Sunday, July 12, 2020
Home News Feature Larangan AS Bisa Gagalkan Ambisi Huawei Jadi Vendor Nomor Satu Dunia

Larangan AS Bisa Gagalkan Ambisi Huawei Jadi Vendor Nomor Satu Dunia

-

Jakarta, Selular.ID – Pada akhir Maret lalu, Huawei meluncurkan trio flagship, P Series terbaru. (P40, P40 Pro dan P40 Pro+). Seperti generasi sebelumnya (P30), Paris kembali menjadi tempat peluncuran smartphone yang diklaim sebagai masterpiecenya teknologi kamera dan AI (artificial intelligence) yang ditingkatkan.
Yang berbeda, peluncuran kali ini dilakukan dengan cara streaming, sehubungan dengan pandemi corona yang semakin meluas di seluruh dunia.

Dalam paparannya, Richard Yu, CEO Huawei Business Consumer Group, menunjuk prestasi P-series yang sudah mendunia. Aliansi dengan produsen kamera legendaris, Leica, dan inovasi kamera ganda pertama pada P9, membuat Huawei dengan cepat dipersepsikan sebagai vendor smartphone dengan kemampuan kamera terbaik.

Momentum terus berlanjut, saat perusahaan meluncurkan sistem tiga kamera pada P20 yang direspon oleh pasar dengan sangat baik. Terbukti, P20 mencetak penjualan hingga 100 juta unit di pasar global. Membuat P20 smartphone flaghsip terlaris sepanjang masa.

Pada P40 Series, Huawei telah mengembangkan “fotografi mobile pada ketinggian baru”, dan bagaimana seri ini dklaim mampi mengalahkan perangkat unggulan milik pesaing seperti Apple dan Samsung dalam hal kualitas sensor, rentang zoom dan juga kualitas piksel. Pada P40, Huawei menyertakan tiga modul kamera: ultra-lebar (17mm), normal (23mm) dan 3x zoom (80mm). Sensor kamera utama menghasilkan foto 50MP.

Huawei juga menambahkan mode baru yang disebut AI Best Moment. Smartphone akan secara otomatis mengenali kapan harus mengambil foto. Misalnya ketika semua orang melompat pada saat yang sama atau ketika seorang atlet bola basket akan melakukan slam dunk.

Tak diragukan lagi, teknologi kamera yang semakin ditingkatkan dan terus meninggalkan pesaing, membuat P40 menjadi varian yang berpotensi mengungguli penjualan P20.

Sayangnya, seperti varian Mate 30 yang diluncurkan pada akhir tahun lalu, P40 Series juga sudah tidak didukung oleh sistem operasi Google dan berbagai aplikasi Android. Seperti kita ketahui, sejak Juni 2019 Huawei masuk ke dalam entity list oleh pemerintah AS.

Sejak saat itu, Google dan beberapa perusahaan lain memutuskan bisnisnya dengan Huawei. Alhasil, bisnis ponsel Huawei menjadi tersendat. Sebab, smartphone Huawei masih mengandalkan sistem operasi Android sebagai software utama. Hingga saat ini, Huawei mengaku masih kesulitan mencari pengganti Google.

“Tantangan paling berat adalah (mencari) layanan Google. Kami masih bisa menggunakan platform Android karena open-source, tapi kami tidak bisa menggunakan layanan yang bisa menjalankan aplikasi Google,” aku Joy Tan, Vice President Public Affair Huawei AS.

Dampak Larangan AS

Tak dapat dipungkiri, aksi pemblokiran oleh pemerintah AS membuat Huawei berada dalam tekanan. Ketua rotasi Huawei Eric Xu, mengakui bahwa 2019 adalah tahun paling sulit yang pernah dihadapi perusahaan.

Hal itu diperberat dengan adanya wabah virus corona. Xu memperkirakan 2020 dampaknya akan lebih keras, sehingga membuat hampir mustahil untuk secara akurat memperkirakan kinerja perusahaan.

Dalam paparan mengenai pendapatan perusahaan, Selasa (31/3), Xu mengatakan 2020 akan menjadi periode penting karena perusahaan menghadapi tahun pertama pembatasan perdagangan AS, ujian ke rantai pasokan karena berkurangnya persediaan komponen, serta ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus corona.

Xu mengungkapkan, meski AS memblokade Huawei karena alasan keamanan, laba bersih yang diraih pada 2019 tetap meningkat. Tercatat pendapatan sepanjang 2019 mencapai US$ 122 miliar atau setara Rp 1.696 triliun. Angka ini naik 18% dibandingkan dengan pendapatan perusahaan di 2018.

Walau mengalami kenaikan, namun kinerja Huawei ini masih meleset dari target 2019. Sebelumnya, perusahaan asal China ini menargetkan pendapatan sebesar US$ 125 miliar.

Meski tak mampu memenuhi target, Eric Xu tetap bangga atas raihan kinerja Huawei di tahun lalu, mengingat pendapatan itu dicapai di tengah-tengah blokade yang dilakukan AS.

Penopang kenaikan pendapatan Huawei datang dari penjualan smartphone sepanjang tahun lalu. Jumlah penjualan ponsel pintar Huawei di 2019 capai 240 juta unit, naik dari 206 juta unit di 2018.

Dalam paparan lain, Xu menjelaskan pendapatan dari China meningkat 36,2 persen menjadi CNY506,7 miliar, terhitung 59 persen dari total Huawei. Bisnis di Asia Pasifik (8,2 persen) turun 13,9 persen menjadi CNY70,5 miliar, sementara Amerika (6,1 persen) meningkat 9,6 persen menjadi CNY52,5 miliar.

Xu mengatakan pertumbuhan kuat dalam penjualan smartphone di China, di mana Huawei memperluas pangsa pasarnya, mengimbangi penurunan tajam setidaknya $ 10 miliar dalam penjualan di luar negeri setelah dimasukkan dalam daftar larangan entitas AS.

“Kita bisa membayangkan dampak dari efek riak pada industri global. Harapan kami adalah setiap orang dapat bekerja bersama untuk fokus pada tantangan yang dihadapi industri dan memberikan solusi,” katanya.

Kini, Huawei berharap layanan Google dapat kembali dalam smartphone mereka. Hal ini disampaikan langsung oleh Richard Yu. Richard mengatakan bahwa perusahaannya berharap bisa mendapatkan lisensi dari AS kembali, mengingat perusahaannya cukup terbuka untuk itu.

Menurutnya, Huawei ingin tetap di platform Android dengan layanan integral Google. Sehingga, perusahaan akan memerlukan lisensi Pemerintah AS.

“Saya harap mereka bisa memberi kami lisensi.” ujar Richard.

Pernyataan Richard ini menunjukkan fakta bahwa layanan Google, seperti Chrome dan Play Store lebih disukai ketimbang HMS (Huawei Mobile Services) besutan Huawei. Dengan kata lain, layanan Google lebih disukai oleh konsumen di seluruh dunia, karena menawarkan lebih banyak pilihan dibandingkan dengan HMS yang baru diluncurkan.

Masih Nomor Dua

Tak dapat dipungkiri, aksi larangan AS yang membuat Google cs dilarang berbisnis dengan Huawei, membuat ambisi Huawei menjadi vendor smartphone satu di dunia kembali menemui jalan terjal. Sekedar diketahui, berbekal kinerja yang mengilap sepanjang 2018, pabrikan yang berbasis di Shenzen itu menargetkan bisa mengkudeta Samsung di posisi puncak pada 2019, maksimal 2020.

“Bahkan tanpa pasar AS, kita akan menjadi nomor satu di dunia. Saya percaya paling awal tahun ini, dan paling lambat tahun depan,” sesumbar Richard Yu, Kepala Divisi Konsumen Huawei, saat acara konferensi pers 5G menjelang gelaran MWC (Mobile World Congress) 2019 di Beijing (24/1/2019).

Menurut laporan IDC, hingga kuartal keempat 2019, Huawei masih bertenggger di posisi kedua dengan perolehan market share 17,6%. Di posisi puncak tetap bercokol Samsung yang menggamit 21,6%, sedangkan Apple di tempat ketiga dengan 13,8% pangsa pasar. Dua vendor dibawahnya masing-masing diduduki Xiaomi (9,2%) dan Oppo (8,3%).

Harus diakui, dalam upaya meraih supremasi di industri smartphone global, jalan Huawei sesungguhnya terbilang terjal. Selain menghadapi kompetisi terbuka, Huawei kerap menghadapi tekanan politik yang tidak dialami oleh para pesaingnya.

Tengok saja, sejak empat tahun terakhir, sentimen terhadap Huawei semakin meluas, membuat pengawasan global terhadap perusahaan semakin intensif. Sentimen itu datang ketika AS dan sekutunya membatasi akses pasar untuk Huawei. AS menuduh produknya dapat digunakan oleh pemerintah China untuk aktifitas spionase. Tak hanya di industri jaringan, namun juga smartphone yang belakangan menjadi tulang punggung bisnis Huawei.

AS bahkan melarang penjualan seri Mate 10 pada 2016, padahal Huawei sudah bermitra dengan salah satu operator di negeri Paman Sam untuk menjual perangkat tersebut. Huawei mengatakan tuduhan terhadap praktek spionase tidak berdasar.

Namun AS tetap bergeming. Puncaknya pada Juni 2018, Presiden Donald Trump mengambil kebijakan lebih tegas, dengan melarang perusahaan-perusahaan AS bermitra dengan Huawei. Dengan aturan tersebut, menjadikan layanan Google seperti Gmail, Maps, Play Store, YouTube, dan aplikasi pre-load  lainnya terlarang pada perangkat Huawei.

Kali ini larangan tersebut merupakan pukulan telak yang sangat sulit dihindari. Adakah jalan keluar bagi Huawei?

Latest