spot_img
BerandaNewsSecuritySerangan Siber Sasar Layanan Keuangan, Waspada!

Serangan Siber Sasar Layanan Keuangan, Waspada!

-

Jakarta, Selular.ID – Seiring pertumbuhan, sektor keuangan  mengalami lonjakan serangan siber dan aktivitas fraud. Sehingga keamanan data menjadi perhatian khusus, terlebih penjahat siber terus mencari kerentanan baru untuk dieksploitasi dengan serangan yang semakin canggih.

Surung Sinamo Country Manager F5, perusahaan penyedia teknologi application security menceritakan pada faktanya berdasarkan laporan F5’s Curve of Convenience 2020 Report: The Privacy Convenience Paradox, “mengungkap hanya sekitar 57% konsumen di Indonesia yang percaya bahwa layanan keuangan cukup efektif dalam hal privasi data dan perlindungan informasi pribadi,” jelasnya, Rabu (3/3).

Baca juga: Pemahaman Akan Keamanan Data Pribadi Masih Menjadi Tantangan  

Sementara berdasarkan Survei Cybersecurity Exposure Index (CEI) 2020 oleh PasswordManagers.co menegaskan dari 108 negara yang dianalisis, Indonesia menempati urutan ke-59, yang menunjukkan bahwa masih ada kebutuhan ruang untuk perbaikan dalam keamanan sibernya.

“Masih banyak serangan siber yang dialami di industri layanan keuangan, dengan bentuk yang umum termasuk pembobolan data, di mana informasi sensitif mulai dari nama nasabah, alamat, hingga rekening bank dan nama ibu kandung bocor. Dimana kemudian data tersebut dijual secara online di dark web atau digunakan untuk melakukan tindakan kriminal lainnya,” lanjutnya.

Selain itu, dari data Security Incident Response Team dari 2017 hingga 2019, F5 Labs juga menganalisis serangan lain yang perlu diantisipasi oleh layanan keuangan dan menemukan peningkatan yang signifikan dalam jumlah serangan yang berhubungan dengan otentikasi dan distributed denial-of-service (DDoS).

Baca juga :  Sejak Mei 2021, Google Blokir Jutaan Email Phising

Baca juga: 80% Masyarakat Indonesia khawatir Keamanan Data Pribadi Miliknya  

“Tren ke depan, serangan DDoS adalah ancaman terbesar bagi organisasi layanan keuangan, dimana terhitung 32% dari semua insiden yang dilaporkan antara 2017 dan 2019. Serangan ini dapat menyebabkan kerusakan dari akun pengguna yang terkompromi hingga gangguan service dari server yang ditargetkan dan tidak diragukan lagi dapat menyebabkan ketidaknyamanan nasabah dan hilangnya kepercayaan mereka kepada perusahaan jasa layanan keuangan,” tandasnya.

Baca juga :  Mengantisipasi Penyanderaan Data di Era Digitalisasi

 

spot_img

Artikel Terbaru