spot_img
BerandaNewsFeatureMembandingkan Kinerja The Big Three Sepanjang 2020

Membandingkan Kinerja The Big Three Sepanjang 2020

-

Jakarta, Selular.ID – Seperti banyak negara lainnya, pandemi Covid-19 telah membuat ekonomi Indonesia babak belur. Sektor manufaktur dan pariwisata seperti perhotelan dan transportasi tercatat paling terpuruk. Dampak paling terasa adalah meningkatnya angka pengangguran hingga pemangkasan upah tenaga kerja hingga 50% dari upah normalnya.

Kondisi itu tak lepas dari besarnya tekanan yang dihadapi para pelaku usaha dan industri akibat seretnya roda perekonomian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang 2020 hanya sebesar 1,68 persen. Angka ini menjadi inflasi terendah sejak 2014. Pelemahan inflasi terjadi karena penurunan daya beli masyarakat yang tertekan selama pandemi Covid-19. Diperkirakan daya beli masyarakat anjlok sekitar 20% – 30%.

Meski daya beli masyarakat melemah, namun hal itu tak mengurang transaksi pembelian paket internet. Kebijakan pembatasan terhadap masyarakat justru mendorong peningkatan trafik akibat belajar dan bekerja di rumah. Alhasil, banyak kalangan menilai bahwa sektor TIK, termasuk layanan digital dan telekomunikasi tetap menguntungkan karena perubahan perilaku masyarakat.

Namun penilaian bahwa industri telekomunikasi kebal dari krisis, dibantah oleh Dian Siswarini. Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) secara virtual bersama Komisi VI DPR, Senin (11/5/2020), Dirut XL Axiata itu mengatakan seluruh industri sejatinya pasti terdampak oleh Covid-19, tak terkecuali bisnis telekomunikasi. Menurutnya, jika pandemi terus berkepanjangan maka sejumlah tekanan akan dialami oleh operator selular.

Diakui bahwa pandemi telah mendorong peningkatan trafik khususnya pada layanan data. Namun hal itu tak sepenuhnya mengatrol pendapatan. Sebab operator harus mengeluarkan banyak biaya tambahan untuk memastikan kualitas jaringan internet. Tak hanya itu operator juga memberikan banyak kuota gratis, salah satunya untuk akses layanan pendidikan digital sesuai anjuran pemerintah.

Di tengah pendapatan yang kurang optimal karena daya beli melemah, operator juga dihadapkan dengan dinamika kompetisi dan beban biaya operasional yang tetap berjalan selama pandemi atau sepanjang 2020. Alhasil secara umum kinerja perusahaan tidak sebaik yang diperkirakan, termasuk operator tiga besar (the big three) – Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat Ooredoo – yang menguasai 75% pangsa pasar.

Meski kondisi ekonomi melemah dan persaingan pasar yang tetap ketat, bagaimana pun operator tetap dituntut untuk membukukan pertumbuhan dalam pendapatan layanan, ARPU, dan jumlah pelanggan. Bagaimana sesungguhnya pencapaian the big three sepanjang 2020? Inilah rapor ketiga operator selular tersebut.

Telkomsel

Sebagai operator terbesar di Indonesia, Telkomsel terus berupaya mendorong pendapatan dari bisnis digital yang kelak akan menjadi mesin pertumbuhan utama di masa depan. Itu sebabnya, operator yang identik dengan warna merah itu, tak surut dalam membangun BTS, terutama BTS 4G.

Tercatat hingga akhir 2020, anak perusahaan PT Telkom dan SingTel itu, telah membangun 27,7 ribu BTS 4G LTE baru. Saat ini Telkomsel telah memiliki total BTS lebih dari 231 ribu unit dengan 78% di antaranya adalah BTS 3G/4G.

Pembangunan BTS 4G yang massif, terbukti mampu melipatgandakan pertumbuhan trafik data, hingga 43,8% dibanding 2019 menjadi 9.428 petabyte. Lonjakan itu sejalan dengan semakin besarnya kebutuhan layanan data, khususnya dikarenakan perubahan gaya hidup masyarakat akibat pandemi Covid-19.

Trafik data yang tinggi pada akhirnya sukses mengatrol pendapatan Telkomsel, terutama dari layanan digital business. Dengan total pelanggan mencapai 169,5 juta, jumlah pengguna mobile data Telkomsel menembus 115,9 juta atau meningkat 5,2% dibanding 2019. Sepanjang 2020, pendapatan digital business Telkomsel juga tumbuh sebesar 7% menjadi Rp 62,33 triliun.

Alhasil, kontribusi pendapatan dari digital business meningkat menjadi 71,6% dari total pendapatan Telkomsel, dibandikan 63,9% pada tahun sebelumnya. Hal itu menunjukkan telah terjadi pergeseran signifikan, dari bisnis legacy (voice dan SMS) ke layanan digital business.

Laba tahun berjalan dari operasi yang masih berlanjut mencapai Rp 25,06 triliun. Meski begitu, laba sepanjang 2020 itu, sedikit turun dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya Rp 25,79 triliun. Penurunan laba tak lepas dari menyusutnya pendapatan. Sepanjang 2020 pendapatan perusahaan sebesar Rp 87,1 triliun. Padahal pada 2019 menembus Rp 91 triliun.

Pendapatan layanan bisnis digital Telkomsel sejatinya belum mampu menutupi derasnya penurunan pendapatan dari layanan legacy. Perusahaan mencatat penurunan pendapatan layanan legacy hingga Rp 8,01 triliun atau turun 24,6% dari Rp 32,85 triliun pada 2019 menjadi Rp 24,77 triliun pada 2020. Catatan inilah yang membuat total pendapatan Telkomsel pada 2020 turun jika dibandingkan dengan 2019.

Meski dari sisi pendapatan dan laba bersih tidak sebaik tahun sebelumnya, namun operator selular yang kini dipimpin oleh Setyanto Hantoro itu, telah mengatasi beragam tantangan dengan konsisten memperluas ekosistem digital dan menciptakan inisiatif strategis yang diyakini akan mendukung peningkatan layanan dan solusi digital di masa depan. Sehingga perusahaan berpeluang untuk mencetak rebound pada tahun-tahun mendatang.

XL Axiata

Seperti ditegaskan oleh Dian Siswarini, operator selular tidak kebal terhadap krisis ekonomi yang dipicu oleh pandemi Covid-19. Hal ini tercermin dari kinerja perusahaan sepanjang 2020. Tercatat pendapatan XL Axiata mencapai Rp 26,018 triliun, hanya naik tipis 3% YoY.

Alhasil, laba pada 2020 merosot 47,9%, dari Rp 712,58 miliar pada 2019 menjadi Rp 371,6 miliar pada 2020. Akan tetapi, anak perusahaan Axiata Malaysia itu, dapat mencetak laba bersih yang dinormalisasi sebesar Rp 679 milliar. Laba tersebut membuat EBITDA XL Axiata mencapai Rp 13 triliun, meningkat sebesar 31% YoY, tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Di sepanjang 2020, kontribusi pendapatan XL Axiata dari layanan data telah mencapai 92%, meningkat sebesar 10%. Hal ini ditunjang dengan penetrasi smartphone hingga 89% yang merupakan tertinggi secara industri. Di sisi lain, rerata pendapatan per pelanggan atau ARPU campuran meningkat dari tahun sebelumnya Rp 35.000 menjadi Rp 36.000.

Pada sisi jaringan, trafik data sepanjang 2020 juga meningkat 47% yoy, dari 3.320 petabyte menjadi 4.869 petabyte. Peningkatan trafik itu tidak lepas dari bertambahnya jumlah pelanggan dari 56,88 juta pada kuartal III-2020 menjadi 57,89 juta pada kuartal IV-2020.

Seperti halnya Telkomsel, XL Axiata juga terus menggencarkan pembangunan jaringan data. Hingga akhir 2020, pembangunan jaringan 4G sudah mencapai 458 kota/kabupaten dengan lebih dari 54.287 BTS 4G. Sehingga XL Axiata memiliki total BTS lebih dari 144.000 BTS. Jumlah tersebut meningkat 11% dibandingkan 2019.

Demi meningkatkan pertumbuhan, Dian Siswarini menyebutkan bahwa perusahaan akan tetap fokus pada strategi operasional excellence, mendorong digitalisasi bisnis dengan menerapkan otomatisasi dan kesederhanaan.

Ia memperingatkan peningkatan persaingan sejak kuartal terakhir 2020 akan berdampak pada pertumbuhan tahun ini. Dian memperkirakan lingkungan ekonomi hanya akan mulai membaik pada semester kedua 2021.

Indosat Ooredoo

Jika dibandingkan Telkomsel dan XL Axiata, Indosat Ooredoo mencatat kinerja yang jauh lebih baik sepanjang 2020. Tercatat anak perusahaan Qatar Telecom itu, membukukan pendapatan data selular naik pesat sebesar 11,6% menjadi Rp 23,1 triliun dibandingkan 2019 yang senilai Rp 20,67 triliun. Jauh di atas rata-rata industri.

Total pendapatan pada tahun lalu meningkat 6,9% menjadi Rp 27,9 triliun. Alhasil, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga melonjak 16% menjadi Rp 11,4 triliun.

Manajemen Indosat menilai bahwa lompatan kinerja tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan serta fokus perusahaan pada efisiensi operasional. Marjin EBITDA tercatat sebesar 40,9% atau menguat 3,2 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain kinerja apik dari sisi pendapatan, laba, dan EBITDA, Indosat juga mencatat pertumbuhan jumlah pelanggan selular sebesar 1,7% menjadi 60,3 juta pelanggan per akhir 2020. Jumlah pelanggan sebanyak itu, memperkuat posisi Indosat sebagai operator terbesar kedua di Indonesia.

Pendapatan rata-rata per pelanggan(ARPU) juga naik menjadi Rp 31,9 ribu dari sebelumnya Rp 27,9 ribu. Kenaikan didorong oleh peningkatan trafik data yang signifikan hingga 52,8% pada 2020.

Melonjaknya trafik data tak lepas dari gencarnya pembangunan BTS 4G sejak dua tahun terakhir. Tercatat hingga akhir 2020, jaringan BTS 4G Indosat telah mencapai 62.900 unit dibandingkan tahun sebelumnya 48.000 unit.

Berlipat gandanya jumlah BTS 4G, semakin mendorong kualitas jaringan yang dimiliki Indosat. Hal itu tercermin dari meningkatnya pengalaman video sebanyak 55,8% YoY, kecepatan 4G hingga dua kali lipat, dan secara signifikan meningkatkan kecepatan unggah hingga 88,4% YoY.

Pertumbuhan positif yang diraih oleh Indosat sepanjang 2020, menunjukkan bahwa investasi jaringan, inisiatif digital, dan penawaran ke pelanggan telah memberikan hasil yang menguntungkan.

Pencapaian itu sekaligus membuktikan bahwa strategi turn around yang diusung oleh CEO Ahmad Al-Neama, telah berhasil mengembalikan perusahaan ke dalam jalur pertumbuhan. Pasalnya, dua tahun sebelumnya perusahaan masih membukukan kerugian sebesar Rp 2,4 triliun, imbas dari program registrasi prabayar yang dikeluarkan pemerintah.

Pertumbuhan positif yang dicapai perusahaan dalam dua tahun terakhir, menjadi modal berharga bagi Indosat di tengah persaingan yang semakin ketat dan kondisi ekonomi yang belum pulih karena Covid-19.

spot_img
spot_img

Artikel Terbaru