Wednesday, October 21, 2020
Home News Feature Ericsson Vs Huawei: Siapa Bakal Jadi Kampiun 5G?

Ericsson Vs Huawei: Siapa Bakal Jadi Kampiun 5G?

-

Jakarta, Selular.ID – Ada banyak pemain di bisnis infrastruktur nirkabel. Namun terdapat empat vendor besar, yakni Ericsson, Nokia, Huawei dan ZTE. Sejak beberapa tahun terakhir, vendor-vendor itu bersaing ketat memperebutkan pasar terbesar di jaringan 5G.

Kita ketahui, 5G akan menjadi standar baru teknologi selular masa depan. Sehingga memenangkan kontrak 5G, menjadi wajib hukumnya bagi vendor penyedia jaringan, agar bisa tetap bersaing di industri teknologi tinggi ini.

Dilansir dari laman PR News Wire (9/7/2020), pasar infrastruktur 5G global bernilai USD 371,4 juta pada 2017 dan diproyeksikan mencapai USD 58,174 miliar pada 2025. Tumbuh pada CAGR 95,8%, sepanjang 2018 – 2025.

Permintaan akan infrastruktur 5G di pasar global telah meningkat sebagai hasil dari kemajuan teknologi selular. Sejak diluncurkan secara komersial pada awal 2019, 5G telah mencakup tiga jenis layanan utama yang saling terhubung, yaitu IoT (Internet of Things), broadband selular, dan komunikasi kritis.

Kehadiran 5G akan meningkatkan sekaligus memajukan pengalaman selular dengan pengurangan latensi, biaya per bit rendah, kecepatan data yang konsisten dan lebih tinggi. Segmen lain, yakni game real time, AR, VR, dan MR akan berdampak besar karena penerapan 5G.

Dengan hanya melibatkan segelintir pemain besar, struktur pasar industri jaringan cenderung bersifat oligopolis. Karena pemainnya tidak banyak, itu berarti semua vendor memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kontrak 5G di seluruh dunia.

Dalam kajian terbaru dari lembaga riset TrendForce, Huawei diperkirakan akan memimpin pasar mobile base station 5G global pada tahun ini dengan total pangsa 28,5%, naik dari 27,5% dibandingkan 2019.

Posisi kedua diduduki oleh vendor Swedia Ericsson, dengan pangsa pasar 26,5%. Namun perolehan itu turun dari pangsa pasar global sebesar 30% pada 2019.

Vendor asal Finlandia, Nokia diperkirakan hanya mencapai 22% pada 2020, turun dari 24,5%. Begitu pun dengan vendor China ZTE diprediksi meraih pangsa pasar 5% tahun ini, turun dari 6,5% dari tahun lalu.

Pertumbuhan pesat justru dinikmati oleh Samsung. Aksi pembatasan oleh AS dan sekutu-sekutunya terhadap Huawei, memberikan keuntungan bagi Samsung yang sebelumnya masih disebut sebagai anak bawang di industri jaringan. TrendForce memperkirakan, chaebol Korea itu mampu meningkatkan pangsa pasar jaringan 5G global, dari 6,5% tahun lalu menjadi 8,5% pada 2020.

Merujuk pada laporan TrendForce itu, berdasarkan skala dan kehadiran pasar yang sangat signifikan, terlihat jelas bahwa Ericsson dan Huawei bersaing ketat dalam memperebutkan pasar 5G global yang mulai tumbuh secara massif sejak tiga tahun terakhir.

Seperti apa rivalitas keduanya dalam memperebutkan pasar jaringan 5G? Mari kita kulik kekuatan dan juga kelemahan kedua vendor terdekat itu.

Ericsson

Bagi Ericsson, menjadi vendor terbesar di industri 5G, menjadi salah satu pembuktian bahwa perusahaan-perusahaan Eropa masih menjadi kiblat dari industri selular dunia.

Seperti kita ketahui, pasar jaringan telekomunikasi sebelumnya identik dengan vendor-vendor Eropa, khususnya negara-negara Skandinavia. Selama bertahun-tahun, pemain seperti Ericsson, Nokia, Alcatel Lucent (almarhum), Siemens (almarhum) telah menguasai bisnis jaringan sejak era 1G dan 2G.

Namun transisi teknologi ke 3G dan kemudian berlanjut ke 4G, mengubah peta pasar. Dimotori oleh Huawei dan ZTE, vendor China semakin agresif. Strategi harga lebih murah dibandingkan para pesaing, membuat pamor vendor-vendor China dengan cepat melejit.

Wajar jika akhirnya mereka mampu meraih kontrak di banyak negara, baik Asia Pasifik, Afrika, Eropa, AS, Australia, hingga Amerika Latin. Alhasil, dengan memanfaatkan peluang pertumbuhan 4G, hanya dalam satu dekade kemudian, Huawei mampu melibas Ericsson dan Nokia.

Berdasarkan laporan Dell’Oro Group, hingga semester pertama 2020, lima vendor jaringan teratas ditempati Huawei, Nokia, Ericsson, ZTE dan Cisco.

Meski tengah dalam tekanan AS, sebagai market leader, pangsa pasar Huawei justru meningkat menjadi 31% dari 28% pada tahun lalu.

Nokia turun dari 16% tahun lalu menjadi 14%. Sedangkan Ericsson tetap bertahan di 14%. Di sisi lain, market share ZTE meningkat dari 9% tahun lalu menjadi 11%. Vendor asal AS, Cisco turun dari 7% menjadi 6% dalam jangka waktu yang sama.

Meski saat ini pangsa pasar Nokia tidak berbeda dengan Ericsson, namun dari sisi kontrak 5G, Ericsson jauh mengungguli Nokia.

Dalam pernyataan resmi pada Agustus lalu, Ericsson mengumumkan telah meraih perjanjian atau kontrak komersial jaringan 5G ke-100 dengan penyedia layanan komunikasi di seluruh dunia.

Angka tersebut termasuk 58 kontrak yang diumumkan secara publik dan 56 jaringan 5G yang sudah live di lima benua. Sementara Nokia pada Maret 2020, baru meraih 63 kontrak 5G komersial.

Meski telah meraih kontrak 5G secara signifikan, namun bukan rahasia lagi bahwa Ericsson masih terus berjuang secara finansial. Itu sebabnya sejak lima tahun terakhir, vendor yang berbasis di Stockholm itu, telah memulai serangkaian pemotongan biaya dalam upaya untuk membalikkan penurunan tajam dalam kinerja keuangan.

Demi menekan lonjakan biaya operasional, perusahaan terpaksa melakukan rasionalisasi hingga 25.000 pekerja di luar Swedia. Perusahaan juga memfokuskan kembali bisnisnya menjelang booming penyebaran teknologi 5G di pasar global.

Terlepas dari ketidakpastian ekonomi atas wabah virus corona yang melanda dunia sejak awal tahun ini, banyak operator selular telah bergerak maju dengan rencana untuk meningkatkan teknologi jaringan ke 5G. Sehingga mendorong pertumbuhan kontrak fenomenal seperti yang dialami Ericsson.

Peningkatan kontrak tersebut pada akhirnya juga mengatrol pendapatan Ericsson. Seperti dilaporkan Reuters, sepanjang kuartal kedua 2020 Ericsson mampu meraih hasil yang ‘solid’. Perusahaan menerima keuntungan kotor karena mencatatkan persediaan produk sekitar 1 miliar crown ($ 109 juta).

Termasuk pencapaian 1,6 poin persentase, margin kotor naik menjadi 38,2% di kuartal 2-2020 dibandingkan 36,7% di periode yang sama tahun lalu.

Laba operasional naik menjadi 4,5 miliar crown Swedia ($ 495,85 juta) dari 3,9 miliar setahun lalu, mengalahkan perkiraan rata-rata 3,36 miliar crown, menurut jajak pendapat analis Refinitiv. Total pendapatan pada kuartal kedua 2020, naik 1% menjadi 55,6 miliar crown.

Ericsson mengatakan investasi R&D telah menjadikan perusahaan itu sebagai “pemimpin dalam 5G” dengan kinerja yang terbukti dan manfaat biaya kepemilikan bagi pelanggan. Dikatakan investasi strategis akan terus berlanjut di samping percepatan yang disebutkan sebelumnya dalam investasi R&D.

CEO Ericsson Borje Ekholm, mengatakan bahwa pihaknya berusaha mempertahankan target pendapatan dan laba untuk tahun 2020 dan 2022, meskipun pandemi virus corona telah menyebar ke seluruh dunia.

Walaupun mengharapkan peningkatan 10% pada akhir 2022, dan pengeluaran berkelanjutan untuk peluncuran 5G oleh pelanggannya, Ericsson tidak dapat berbuat apa-apa tentang penundaan lelang spektrum di Eropa yang akan menghambat aktivitas bisnisnya di wilayah tersebut.

Salah satu ketidakpastian adalah apakah COVID-19 akan mendorong penyedia layanan di bawah tekanan penjualan untuk mengurangi investasi yang direncanakan di jaringan selular tahun ini.

Di negara-negara yang melakukan lockdown, sebagian besar pertumbuhan lalu lintas data terjadi pada jaringan fixed broadband, dan beberapa operator mungkin tidak lagi melihat 5G sebagai prioritas langsung.

Agar negara-negara Eropa tetap kompetitif, Ekholm menyerukan agar investasi infrastruktur digital diprioritaskan dan ketersediaan spektrum dipercepat di seluruh benua.

“Saya yakin Eropa harus memprioritaskan tindakan untuk mendorong investasi dalam infrastruktur digital, termasuk menurunkan biaya dan mempercepat ketersediaan spektrum,” ujar Ekholm.

Huawei

Karena tekanan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya,  Huawei telah menghadapi banyak krisis global sejak beberapa tahun terakhir. Namun persoalan geopolitik tidak menghentikan raksasa teknologi China itu untuk menikmati beberapa kesuksesan.

Vendor yang berbasis di Shenzen itu melaporkan pendapatan sebesar 454 miliar yuan (sekitar $ 64,9 miliar) untuk paruh pertama 2020. Tumbuh sekitar 13,1% lebih banyak dibandingkan 2019. Bahkan margin laba bersih meningkat dari 8% menjadi 9,2% selama periode tersebut.

Meskipun Huawei tidak merinci angka-angka yang saat ini belum diaudit, perusahaan yakin pandemi COVID-19 tidak merusak seperti yang terjadi pada perusahaan lain. Teknologi komunikasi dan informasi telah menjadi “alat penting” untuk memerangi virus dan memacu pemulihan ekonomi, kata perusahaan yang berbasis di Shenzen itu.

Bagaimana pun, dampak pandemi membuat kinerja perusahaan sedikit menurun. Pada kuartal 1-2020, Huawei hanya mencatat kenaikan pendapatan 1,4% dari tahun ke tahun.

Pandemi telah memengaruhi seluruh industri selular, menyebabkan perusahaan memperlambat produksi, menutup toko ritel, dan kehilangan beberapa penjualan perangkat. Huawei tampaknya sangat terpukul selama kuartal pertama 2020, ketika pandemi mencapai puncaknya di negara asal perusahaan itu, China.

Perlu dicatat juga bahwa penurunan itu terjadi di tengah tekanan terus-menerus dari AS. Dengan alasan keamanan dan spionase, AS memperpanjang perintah larangan perdagangan terhadap Huawei hingga Mei 2021.

Langkah tegas AS kemudian diikuti oleh Inggris dan Perancis. Kedua negara itu menganulir keputusan sebelumnya yang mengizinkan peralatan Huawei terlibat di bagian non-inti dari jaringan 5G.

Begitu pun dengan Italia. Operator terbesar di negara sphageti itu, Telecom Italia telah mengeluarkan Huawei dari tender peralatan 5G untuk jaringan inti yang sedang dipersiapkan untuk dibangun di Italia dan Brasil.

Bukan tidak mungkin, negara-negara lain Eropa seperti Jerman dan Polandia akan mengikuti jejak yang sama. Padahal, pasar jaringan di kawasan Eropa selama ini menjadi sumber utama pendapatan Huawei.

Huawei telah memproduksi banyak peralatan yang digunakan di jaringan 2G, 3G, dan 4G di Inggris dan Eropa. Vendor dengan logo mirip bunga merah menyala itu, memegang 65% pangsa pasar jaringan akses nirkabel 2G dan 4G untuk operator EE (Everything Everywhere) di Inggris. Huawei juga menempati 50% pangsa pasar jaringan 2G, 3G dan 4G Vodafone, operator selular terbesar di Eropa.

Tak dapat dipungkiri, bahwa hari-hari pertumbuhan pesat yang sebelumnya diraih oleh Huawei mungkin sudah berlalu. Patut dicatat, meskipun perusahaan meraih pertumbuhan 13,1% pada semester pertama 2020, namun pencapaian itu jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan pendapatan sebesar 39% yang diraih setahun sebelumnya.

Tak dapat dipungkiri, aksi pemblokiran oleh pemerintah AS membuat Huawei berada dalam tekanan. Ketua rotasi Huawei Eric Xu, mengakui bahwa 2019 adalah tahun paling sulit yang pernah dihadapi perusahaan.

Hal itu diperberat dengan adanya wabah virus corona yang mengganggu rantai pasokan. Xu memperkirakan pada 2020 dampaknya akan lebih keras, sehingga membuat hampir mustahil untuk secara akurat memperkirakan kinerja perusahaan.

Sebelumnya pada Juni 2019, pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei, memperingatkan bahwa berbagai pembatasan oleh AS akan memangkas hingga USD30 miliar potensi pendapatan selama dua tahun ke depan. Reng pun memprediksi, revenue perusahaan diperkirakan akan anjlok menjadi sekitar US$ 100 miliar pada 2020.

Meski didera virus corona dan sulit keluar dari tekanan AS, Ren menegaskan bahwa hal itu tidak mengurangi upaya perusahaan untuk mengembangkan teknologi sendiri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor AS.

Itu sebabnya, Ren mengatakan bahwa Huawei akan kembali meningkatkan anggaran riset dan pengembangan (R&D) pada 2020 sebesar $ 5 miliar menjadi lebih dari $ 20 miliar. Angka itu, bakal menempatkan Huawei sebagai perusahaan terbesar kedua di dunia dalam alokasi investasi R&D.

Sekedar diketahui, investasi R&D raksasa teknologi China itu pada 2018 sudah menempati peringkat ke-4 di antara perusahaan teknologi global. Melampaui Microsoft, Apple dan Intel.

Menurut statistik Uni Eropa, investasi litbang Huawei pada 2018 sebesar 101,5 miliar yuan ($ 15,1 miliar). Meninggalkan Samsung, Google, dan Volkswagen.
Sepanjang 2018, perusahaan meraih 721,2 miliar yuan dalam pendapatan penjualan global, menghabiskan 14,1 persen dari total pendapatan untuk anggaran R&D.

Pada 2019, ditengah tekanan yang semakin kuat dari AS dan sekutu-sekutunya, pengeluaran litbang Huawei meningkat 30 persen menjadi CNY131,7 miliar, atau 15,3 persen dari total pendapatan. Tercatat total pengeluaran R&D Huawei dalam sepuluh tahun hingga akhir 2019 sudah melebihi CNY600 miliar.

Investasi sebesar itu diklaim telah membantu Huawei mempertahankan posisi terdepan dalam teknologi 5G. Pada awal Februari 2020, Huawei menyebutkan telah menandatangani 91 kontrak 5G komersial dan mengirimkan lebih dari 600.000 unit antena aktif 5G ke berbagai negara.

Meski Huawei meyakini dapat mengatasi tekanan AS, namun tak dapat dipungkiri bahwa kinerja perusahaan telah melambat. Tanpa akses ke pasar startegis seperti Eropa dan AS, perusahaan mungkin tidak memiliki banyak ruang untuk tumbuh.

Pencapaian pada kuartal pertama 2020, telah menunjukkan hal tersebut. Tercatat pendapatan naik hanya 1,4%, turun tajam dibandingkan peningkatan 39% setahun sebelumnya. Laba bersih di raksasa China itu juga turun hampir 8%, menjadi hanya sekitar $ 1,9 miliar.

Beruntung, Huawei masih dapat mengandalkan pasar domestik. Pasca peluncuran komersial pada Oktober 2019, China saat ini tengah berpacu dengan penyebaran 5G-nya sendiri.

Sebagai pemasok domestik terbesar, Huawei kemungkinan akan menjadi penerima manfaat utama. Perusahaan telah mendapatkan sekitar 58% dari tender China Mobile senilai sekitar $ 5,2 miliar.

Dengan China menargetkan peluncuran sekitar setengah juta mobile base station 5G pada akhir 2020, China Telecom dan China Unicom, dua operator nasional lainnya, diharapkan mengumumkan kontrak multi-miliar dolar pada waktunya.

Namun pencapaian yang luar biasa di dalam negeri tak ada artinya jika pasar global menjadi terbatas. Apa boleh buat, jika AS tidak mengendurkan tekanannya, Huawei terancam jadi “Jago Kandang”.

Latest