namun memasuki 1997, ditengah peningkatan penjualan Kartu Halo, Telkomsel menghadapi persoalan yang sangat serius, yaitu terus meningkatnya jumlah bad debt atau piutang tak tertagih. Sistem kartu berlangganan selular ala telepon rumah, ternyata juga memicu niat tidak baik dari pelanggan yang mengakibatkan kerugian.

Karena pelanggan membayar di belakang (post paid), banyak pelanggan yang tidak membayar tepat waktu. Bahkan menimbun hutang selama berbulan-bulan. Pelaku bad debt ini terus meningkat hingga mencapai 28% dari total pelanggan Telkomsel, sehingga mempengaruhi kinerja keuangan.

Selain dihadapkan pada pelanggan nakal yang memicu bad debt, ada juga modus operandi yang menjurus kriminal. Misalnya, calon pelanggan memberi data palsu atau data milik orang lain, lalu menghilang seperti hantu. Ini bisa terjadi lantaran saat itu, pengiriman Kartu Halo masih menggunakan jasa pos.

Namun, rupanya hantu bad debt dan modus kriminal tak hanya menjangkiti bisnis selular di Indonesia. Di luar negeri, terutama di Italia dan Afrika Selatan, praktek tak terpuji itu juga kerap terjadi. Guna mengatasi masalah itu, operator terkemuka Italia, TIM (Telecom Italia Mobile), akhirnya memperkenalkan skema berlangganan lain kepada pelanggan, yaitu sistem kartu prabayar (prepaid card). Dengan metode ini, pelanggan diwajibkan membayar terlebih dahulu sebelum menggunakan jasa komunikasi yang ditawarkan TIM.

Sejak diperkenalkan oleh TIM, kartu prabayar langsung meraih popularitas di banyak negara. Direksi Telkomsel sendiri baru mengetahui eksistensi kartu jenis ini ketika bertandang ke GSM Conference di Cannes, Perancis pada tahun itu juga.

Sontak, di benak para direksi, langsung muncul solusi untuk mengatasi kesulitan bad debt, sekaligus mengumpulkan pelanggan dengan “karakter” yang baru, yaitu mereka yang lebih suka mengatur pengeluaran untuk layanan selular dengan membeli pulsa terlebih dahulu.

Tak menunggu lama, Telkomsel pun segera mengirim tim ahli untuk mempelajari kinerja kartu tersebut ke Italia dan Afrika Selatan. Garuda Sugardo yang saat itu menjabat sebagai Direktur Operasional, melakukan manuver cepat. Sepulang dari lawatan, ia memutuskan untuk segera menerbitkan kartu prabayar. Dengan menggandeng Siemens, vendor IN (intelligent network) terkemuka saat itu, Telkomsel menjadi operator selular pertama yang menerbitkan kartu prabayar, tidak hanya di Indonesia namun juga di Asia.

Tak dinyana, animo masyarakat terhadap kartu yang diberi nama Simpati itu sangat tinggi. Sudah begitu, Kartu Perdana Simpati juga terbilang mudah didapat. Pelanggan tinggal datang ke kios-kios selular. Cukup beli kartu sesuai nilai pulsa, pengguna pun bebas menggunakan pulsa yang tersimpan di kartu tersebut sampai habis.

Calling Card Vs Top Up

Di awal penggunaannya, kartu prabayar nyatanya lebih mirip dengan kartu panggil (calling card). Kalau pulsa sudah habis dibuang begitu saja. Sudah begitu lingkup mobilitasnya juga masih terbatas. Kartu Simpati yang diterbitkan pada satu daerah, tidak bisa digunakan di daerah lain. Misalnya, Simpati yang diterbitkan di Jakarta tidak bisa digunakan di Surabaya. Begitu juga sebaliknya.

Kemudian sistem pun berkembang. Ide brilian muncul saat Garuda Sugardo tengah duduk santai dan minum di sebuah warung di Bandung. Ia melihat bagaimana orang minum Coca Cola, lalu mengembalikan botolnya. Botol yang telah kosong, tentu akan diisi lagi oleh minuman yang sama. Demikian seterusnya.

Garuda pun tercenung. Dalam benaknya, pengguna seharusnya bisa mendapatkan kartu yang lebih praktis lagi. Yaitu, hanya perlu membeli sekali kartu perdana Simpati. Jika pulsa yang tersimpan sudah habis, tinggal top up atau isi ulang. Ini memungkinkan nomor ponsel tidak perlu berganti-ganti, sehingga mencegah pemborosan.

Kehadiran Simpati yang bisa diisi ulang pulsa sesuai kebutuhan pengguna, rupanya menjadi angin segar di masyarakat. Kartu prabayar pertama di Indonesia itu, memikat banyak orang dari semua tingkat pendapatan. Prabayar memberikan fleksibilitas, transparansi, serta kontrol keuangan yang lebih baik. Rupanya, banyak pelanggan yang memang berniat untuk mengendalikan pengeluaran untuk kebutuhan selularnya.

Apalagi saat itu daya beli masyarakat Indonesia menurun tajam. Krisis ekonomi yang menghantam dunia pada  1998 berdampak pada Indonesia. Alhasil, gerakan hemat dilakukan di sana-sini. Hal ini tentu saja semakin menguntungkan Simpati. Karena dianggap bisa mengontrol pengeluaran dibandingkan berlangganan cara pasca bayar, Simpati akhirnya menjadi kartu yang paling banyak dicari oleh masyarakat.

Telkomsel pun memahami momen tersebut dengan meluncurkan Simpati Nusantara pada 1998. Untuk mempopulerkan Simpati Nusantara, Telkomsel mengkampanyekan motto “Dengan Simpati, Tetap Terkendali”. Aktris top saat itu Ida Iasha, didaulat sebagai brand ambassador dalam peluncurannya. Alhasil, pasar pun merespon lebih hebat lagi.

Dalam perjalanannya, Telkomsel merilis bermacam paket Simpati. Mulai dengan varian pulsa terendah Rp 50.000, Rp 100.000, hingga yang tertinggi Rp 150.000. Selain perusahan merilis kartu perdana berlabel khusus, seperti Simpati Hoki, Simpati Jitu, Simpati Ekstra, Simpati PeDe, Simpati Freedom, Simpati Max, atau edisi khusus perayaan ulang tahun perusahaan.

Telkomsel juga kerap menghadirkan beragam voucher fisik Simpati dengan banyak tema untuk menarik lebih banyak pelanggan. Seperti olahragawan top, tokoh kartun, super hero, tokoh sejarah, destinasi wisata, dan banyak lagi yang lainnya.

Tak dapat dipungiri, sejak kemunculannya, Kartu Simpati menjelma menjadi primadona dan terus menjadi top of mind di benak konsumen. Meski teknologi selular terus berganti, dari 2G, 3G, hingga 4G.

Kini, setelah 24 tahun melayani pelanggan Telkomsel, dan saat industri selular di Indonesia mulai memasuki era 5G, kiprah Simpati pun akhirnya tinggal sejarah. Dengan beragam benefit yang ditawarkan, kehadiran Simpati sejatinya mampu mengubah landscape industri selular nasional.

Namun, alasan penyederhanaan produk dan booming layanan data saat ini, membuat Simpati dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan pelanggan. Alhasil, dalam mengantisipasi perubahan itu, Telkomsel memilih untuk “menyuntik mati” Simpati. Produk fenomenal itu, kini “bermimikri” menjadi Telkomsel Prabayar.

Memang tak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri. Adios Simpati.

Artikel Terbaru