Beranda News Telco Outlook Ini Dampak Perang Tarif Internet Versi Mastel

Ini Dampak Perang Tarif Internet Versi Mastel

-

Jakarta, Selular.ID – Perang tarif internet yang kembali terjadi di tengah wabah Pandemi Covid-19 menuai kritikan dari berbagai pihak, salah satunya Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel). Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono mengatakan bahwa dalam penentuan tarif internet para provider harus memperhatikan banyak hal. Misalnya kondisi keuangan perusahaan provider itu sendiri, masyarakat selaku pengguna internet, para provider lain dan para stakeholder.

“Persaingan harga layanan telekomunikasi ini bisa mendorong penurunan tarif yang semakin tidak terkendali. Akibatnya bisa terjadi kenaikan payload layanan data. Jika perang tarif ini tidak segera dihentikan, maka akan berdampak pada kinerja keuangan serta kualitas layanan,” ujar Kristiono dalam acara diskusi virtual Digital Telko Outlook 2021 bertema “Aturan Batas Tarif Dapatkah Mendorong Industri Selular Kembali Sehat?” yang digelar Selular Network.

Untuk mengatasi perang tarif tersebut, disampaikan Kristiono sebenarnya Pemerintah sudah mengatur batas bawah dan batas atas tarif layanan telekomunikasi yang dimuat dalam pasal 28 Ayat 1 dan 2 pada Undang-Undang Cipta Kerja. Pasal 28 Ayat 1 menyebutkan bahwa besaran tarif penyelenggaraan jaringan telekomunikasi dan/atau jasa telekomunikasi ditetapkan oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi dan/atau jasa telekomunikasi dengan berdasarkan formula yang ditetapkan Pemerintah Pusat.

Sementara untuk Pasal 28 Ayat 2 berbunyi, Pemerintah Pusat dapat menetapkan tarif batas atas dan tarif batas bawah penyelenggaraan telekomunikasi dengan memperhatikan kepentingan masyarakat dan persaingan usaha yang sehat.

“Tujuan batas bawah dan batas atas tarif telekomunikasi ini untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat, menghentikan perang tarif yang tidak wajar, menjaga keberlangsungan layanan dan perusahaan provider itu sendiri, serta memperbaiki keuangan industri. Meski Pemerintah telah menetapkan batas atas dan batas bawah tarif layanan telekomunikasi, para provider masih banyak pertimbangan dalam menentukan tarif layanan telekomunikasi mereka. Misalnya mereka harus menyesuaikan tarif dengan kualitas layanan yang mereka tawarkan serta menyesuaikan harga layanan mereka dengan kondisi keuangan perusahaan,” papar Kristiono.

Sebelum pandemi, Kristiono menilai penurunan tarif layanan data di Indonesia terus menurun sejak 2014. Tak hanya di Indonesia, di negara lain pun penurunan tarif layanan data terus terjadi. Menurutnya, jika tarif layanan telekomunikasi terus turun, industri jadi tidak sehat.

“Pada kuartal ketiga (Q3) 2020 penurunan tarif sudah mencapai Rp 4,68/Mb. Penurunan tarif yang terjadi di Indonesia merupakan yang kedua terendah setelah India. Tarif layanan data di Indonesia sudah sangat murah, namun lebih mahal dari India. Padahal saat ini layanannya sudah berbasis data,” tutup Kristiono.

Artikel Terbaru