Wednesday, October 16, 2019
Home News Feature Setelah Realme, Siapakah Game Changer Berikutnya?

Setelah Realme, Siapakah Game Changer Berikutnya?

-

Jakarta, Selular.ID – Prediksi bahwa vendor-vendor China semakin meraksasa telah terbukti. Sepanjang kuartal kedua tahun ini, brand-brand China telah menguasai empat dari lima besar vendor smartphone di pasar domestik.

Menurut laporan Counterpoint, penjualan smartphone di Indonesia tumbuh 6% year-on-year (YoY) selama periode tersebut. Hal itu terutama didorong oleh gencarnya aktifitas promosi selama bulan Ramadan, baik di saluran online maupun offline.

Selama periode tiga bulan, yakni April hingga Juni 2019, lima vendor teratas di Indonesia menurut Counterpoint adalah Samsung (27%), Xiaomi (21%), Oppo (17%), Vivo (9%) dan Realme (8%).

Samsung masih berada di posisi puncak, meski pangsa pasarnya turun tipis dibandingkan Q2-2018 yang mencapai 28%. Dengan demikian, sejak pertama kali merengkuh predikat market leader sejak 2012, chaebol Korea Selatan itu, masih tetap digdaya meski dikepung vendor-vendor China yang semakin agresif.

Baca juga: Counterpoint: Top 5 Brand Smartphone di Indonesia Q2 2019

Xiaomi tetap bertahan sejak mengambil alih posisi runner up dari Oppo dua tahun lalu. Justru pada periode ini, Xiaomi terlihat semakin bergigi karena market share vendor yang identik dengan harga murah itu, masih sebesar 19% pada Q1-2019. Sehingga terdapat kenaikan 2%.

Posisi ketiga tetap dikuasai oleh Oppo. Ini merupakan tahun kedua bagi Oppo berada di posisi tersebut. Meski telah meluncurkan beragam produk, termasuk flagship Oppo F11, pencapaian Oppo rada menurun karena pada Q1-2019, market share Oppo masih 19%.

Di posisi keempat, terdapat perusahaan yang satu induk dengan Oppo di BBK Group (China), yaitu Vivo. Berbeda dengan Oppo yang belum lagi mampu meningkatkan market share, pencapaian Vivo cukup lumayan. Dalam periode ini, market Vivo memuai 3%.

Meski pangsa pasarnya terus meningkat, faktanya bukan Vivo yang menjadi bintang para periode ini. Secara mengejutkan, merek baru Realme berhasil menjadi Top 5 brand smartphone di Indonesia dengan raihan pangsa pasar 8%.

Prestasi itu menjadikan Realme masuk dalam daftar elit. Top five merek smartphone dalam waktu kurang dari satu tahun.

Hal Ini terbilang fenomenal, bukan hanya dari sisi kecepatan, namun juga pangsa pasar yang diraih cukup signifikan. Angka 8% itu, bahkan terbilang tipis dengan peringkat keempat, Vivo. Hanya 1 poin.

Dengan momentum yang telah tercipta, bukan tidak mungkin, Realme bisa mengkudeta Vivo pada periode berikutnya. Apalagi line up yang ditawarkan Realme, lebih sesuai dengan konsumen Indonesia, yang dominan di segmen menengah bawah (mid to low).

Lebih hebatnya lagi, pencapaian tersebut dilakukan Realme tanpa harus meniru langkah Xiaomi, yang sejak awal memanfaatkan jalur black market (BM) untuk meraih pasar smartphone Indonesia.

Harus diakui, strategi mengusung teknologi smartphone terkini dan harga yang berani, seperti halnya Xiaomi, membuat Realme menjadi game changer untuk industri smartphone domestik.

Apalagi nama Realme rada mirip dengan Xiaomi. Sehingga bisa mengatrol brand awareness dengan cepat, terutama di kalangan muda yang gandrung dengan smartphone berspek tinggi, namun harga terjangkau.

Sayangnya, lakon zero sum game pun terjadi. Keberhasilan yang dinikmati satu pemain, bisa jadi penurunan bagi pemain lain. Faktanya, kesuksesan yang diraih Realme membuat vendor lain terlempar.

Jika kita melongok laporan Counterpoint pada Q1-2019, Asus masih menguntit di peringkat kelima dengan raihan 5% pangsa pasar. Sayang, seperti halnya periode 2018, Asus kembali terlempar dari posisi elit.

Analis riset Counterpoint, Parv Sharma, mengatakan Indonesia merupakan salah satu pasar utama di Asia Tenggara. Penetrasi jaringan 4G dan populasi penduduk yang banyak, merupakan modal utama meningkatkan pangsa pasar smartphone di Indonesia.

“Tren peningkatan ini akan mendorong pasar ponsel pintar Indonesia tumbuh 7 % dari tahun ke tahun pada 2019 sesuai perkiraan kami”, ungkap Sharma.

Saat ini tak kurang dari 40 hingga 50 juta smartphone terjual setiap tahunnya di Indonesia. Sehingga kompetisi antar vendor dipastikan bakal semakin ketat.

Laporan Counterpoint juga menunjukkan perangkat entry-level di rentang harga 200 dolar AS atau Rp 2 jutaan masih mendominasi pasar smartphone Indonesia, dengan hampir 75 persen dari jumlah perangkat yang terjual.

Hal itu jelas menguntungkan pemain-pemain yang mulai memiliki pijakan kuat di segmen ini, seperti Realme, Honor dan Nokia.

Nah, setelah Realme, siapakah game changer berikutnya?

Latest