Saturday, March 28, 2020
Home News Market Update Ericsson: Pemimpin Jaringan 5G Bukan Huawei

Ericsson: Pemimpin Jaringan 5G Bukan Huawei

-

Jakarta, Selular.ID – Karena MWC 2020 dibatalkan, produsen peralatan jaringan Ericsson mengadakan briefing pra-MWC akhir pekan lalu. Menurut Financial Times, Ericsson mengatakan telah merencanakan untuk menggelar pameran terbesar perusahaan dalam 30 tahun sejarah pameran dagang.

Selama konferensi persnya di London, Ericsson mengklaim perusahaannya (ya, bukan Huawei) adalah pemimpin global dalam menyediakan peralatan jaringan 5G.

Wakil presiden eksekutif perusahaan Fredrik Jejdling mengatakan, “Kami telah mengerahkan 24 jaringan [live] di seluruh dunia [di 14 negara]. Kami telah menjadi yang pertama menyebarkan jaringan di empat benua. Jadi bagi kami, sulit untuk melihat siapa pun di depan dari kami saat ini… kami percaya kami memiliki portofolio kompetitif yang setara atau di depan pesaing kami.”

Ericsson menyebut punya lebih banyak kontrak peralatan jaringan 5G daripada Huawei. Pada akhir 2019, Ericsson memiliki 79 kontrak komersial 5G, 63 untuk Nokia, dan 50 untuk Huawei.

Akibat perang dagang, AS telah menekan sekutunya untuk tidak menggunakan peralatan jaringan Huawei di jaringan 5G mereka. AS khawatir perusahaan menggunakan spionase di peralatannya dalam mengumpulkan intelijen untuk Beijing.

Sebagian besar penyedia peralatan jaringan diharuskan menawarkan interface intersepsi yang sah untuk diakses oleh operator dan penegak hukum. Huawei dilaporkan merahasiakan lokasi interface-nya bagi semua orang kecuali dirinya sendiri.

Prancis, Australia, dan Jepang mengindahkan peringatan dari A.S. sedangkan Jerman dan Inggris tidak.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada dasarnya mengatakan ia tidak punya pilihan selain bermitra dengan peralatan Huawei.

Pertama-tama, sebagian besar analis mengatakan bahwa teknologi Huawei adalah satu setengah hingga dua tahun lebih maju dari peralatan Nokia dan Ericsson, dan Huawei mampu memberi pelanggannya persyaratan pembiayaan yang murah hati karena hubungannya dengan bank yang dikelola pemerintah China.

Pada bulan Oktober 2019, sebuah laporan menyatakan pemerintahan Trump meminta perusahaan jaringan A.S. Cisco dan Oracle untuk mengembangkan produk yang memungkinkan mereka bersaing dengan Huawei.

Kedua perusahaan itu menolak dengan mengatakan mereka tidak punya waktu atau uang untuk melakukan ini.

Pada saat yang sama, pemerintah dilaporkan mencari ide untuk menyediakan Nokia dan Ericsson jalur kredit besar sehingga bisa menyamai atau mengalahkan persyaratan yang ditawarkan Huawei.

Yang terbaru, pekan lalu Jaksa Agung William Barr menyarankan agar AS membeli saham pengendali di Nokia dan Ericsson.

Negara biasanya menahan diri dari tindakan ini. Pertama-tama, membeli kedua perusahaan secara langsung akan menelan biaya lebih dari $53 miliar dan memusingkan.

Juga pekan lalu, penasihat ekonomi Gedung Putih Lawrence Kudlow mengungkapkan AS sedang mempertimbangkan penggunaan perangkat lunak dan cloud untuk menggantikan perangkat keras Huawei.

Kudlow mengatakan perusahaan A.S. seperti Microsoft Corp, Dell Inc., dan AT&T Inc. akan terlibat.

Dia mengatakan, “Konsep gambaran besarnya, pada prinsipnya, adalah untuk memiliki semua arsitektur 5G AS dan infrastruktur yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Amerika. Itu mencakup Nokia dan Ericsson karena mereka memiliki kehadiran besar di AS. Dell dan Microsoft sekarang bergerak sangat cepat untuk mengembangkan kemampuan perangkat lunak dan cloud yang pada kenyataannya akan menggantikan banyak peralatan.”

Saat ini Huawei mendominasi dengan kepemilikan 28% pangsa pasar peralatan jaringan global. Nokia dan Ericsson masing-masing berada di urutan kedua dan ketiga, dengan ZTE di tempat keempat.

Latest