GfK Ungkap Tren Konsumen Saat Pandemi, Penjualan Smartphone Anjlok 60%

Simak teknologi yang perlu dicermati untuk sikapi tren perusahaan self driving 2022.
Simak teknologi yang perlu dicermati untuk sikapi tren perusahaan self driving 2022.

Jakarta, Selular.ID – Wabah COVID-19 di Indonesia memaksa pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi mobilitas dan aktivitas masyarakat di luar rumah. Aturan ini menyebabkan terjadinya perubahan perilaku beli dan pengeluaran belanja masyarakat.

Guna mendalami perubahan yang terjadi, GfK melaksanakan riset Consumer Pulse untuk menggali lebih dalam perilaku konsumen saat ini dan di masa mendatang, gaya hidup, dan mood di 30 negara, termasuk Indonesia.

Penelitian dilakukan terhadap 500–1000 konsumen dari setiap negara setiap minggunya. Hasil riset mencakup analisa kebiasaan pengeluaran belanja, konsumsi media dan produk, serta tren mobilitas dan perjalanan konsumen.

Kecemasan Konsumen Terhadap Kesehatan

Dengan angka kasus baru penularan COVID-19 yang terus meningkat, 97 persen masyarakat Indonesia sangat mengkhawatirkan wabah penyakit ini, serta memikirkan akibat dari pandemi ini bila terus memburuk ke depannya. Lebih dari separuh responden (60%), terutama masyarakat yang tinggal di kota-kota besar, mempercayai bahwa mereka (atau orang yang mereka kenal) memiliki kemungkinan terpapar COVID-19.

Lebih jauh lagi, 94% masyarakat juga mencemaskan krisis ekonomi yang timbul akibat wabah COVID-19 ini. Hal ini diperkuat oleh hasil riset dari 47 persen responden yang menyatakan bahwa kondisi keuangan pribadi mereka telah mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.

Perubahan Signifikan Perilaku Konsumen

Sehubungan dengan adanya pembatasan mobilitas masyarakat akibat PSBB, riset GfK menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan masyarakat untuk aktivitas luar rumah berkurang 80 persen. Bahkan, di antara responden yang memiliki kemungkinan work from home (WFH), 50 persen diantaranya menjalankan aktivitas WFH secara full time.

Hasil penelitian juga memperlihatkan, terdapat 55 persen pelajar yang merasa menghabiskan waktu lebih banyak untuk belajar di rumah. Hal ini disebabkan penerapan kebijakan penutupan sekolah yang telah dilakukan sejak Maret 2020, sehingga pelajar di Indonesia kini melanjutkan aktivitas belajar dari rumah melalui berbagai platform belajar online dan video conference.

Selama menjalankan berbagai aktivitas dari rumah, waktu luang yang dimiliki masyarakat Indonesia mengalami peningkatan sebesar 51 persen. Sebagian besar responden menyatakan, mereka menghabiskan waktu luang dengan melakukan aktivitas internet browsing (88%), menonton video (75%), membaca dan menonton berita (68%), menonton serial dan drama di TV (65%), mendengarkan musik streaming (65%), menghubungi keluarga dan kerabat melalui aplikasi video call dan pesan (59%), serta berbelanja online (52%).

Perubahan Pengeluaran

Setengah dari masyarakat Indonesia masih memilih untuk berbelanja langsung di toko dibandingkan belanja online. Namun demikian, mengingat pembatasan sosial masih berlangsung, terdapat 14 persen responden yang menyatakan lebih memilih untuk eksklusif berbelanja online. Hasil riset menunjukkan bahwa responden melaksanakan belanja online lebih sering dari biasanya guna membeli kebutuhan sehari-hari seperti makanan, produk kebersihan, dan perawatan pribadi.

Peningkatan permintaan juga terjadi pada kategori produk lainnya seperti hiburan, kecantikan, dan produk keuangan. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat Indonesia memilih untuk menunda pembelian barang-barang seperti smartphone, komputer, elektronik, peralatan rumah tangga, perawatan mobil, dan jasa renovasi rumah.

Data riset juga memperlihatkan peluang dan ancaman bagi produk dan merek tertentu saat situasi krisis seperti ini. Sebanyak 53 persen konsumen mengalami kehabisan stok produk dan 28 persen konsumen mencoba merek-merek baru. Tantangan lain yang dihadapi konsumen Indonesia adalah harga yang lebih tinggi untuk beberapa produk keperluan sehari-hari, seperti yang diakui oleh lebih dari setengah responden (55%).

Berdasarkan hasil penelitian Point of Sales dari GfK, penjualan ritel dari barang-barang elektronik sangat terdampak oleh situasi COVID-19 dan mengalami lebih dari 60 persen penurunan dari nilai penjualan pada awal April 2020 (dibandingkan awal April 2019). Tiga kategori produk yang paling terdampak diantaranya adalah smartphone, tablet, dan televisi.

Karthik Venkatakrishnan, Regional Lead, GfK Digital Research, Asia Pasifik & Timur Tengah, mengungkapkan, “Khusus perilaku belanja masyarakat Indonesia untuk perangkat smartphone tidak mengalami perubahan yang signifikan, penjualan masih didorong oleh toko-toko retail kecil.”

Menurut Karthik, sebagian besar toko smartphone yang berlokasi di mall atau pusat perbelanjaan terpaksa tutup selama PSBB. Namun demikian, toko-toko retail kecil ini masih beroperasi dengan beberapa pembatasan physical distancing. Sebagian konsumen juga beralih melakukan transaksi jual beli melalui e-commerce atau situs belanja online.

“Akan tetapi, hal ini masih belum dapat mengangkat permintaan barang dan penjualan di pasar Indonesia secara keseluruhan ke level positif selama krisis COVID-19 ini berlangsung,” ujarnya.

Harapan Optimis

Meskipun masih mencemaskan krisis ekonomi dan tren pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sedang terjadi, sebagian besar masyarakat Indonesia (44%) optimis bahwa situasi akan membaik dalam 12 bulan ke depan. Misalnya, mayoritas penduduk Kota Denpasar (77%), yang sebagian besar kehidupannya bergantung pada sektor tourism dan hospitality, menaruh kepercayaan yang cukup besar bahwa kondisi ekonomi akan segera pulih.

“Aturan PSBB di Indonesia mendorong perubahan yang signifikan terhadap kebiasaan dan gaya hidup konsumen, termasuk penundaan pembelian beberapa barang yang memiliki nilai atau harga yang tinggi. Namun demikian, masyarakat Indonesia percaya bahwa ekonomi akan pulih pasca krisis. Optimisme ini akan mendorong pembelian produk-produk yang sebelumnya mengalami penundaan. Bangkitnya permintaan konsumen diharapkan terjadi beberapa bulan setelah situasi krisis COVID-19 ini terkendali dan aturan pembatasan sosial dicabut,” ujar Karthik Venkatakrishnan.

Karthik menyimpulkan, “Saat ini kita hidup di era yang sangat dinamis, dimana sikap, perilaku dan kebiasaan konsumen terus mengalami perubahan untuk beradaptasi dengan the new normal.”