Beranda News Market Update Persaingan Handset di Kelas Menengah Diprediksi Semakin Ketat

Persaingan Handset di Kelas Menengah Diprediksi Semakin Ketat

-

Jakarta, Selular.ID – GSMA Intelligence menyebut pasar kelas menengah menjadi medan pertempuran utama bagi produsen handset, karena mereka menyesuaikan strategi untuk memperhitungkan pergeseran perilaku konsumen setelah pandemi Covid-19 (virus corona).

Dalam sebuah laporan baru, GSMA Intelligence mengatakan minat konsumen pada 5G sedang meningkat, tetapi dampak ekonomi yang tersisa dari pandemi diperkirakan memperpanjang siklus peningkatan perangkat menjadi tiga tahun dari hanya lebih dari dua tahun. 

Tercatat, pergeseran ini kemungkinan besar akan “menurunkan penjualan secara keseluruhan dalam jangka pendek hingga menengah” dan mendorong vendor untuk lebih bersaing dalam harga daripada fitur.

Rata-rata harga ponsel 5G turun hampir sepertiga antara Q1 2019 dan Q4 2020, dan silikon baru seperti chipset seri 4 berkemampuan 5G dari Qualcomm diharapkan dapat melanjutkan tren dengan memungkinkan vendor untuk meningkatkan kamera dan kemampuan lainnya “tanpa mengeluarkan harga handset dari jangkauan konsumen ”.

Dalam survei terhadap 14.273 pengguna smartphone global, konsumen menyebut daya tahan baterai (72 persen), daya tahan (66 persen), keamanan (65 persen) dan kualitas kamera (54 persen) sebagai prioritas utama untuk smartphone mereka berikutnya, dengan 5G. konektivitas di tempat kelima dengan 34 persen.

GSMA Intelligence menambahkan perangkat yang dapat dikenakan dan layanan dapat membantu produsen handset mendapatkan keunggulan kompetitif, menunjukkan bahwa 21 persen konsumen sekarang memiliki perangkat yang dapat dikenakan dari pembuat ponsel cerdas mereka dan “sebagai hasilnya, lebih setia kepada merek tersebut”.

Dikatakan layanan keamanan digital adalah yang paling diminati, dengan streaming video dan musik, dan penyimpanan cloud juga mendapat peringkat tinggi.

GSMA Intelligence juga mencatat, pembatasan terhadap Huawei di berbagai negara terutama Eropa yang menjadi sekutu AS, menawarkan kesempatan bagi para pesaing termasuk Oppo, Vivo, dan Realme untuk meningkatkan pengiriman smartphone di pasar global.

Alih-alih mampu mengkudeta Samsung, Huawei kini justru berada dalam mode “bertahan hidup”, akibat pembatasan AS yang mencekik pasokan chip yang digunakan dalam ponsel cerdas dan peralatan telekomunikasi. Untuk bisa survive, Huawei bahkan terpaksa harus menjual sub-merek Honor.  

Dengan kondisi yang karut marut, firma riset TrendForce memproyeksi produksi smartphone Huawei sepanjang 2020 hanya akan mencapai 170 juta unit. Angka ini lebih rendah 10% dibandingkan dengan prediksi sebelumnya, yakni 190 juta unit.

Menurunnya permintaan berdampak langsung pada penguasaan market share. Tak tanggung-tanggung, lembaga riset itu memprediksi, Huawei akan kehilangan sekitar 14% pangsa pasar pada tahun ini dan 4% pada 2021 karena pembatasan AS.

Dengan produksi yang menurun drastis, pangsa pasar Huawei dipastikan akan menciut. Alhasil, perusahaan yang didirikan oleh Ren Zhengfei itu diprediksi bakal keluar dari lima besar. TrendForce memperkirakan, peringkat Huawei pada 2021 bakal anjlok ke posisi tujuh dari posisi dua saat ini.

Artikel Terbaru