Sunday, June 7, 2020
Home News Feature Saat Huawei “Terpaksa” Jadi Jago Kandang

Saat Huawei “Terpaksa” Jadi Jago Kandang

-

Jakarta, Selular.ID – Pertumbuhan pendapatan Huawei terhenti di Q1 karena pandemi Covid-19 (coronavirus) dan pembatasan perdagangan yang diberlakukan pemerintah AS sejak pertengahan tahun lalu.

Tercatat, pendapatan raksasa telekomunikasi China itu pada kuartal pertama 2020 hanya naik 1,4 persen tahun-ke-tahun menjadi CNY182,2 miliar, turun dari 39 persen dibandingkan Q1 2019.

Meski demikian, vendor jaringan nomor satu di dunia itu adalah pemenang besar, terutama di pasar dalam negeri karena operator selular China terus meningkatkan belanja modal (capex) untuk mempercepat perluasan jaringan 5G ke seluruh negeri.

Pada awal Januari 2020, Huawei memenangkan kontrak pertama senilai CNY28,4 miliar ($ 4,01 miliar) dari China Mobile, operator terbesar di China sekaligus dunia. Menurut laporan Bloomberg, China Mobile meningkatkan capex tahun ini sebesar 8,3 persen menjadi CNY180 miliar, dengan rencana untuk menyebarkan 300.000 BBTS 5G secara nasional.

Bersama dengan dua operator selular lainnya (China Unicom, China Union) China Mobile akan mengalokasikan capex tak kurang dari CNY335 miliar sepanjang 2020, peningkatan yang signifikan dari tahun sebelumnya.

Pada akhir Maret lalu, Huawei kembali memenangkan mayoritas (57,3 persen) dari tender tahap kedua 5G dari China Mobile, senilai total CNY37.1 miliar, memberikan vendor kontrak CNY21.3 miliar untuk menyebarkan sekitar 132.000 BTS.

Selain itu, Huawei juga memperoleh kesepakatan jaringan transmisi data 5G CNY5,6 miliar dari operator yang sama, mengambil 56 persen dari seluruh kontrak. Huawei dan ZTE juga membagi kontrak manajemen data 5G dari China Mobile senilai CNY1 miliar.

Bloomberg menambahkan, China Mobile juga memesan sekitar 70.000 5G smartphone dan 140.000 5G perangkat Wi-Fi portabel dari Huawei pada tahun ini. Setelah China Mobile, China Unicom dan China Telecom diharapkan segera mengumumkan hasil tender 5G pada Mei ini.

Rival Huawei, ZTE yang juga bermarkas di kota Shenzhen selatan, juga mendapatkan porsi yang lebih besar dari pembangunan jaringan China Mobile, setelah Nokia dinyatakan tidak masuk ke dalam daftar kontrak yang mencakup penyebaran di 28 provinsi di seluruh China.

Meski di bawah Huawei, ZTE mengambil 28,7 persen dalam kesepakatan pembangunan 2G fase 2 China Mobile, naik dari angka satu digit untuk dua kontrak jaringan inti 5G yang diberikan operator pada Juni 2019. Kedua kontrak tersebut diperkirakan bernilai US$ 2 miliar.

Sebelumnya pada awal April lalu, Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (MIIT) China menerbitkan dokumen yang yang berisikan seruan kepada seluruh provinsi untuk mempercepat pembangunan jaringan 5G, serta aplikasi yang diperlukan untuk meminimalkan dampak dari penyebaran virus corona.

Arahan tersebut muncul ketika China tetap melanjutkan ekspansi jaringan 5G, yang sempat terganggu ketika wabah koronavirus menghentikan pembangunan stasiun pangkalan pada Februari lalu, serta pabrik-pabrik serat optik berhenti berproduksi.

Dalam satu bagian dari arahan yang mencakup 18 poin, MIIT mendesak otoritas lokal untuk membangun sistem medis pintar 5G dengan “mengoptimalkan serta mempromosikan aplikasi 5G dalam perang melawan epidemi coronavirus baru”.

Arahan itu juga meminta pihak berwenang untuk mengembangkan aplikasi 5G dalam realitas virtual untuk sektor industri dan mobile terkait.

Dilansir dari Reuters, Beijing telah lama mempertimbangkan membangun 5G harus menjadi prioritas strategis, menyusul pembentukan jaringan 3G yang relatif terlambat. MIIT mengatakan negara itu telah membangun 130.000 BTS sepanjang 2019.

Analis memperkirakan angka itu akan meningkat menjadi lebih dari 600.000 unit pada akhir 2020 karena investasi yang terus berlanjut meskipun ada gangguan karena wabah corona.

Investasi R&D

CEO dan Pendiri Huawei Ren Zhengfei menegaskan wabah virus corona tidak mengurangi upaya perusahaan untuk mengembangkan teknologi sendiri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor AS.

Ren bahkan menyebutkan, Huawei akan kembali meningkatkan anggaran riset dan pengembangan (R&D) pada 2020 sebesar $ 5 miliar menjadi lebih dari $ 20 miliar. Angka itu, bakal menempatkan Huawei sebagai perusahaan terbesar kedua di dunia dalam alokasi investasi R&D.

Sekedar diketahui, investasi R&D raksasa teknologi China itu pada 2018 sudah menempati peringkat ke-4 di antara perusahaan teknologi global, melampaui Microsoft, Apple dan Intel.

Menurut statistik terbaru dari UE, investasi litbang 101,5 miliar yuan ($ 15,1 miliar) oleh Huawei pada 2018 diikuti oleh Samsung, Google, dan Volkswagen.
Sepanjang 2018, perusahaan meraih 721,2 miliar yuan dalam pendapatan penjualan global, menghabiskan 14,1 persen dari total pendapatan untuk anggaran R&D.

Tahun lalu, ditengah tekanan yang semakin kuat dari AS dan sekutu-sekutunya, pengeluaran litbang Huawei meningkat 30 persen menjadi CNY131,7 miliar, atau 15,3 persen dari total pendapatan. Tercatat total pengeluaran R&D Huawei dalam sepuluh tahun hingga akhir 2019 sudah melebihi CNY600 miliar.

Investasi besar itu diklaim telah membantu Huawei mempertahankan posisi terdepan dalam teknologi 5G. Pada awal Februari 2020, Huawei menyebutkan telah menandatangani 91 kontrak 5G komersial dan mengirimkan lebih dari 600.000 unit antena aktif 5G ke berbagai negara.

Di tempat kedua diduduki Ericsson dengan 81 kontrak 5G komersial, ketiga Nokia (68 kontrak), dan keempat ZTE (46 kontrak).

Tak seperti Huawei dan ZTE yang terbantu oleh kontrak operator domestik, Ericsson dan Nokia memang harus berjuang sendirian di pasar. Apalagi wabah corona membuat sebagian besar negara-negara di Eropa, yang merupakan pasar utama, memutuskan untuk menghentikan sementara proses lelang spectrum 5G. Seperti yang sudah diputuskan oleh Spanyol, Polandia, dan Austria.

Keputusan penundaan direspon langsung oleh CEO Ericsson, Borje Ekholm. Ia memperingatkan Eropa bisa ketinggalan dalam penyebaran 5G karena pandemi Covid-19 (coronavirus), mendesak pemerintah untuk mendorong investasi dalam teknologi sebagai cara untuk memulai kembali ekonomi.

Dalam paparan mengenai hasil Q1-2020, Ekholm menyatakan keyakinan bahwa industri secara keseluruhan akan “menunjukkan ketahanan di seluruh pandemi”, tetapi khawatir situasinya dapat berdampak pada 5G di Eropa khususnya.

“Meskipun Ericsson telah berhasil meningkatkan posisi di Eropa, namun kami khawatir bahwa investasi 5G di kawasan ini tertunda,” kata Ekholm seperti dilansir dari laman Mobile World Live (23/4).

Divisi Smartphone

Seperti halnya industri jaringan, pasar smartphone global juga tertekan oleh wabah virus corona. Namun kinerja Huawei sedikit tertolong oleh pertumbuhan pasar dalam negeri berkat penguasaan lebih dari 40 persen pangsa pasar.

Angka yang dirilis secara terpisah oleh IDC dan Strategy Analytics menunjukkan rata-rata hanya 275,4 juta unit spartphone dikirimkan pada kuartal pertama 2020, menurun drastis dibandingkan dengan rata-rata 321,4 juta unit pada Q1 2019.

Dalam sebuah pernyataan, Direktur Strategy Analytics Linda Sui mengatakan Q1-2020 adalah “kinerja terburuk sejak pencatatan dimulai”, dengan permintaan konsumen yang anjlok tajam akibat kebijakan pembatasan sosial di banyak negara.

Direktur riset IDC Nabila Popal secara terpisah menyoroti “masalah sisi penawaran” di Tiongkok. Negara yang menyumbang seperempat dari pengiriman global, berada di puncak penutupan selama Q1, menghasilkan “dampak besar pada pasar secara keseluruhan”.

Popal mencatat, yang memperparah kondisi ini adalah fakta ekonomi global utama lainnya menerapkan langkah-langkah penahanan seperti halnya China mengurangi pembatasan.

Baik IDC maupun Strategy Analytics menyepakati, lima vendor teratas adalah Samsung dengan rata-rata 58,3 juta unit diikuti oleh Huawei (48,8 juta), Apple (37,9 juta) dan Xiaomi (28,5 juta). Namun, untuk posisi kelima, kedua lembaga riset itu tidak satu suara. IDC melaporkan Vivo kembali ke lima besar, sementara Strategy Analytics mengatakan vendor China lainnya, Oppo memegang posisi itu.

Pada Q1-2020, Huawei masih memegang posisi sebagai vendor terbesar kedua di dunia. Prestasi ini terbilang mengesankan, karena tekanan yang dihadapi oleh Huawei bukan hanya virus corona, namun juga pembatasan perdagangan yang dilakukan AS sejak Juni tahun lalu.

Perusahaan mengirimkan 48,8 juta smartphone selama kuartal tersebut berkat peningkatan yang tidak terduga di China – di mana vendor menjadi satu-satunya produsen utama yang melaporkan pertumbuhan di wilayah tersebut – yang membantu sedikit mengimbangi penurunan penjualan internasional.

Sayangnya, penjualan masih turun 17,1 persen tahun-ke-tahun, sedikit lebih tinggi dari rata-rata industri. Sisi baiknya adalah pangsa pasarnya tetap stabil di 17 persen.

Lebih dari setengah pengiriman smartphone untuk Huawei sekarang berasal dari China. Meskipun kinerja diperkirakan akan tetap kuat di wilayah ini, namun perusahaan dibayangi penurunan yang lebih besar pada kuartal kedua karena runtuhnya permintaan di Eropa dan melemahnya minat terhadap produk-produk baru Huawei.

Berharap Kembali ke Google

Tak dapat dipungkiri, aksi pemblokiran oleh pemerintah AS membuat Huawei berada dalam tekanan. Ketua rotasi Huawei Eric Xu, mengakui bahwa 2019 adalah tahun paling sulit yang pernah dihadapi perusahaan.

Hal itu diperberat dengan adanya wabah virus corona. Xu memperkirakan pada 2020 dampaknya akan lebih keras, sehingga membuat hampir mustahil untuk secara akurat memperkirakan kinerja perusahaan.

Sebelumnya dalam paparan mengenai pendapatan perusahaan, Selasa (31/3), Xu mengatakan 2020 akan menjadi periode penting karena perusahaan menghadapi tahun pertama pembatasan perdagangan AS, ujian ke rantai pasokan karena berkurangnya persediaan komponen, serta ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus corona.

Xu menyebutkan, meski AS memblokade Huawei karena alasan keamanan, laba bersih yang diraih pada 2019 tetap meningkat. Tercatat pendapatan sepanjang 2019 mencapai US$ 122 miliar atau setara Rp 1.696 triliun. Angka ini naik 18% dibandingkan dengan pendapatan perusahaan di 2018.

Walau mengalami kenaikan, namun kinerja Huawei ini masih meleset dari target 2019. Sebelumnya, vendor berlogo mirip bunga merah menyala itu, menargetkan pendapatan sebesar US$ 125 miliar.

Meski tak mampu memenuhi target, Eric Xu tetap bangga atas raihan kinerja Huawei di tahun lalu, mengingat pendapatan itu dicapai di tengah-tengah blokade yang dilakukan AS.

Penopang kenaikan pendapatan Huawei datang dari penjualan smartphone. Jumlah penjualan ponsel pintar Huawei di 2019 capai 240 juta unit, naik dari 206 juta unit di 2018.

Dalam paparan lain, Xu menjelaskan pendapatan dari China meningkat 36,2 persen menjadi CNY506,7 miliar, terhitung 59 persen dari total Huawei. Bisnis di Asia Pasifik (8,2 persen) turun 13,9 persen menjadi CNY70,5 miliar, sementara Amerika (6,1 persen) meningkat 9,6 persen menjadi CNY52,5 miliar.

Xu mengatakan pertumbuhan kuat dalam penjualan smartphone di China, di mana Huawei memperluas pangsa pasarnya, mengimbangi penurunan tajam setidaknya $ 10 miliar dalam penjualan di luar negeri setelah dimasukkan dalam daftar larangan entitas AS.

“Kita bisa membayangkan dampak dari efek riak pada industri global. Harapan kami adalah setiap orang dapat bekerja bersama untuk fokus pada tantangan yang dihadapi industri dan memberikan solusi,” katanya.

Kini, Huawei berharap layanan Google dapat kembali dalam smartphone mereka. Hal ini disampaikan langsung oleh Richard Yu, CEO Huawei Business Consumer Group. Richard mengatakan bahwa perusahaannya berharap bisa mendapatkan lisensi dari AS kembali, mengingat perusahaannya cukup terbuka untuk itu.

Menurutnya, Huawei ingin tetap di platform Android dengan layanan integral Google. Sehingga, perusahaan akan memerlukan lisensi dari pemerintah AS.

“Saya harap mereka bisa memberi kami lisensi.” ujar Richard.

Pernyataan Richard ini menunjukkan fakta bahwa layanan Google, seperti Chrome dan Play Store lebih disukai ketimbang HMS (Huawei Mobile Services) besutan Huawei. Dengan kata lain, berbagai layanan Google lebih disukai oleh konsumen di seluruh dunia, karena menawarkan lebih banyak pilihan dibandingkan dengan HMS yang baru diluncurkan.

Di sisi lain, meski Huawei bersedia mengeluarkan investasi besar untuk membangun HMS, namun hal itu memerlukan waktu yang panjang, karena membentuk ekosistem baru, tak semudah membalikkan telapak tangan.

TERBARU

Meluncur Lusa, Ini Perkiraan Harga Redmi Note 9 dan...

Jakarta, Selular.ID – Xiaomi mengonfirmasi produk terbaru segera rilis di Indonesia. Melalui media sosial,...

Perluas Bisnis, WhatsApp Buka Lowongan Kerja di Indonesia

Jakarta, Selular.ID - Facebook terus melirik pasar Indonesia. Kali ini, platform perpesanan WhatsApp dilaporkan...

Peluncuran iPhone 12 Akan Ditunda

Jakarta, Selular.ID - Usai banyaknya prediksi waktu peluncuran iPhone 12 yang beredar, Apple rupanya...

Latest