Fitch: Pengembalian Spektrum Jadi Hambatan Utama Merger Operator

Jakarta, Selular.ID – Persaingan harga yang ketat di Indonesia dan akses yang tidak merata ke sumber daya spektrum, karena negara ini mempertimbangkan peluang 5G, semakin mendorong seruan terjadinya merger di antara lima operator seluler.

Lembaga pemeringkat Fitch Solutions menyatakan pasar sangat terfragmentasi, dengan operator yang lebih kecil mengalami kerugian karena pertumbuhan pelanggan telah gagal mengimbangi investasi, membuat langkah konsolidasi menjadi pilihan yang kuat.

Pekan lalu, Axiata Group, perusahaan induk dari XL Axiata yang merupakan operator terbesar ketiga di Indonesia, dilaporkan mengadakan diskusi dengan semua pesaingnya, kecuali pemimpin pasar Telkomsel, tentang kemungkinan kesepakatan pertukaran-saham.

Tiga pemain lainnya adalah Indosat Ooredoo, 3 Hutchison Indonesia dan Smartfren, yang tahun lalu mengakuisisi pelanggan Bolt setelah lisensi operator BWA itu dicabut karena ketidakmampuan membayar BHP frekwensi.

Lembaga pemeringkat yang berbasis di New York itu, mengatakan bahwa manfaat utama konsolidasi adalah mengurangi duplikasi investasi jaringan, khususnya di daerah pedesaan, sekaligus menurunkan biaya penjualan dan saluran pemasaran nasional.

Selain itu, sumber daya spectrum yang terbatas dapat didistribusikan secara lebih merata di antara lebih sedikit pemain.

Saat ini Telkomsel, Indosat dan XL masing-masing memiliki setidaknya 90MHz spektrum di tiga hingga empat band, dua pemain terkecil – 3 Hutchinson Indonesia dan Smartfren – memiliki 50MHz atau kurang hanya dalam dua band.

Meski akan mendorong kesehatan industri, namun Fitch menilai terdapat banyak hambatan dalam proses konsolidasi operator, baik merger dan akuisisi (M&A).

Hambatan utama terhadap M&A adalah peraturan yang mewajibkan bahwa spektrum bukan bagian dari kesepakatan, dan pemerintah enggan untuk mereformasi kebijakan tersebut.

Berdasarkan aturan tersebut, setelah proses merger, bandwidth harus dikembalikan ke regulator. Setelah melakukan beragam kajian, termasuk menyangkut keseimbangan pasar, pemerintah melalui Kementerian Kominfo kemudian memutuskan berapa banyak untuk dikembalikan kepada pihak pengakuisisi.

Sekedar diketahui, konsolidasi antar operator di Indonesia terakhir terjadi pada 2014. Saat itu XL mengakuisisi Axis, operator yang sebagian besar sahamnya dimiliki Saudi Telecom, dengan nilai transaksi sebesar 865 juta dollar AS atau sekitar Rp9,8 triliun. Namun dalam aksi korporasi itu, XL tidak sepenuhnya menikmati frekwensi yang sebelumnya dimiliki Axis.

Operator yang identik dengan warna biru itu harus mengembalikan spektrum selebar 10 MHz di frekuensi 2.100 Mhz. Pasca merger, XL hanya menguasai 22,5 Mhz di rentang spektrum 900 MHz dan 1.800 MHz (2G), serta 15 Mhz di 2.100 MHz (3G).

Adopsi 5G

Di sisi lain, Fitch Solutions berpendapat pengurangan jumlah operator juga akan mengurangi hambatan pemerintah dalam mengadopsi 5G. Pasalnya, para pemain yang tersisa dapat meningkatkan skala dan sumber daya keuangan untuk menyebarkan teknologi baru.

Meski memiliki prospek yang sangat baik, karena besarnya potensi pengguna, Fitch mencatat, bagaimanapun, layanan 5G tidak mungkin diluncurkan dalam waktu dekat di Indonesia. Apalagi sejauh ini, pemerintah menunjukkan sedikit urgensi untuk mendorong diterapkannya layanan 5G, karena ketersediaan spectrum.

Dalam satu kesempatan Menkominfo Johnny G. Plate menyebutkan bahwa lisensi akan diberikan pada 2020, namun politisi dari Partai NasDem itu belum mengidentifikasi pita spectrum yang kelak digunakan.

Diketahui, spektrum 3.5GHz, banyak digunakan di seluruh Asia untuk 5G. Namun di Indonesia, spectrum tersebut masih dikuasai oleh oleh operator TV berbayar, MNC Vision sampai 2024.

Dengan kondisi tersebut, Fitch menilai akan sulit bagi pemerintah meluncurkan layanan 5G sampai 2022. Fitch menambahkan adopsi 5G akan lambat sampai operator memperluas cakupan setelah “cukup memonetisasi” investasi 4G yang telah dikeluarkan sejak layanan ini pertama kali diperkenalkan pada 2015.