Beranda News Feature Saat India dan Vietnam Bersaing Ketat Memperebutkan Investasi Dari Foxconn dan Samsung

Saat India dan Vietnam Bersaing Ketat Memperebutkan Investasi Dari Foxconn dan Samsung

-

Jakarta, Selular.ID – Kepastian Foxconn Technology untuk memperluas investasi di Vietnam pada akhirnya bukan rumor semata. Pemerintah Vietnam pada Senin (18/1/2021) secara resmi memberikan lisensi kepada raksasa Taiwan itu untuk membangun pabrik baru senilai $ 270 juta. Pabrik tersebut akan digunakan oleh Foxconn untuk memproduksi laptop dan tablet.

Pabrik yang akan dikembangkan oleh Fukang Technology, salah satu unit bisnis Foxconn, akan berlokasi di provinsi Bac Giang, sebelah utara Vietnam. Direncanakan setiap tahun dapat memproduksi delapan juta unit gadget tersebut.

Foxconn yang merupakan Original Equipment Manufacturer (OEM) atau produsen kontrak utama Apple, sejauh ini telah menginvestasikan $ 1,5 miliar di Vietnam. Untuk melipatandakan produksi, perusahaan berencana untuk meningkatkan investasi sebesar $ 700 juta. Selain menggelontorkan dana besar, Foxconn juga akan merekrut lebih  dari 10.000 lebih pekerja lokal pada tahun ini, tambah keterangan pemerintah.

Secara terpisah, media pemerintah melaporkan pada minggu lalu, bahwa Foxconn yang berbasis di Distrik Tucheng (Taipe) itu, juga akan menginvestasikan dana senilai $ 1,3 miliar di provinsi Thanh Hoa, 160 km (99,42 mil) sebelah selatan Hanoi.

Keputusan Foxconn memindahkan beberapa perakitan iPad dan MacBook ke Vietnam dari China diketahui merupakan permintaan Apple, kata seseorang yang mengetahui rencana tersebut pada November 2020. Raksasa teknologi AS itu, berencana mendiversifikasi produksi untuk meminimalkan dampak ketegangan dari perang dagang China – AS, yang merebak sejak Presiden Donald Trump berkuasa di Gedung Putih.

Seperti diketahui, perang dagang Amerika Serikat dan China membuat negeri Tirai Bambu itu terpaksa merelokasi sejumlah investasinya ke negara Asia. Akibat perseteruan dengan China, AS memberlakukan tarif yang tinggi untuk unit yang diimpor dari Tiongkok.

Alhasil, Vietnam adalah salah satu tujuan favorit relokasi perusahaan-perusahaan yang sebelumnya berbasis di China. Beberapa perusahaan multinasional China pun dikabarkan juga hengkang ke Vietnam. Tak hanya Foxconn, Vietnam juga dilirik oleh perusahaan padat karya seperti Xcel Brands dan Man Wah Holding.

Dengan kepastian Foxconn berinvestasi di Vietnam, negeri yang terletak di kawasan Indochina itu, bersaing ketat dengan India dalam memperebutkan kucuran investasi perusahaan-perusahaan yang sebelumnya berbasis di China dan Taiwan.

Booming Pasar India

Untuk diketahui, pabrik Foxconn pertama kali berproduksi di India pada 2015.  Seiring dengan meningkatnya permintaan, Foxconn berencana untuk meningkatkan produksi di negeri anak benua Asia itu.

Sesuai laporan media setempat, pada akhir 2020, Foxconn telah mempresentasikan rencana untuk berinvestasi hingga $5.000 crore di fasilitasnya di Sriperumbudur, dekat Chennai. Saat ini Foxconn sedang dalam pembicaraan dengan pemerintah setempat untuk sejumlah konsesi yang diminta perusahaan.

Seiring dengan meningkatnya permintaan, perusahaan telah merekrut lebih banyak pekerja di wilayah India selatan, dari sebelumnya ratusan menjadi lebih dari 30.000 pegawai.

Foxconn juga telah meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 50 juta unit per tahun. Langkah ini mendukung upaya Apple untuk memindahkan produksi iPhone dari wilayah Tiongkok, sebagai upaya untuk menghindari tarif impor yang diterapkan AS untuk unit dari negara tirai bambu tersebut.

India adalah pasar smartphone terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok. Dibandingkan China yang semakin menurun, India telah muncul sebagai salah satu pasar smartphone yang paling cepat berkembang dalam dekade terakhir.

India bahkan melaporkan pertumbuhan setiap kuartal bahkan ketika pengiriman handset melambat atau menurun di tempat lain secara global. Meski demikian, pasar smartphone terbesar kedua di dunia itu juga tak kebal dari dampak wabah corona.

Dengan PDB per kapita sebesar US$2.170 pada 2020, India adalah negara berkembang yang masyarakatnya punya kecenderungan membeli smartphone entry-level atau mid-range, dengan penguasa pasarnya adalah Xiaomi, diikuti Samsung, Vivo, Oppo dan Realme.

Meski pasar low end terbilang dominan, namun pangsa pasar segmen high end juga semakin meningkat. Sehingga memberi peluang bagi vendor yang membidik segmen ini, seperti Apple dan OnePlus untuk meningkatkan penjualan. Di sisi lain, untuk menjangkau segmen menengah yang juga terus membesar seiring meningkatnya daya beli, Apple juga menyiapkan sejumlah model iPhone lawas yang harganya lebih terjangkau.

Menurut laporan Reuters, Foxconn yang juga dikenal sebagai Hon Hai Precision mempertahankan predikat sebagai produsen elektronik kontrak terbesar di dunia dengan 16 lokasi produksi secara global.

Selain India, vendor yang berbasis di Taipe itu, juga telah berinvestasi besar-besaran di Vietnam selama dua tahun terakhir, meskipun saat ini China masih menyumbang sekitar 70 persen dari penjualannya.

Sejauh ini Apple adalah mitra manufaktur utama Foxconn. Analis memperkirakan vendor AS itu menyumbang lebih dari setengah pendapatan Foxconn. Sejak tiga tahun terakhir, perusahaan telah memproduksi beberapa handset iPhone dan Xiaomi di India.

Seperti dilaporkan Nikkei Asian Review, chairman Foxconn Liu Young mengungkapkan bahwa kapasitas produksinya di Vietnam lebih besar dari India. Tercatat Foxconn telah menginvestasikan total TWD11 miliar ($ 373,2 juta) di India selama 2018 dan 2019 dibandingkan dengan TWD6 miliar di Vietnam.

Investasi Foxconn di Vietnam itu termasuk dana senilai US $ 25,10 juta yang digelontorkan perusahaan, saat mengakuisisi 100 persen saham produsen komponen elektronik setempat, Competition Team Technology melalui anak perusahaan, Foxconn Singapore Pte. Ltd, pada pertengahan 2019.

Anak perusahaan Foxconn yang terdaftar di Hong Kong, FIH Mobile Limited juga berencana untuk memperluas kapasitas produksi di Vietnam. FIH Mobile, vendor perakit ponsel, telah beroperasi di Vietnam sejak membeli sebuah pabrik di sana pada 2016. Perusahaan mengatakan sebelumnya bahwa banyak kliennya ingin mengirimkan barang-barang mereka dari pabrik di negara itu, demi menghindari aturan tarif yang dikenakan AS pada China.

Pabrik Samsung

Selain Foxconn, Vietnam juga menjadi basis produksi utama Samsung. Menurut laporan media setempat, VNExpress, penguasa pasar smartphone global itu, membangun pabrik Vietnam pertamanya pada 2008, dengan sekitar setengah dari semua perangkat sekarang dibuat di negara tersebut.

Pada Maret 2020, chaebol Korea itu mulai membangun pusat R&D senilai $220 juta di Hanoi. Fasilitas R&D  itu akan fokus pada pengembangan teknologi jaringan 5G dan sejumlah teknologi generasi mendatang lainnya.

Langkah tersebut dilakukan vendor, demi memperkuat posisinya sebagai pemain utama di sektor infrastruktur. Dengan tumbuhnya layanan berbasis 5G, Samsung berusaha mengejar ketinggalan dari vendor jaringan utama seperti Huawei, Nokia, Ericsson dan ZTE.

Di sisi lain, unit smartphone Vietnam mengatakan bahwa fasilitas 16-lantai akan menjadikan Samsung terbesar di Asia Tenggara, dengan hingga 3.000 staf akan dipekerjakan ketika pembangunan konstruksi ditargetkan selesai pada akhir 2022. Selain 5G, pusat R&D ini akan fokus pada pengembangan AI, IoT, dan sistem big data. Sebelumnya Samsung menginvestasikan sekitar $17 miliar di Vietnam, menjadikannya sebagai investor luar negeri terbesar di negara itu.

Seperti halnya Foxconn, Samsung juga telah memperluas pabrik mereka di India. Pembangunan baru itu, pabrik tak lepas dari kampanye “Make in India” yang dilakukan PM India Narendra Modi. Kampanye ini sukses meyakinkan Samsung untuk membangun fasilitas manufaktur yang diklaim terbesar di dunia.

Pabrik yang terletak di India utara dan diresmikan pada Juli 2018 itu, bertujuan untuk melipatgandakan produksi handset dan mengamankan posisi teratas di India. Berlokasi di Noida, dekat ibu kota New Delhi, peresmian pabrik dilakukan langung oleh dua petinggi negara. Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (9/7/2018).

Samsung mengungkapkan bahwa fasilitas manufaktur itu, akan dipakai untuk memproduksi seluruh lini ponsel Samsung, mulai dari Android Go yang dibanderol di kisaran 100 dollar AS atau sekitar Rp1,4 juta, hingga kelas flagship seperti Galaxy S Series yang harganya mulai dari Rp11,5 juta.

Associate Research Manager IDC Jaipal Singh, mengatakan bahwa perluasan pabrik baru di Noida, membantu Samsung memenuhi tingginya permintaan domestik. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan layanan data oleh masyarakat India, karena penerapan tarif data murah yang dipicu oleh kehadiran operator baru, Jio Reliance.

Bagi Samsung, langkah ini juga memberikan keuntungan waktu ke pasar (a time to market advantage) atas para rivalnya, terutama vendor China yang selama ini masih mengandalkan fasilitas R&D dan juga produksi komponen di negeri asal mereka.

Meski fokus pada permintaan domestik, Samsung juga akan menggunakan fasilitas tersebut sebagai sarana untuk memenuhi permintaan smartphone global yang mulai merangkak naik, setelah sebelumnya menurun karena pandemi covid-19.

Artikel Terbaru