Friday, November 15, 2019
Home News Telco Ericsson : Jumlah Pengguna 5G Berkisar 1,9 Miliar Pada 2024

Ericsson : Jumlah Pengguna 5G Berkisar 1,9 Miliar Pada 2024

-

Jakarta, Selular.ID – Vendor peralatan Ericsson meningkatkan prediksi pengguna berlangganan 5G pada periode hingga akhir 2024 dengan tambahan 400 juta.

Prediksi itu didasarkan pada momentum awal yang cepat dan antusiasme untuk teknologi setelah peluncuran awal pada akhir akhir tahun ini.

Dalam kajian Mobility Report terbaru, vendor asal Swedia itu mengungkapkan bahwa pengguna berlangganan 5G diperkirakan akan mencapai 1,9 miliar pada 2024.

Naik dari perkiraan sebelumnya pada November 2018 dari 1,5 miliar pengguna. Angka itu meningkat hampir 27%.

Perkiraan yang diperbarui datang ketika operator mulai mempercepat penyebaran dan pengguna mulai beralih ke perangkat 5G, bunyi laporan itu.

Ericsson juga menaikkan perkiraan untuk cakupan 5G dari 40% menjadi 45% dari populasi dunia dalam waktu lima tahun.

Angka tersebut bahkan bisa melonjak hingga 65 persen karena pembagian spektrum, yang memungkinkan penyebaran yang semakin meluas pada pita frekuensi LTE.

Vendor yang berbasis di Stockholm itu, mengatakan bahwa peningkatan kepercayaan tentang penggunaan teknologi ini sebagian karena komitmen kuat dari vendor chipset dan juga produsen perangkat. Dua hal yang menjadi kunci untuk akselerasi 5G.

Dalam jangka pendek, Ericsson memperkirakan terdapat sekitar 10 juta pengguna 5G pada akhir 2019, karena smartphone yang kompatibel di semua pita spektrum utama mulai tersedia dan semakin banyak jaringan yang ditayangkan.

Prediksi itu salah satunya didasarkan pada antusiasme pengguna di negara-negara front liner, seperti Korea Selatan, salah satu negara pertama yang meluncurkan 5G.

Pada Mei 2019, seorang pejabat di Korea Selatan, menyebutkan bahwa sebanyak 260.000 pelanggan telah mendaftar untuk teknologi hanya beberapa minggu setelah peluncuran komersial.

Fredrik Jejdling, EVP dan Kepala Bisnis Ericsson’s Networks, mengatakan langkah cepat 5G sudah mencerminkan antusiasme penyedia layanan dan konsumen terhadap teknologi.

Seperti yang biasa terjadi di seluruh industri, khususnya di Eropa, Jejdling memperingatkan bahwa “manfaat penuh hanya dapat diperoleh dengan pembentukan ekosistem yang solid di mana teknologi, peraturan, keamanan, dan mitra industri semua memiliki peran yang signifikan”.

Dalam kajian lain dari laporan itu, Ericsson mengatakan total lalu lintas data selular terus melonjak secara global, naik 82 persen tahun ke tahun di Q1 2019.

Pada akhir 2024, ia memperkirakan 131 exabytes akan dikonsumsi setiap bulan, 35 persen di antaranya akan menjadi lebih dari jaringan 5G. Ericsson juga memperkirakan akan ada 4,1 miliar koneksi IoT seluler secara global pada tahun 2024, naik dari 1 miliar hari ini.

Di Indonesia sendiri, Ericsson terbilang sebagai vendor yang aktif dalam mengkampanyekan 5G. Bulan lalu, vendor yang berkantor di kawasan Pondok Indah itu, menyajikan laporan ConsumerLab bertajuk 5G Consumer Potential yang mematahkan mitos industri seputar nilai 5G.

Berbagai temuan menarik dipaparkan Ericsson. Diantaranya, konsumsi video akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan 5G.

Pelanggan tidak hanya mampu mengakses video dalam resolusi yang lebih tinggi, tetapi juga dapat merasakan pengalaman video dengan format imersif seperti Augmented reality (AR) dan Virtual reality (VR).

Kelak pada era 5G, pengguna juga berkesempatan untuk mengakses konten video di luar rumah empat jam lebih lama dalam seminggu, serta dapat menggunakan kacamata AR maupun headset VR selama satu jam tanpa jeda.

Riset tersebut juga mengungkapkan bahwa pengguna smartphone secara global mengaku bersedia membayar 20 persen lebih banyak untuk layanan 5G. Dimana setengah dari para early adopter sanggup membayar lebih, sebesar 32 persen.

Namun di sisi lain, empat dari 10 orang pengguna tersebut juga mengharapkan use case baru, mode pembayaran yang mudah, serta jaringan 5G yang aman, selain kecepatan internet yang tinggi dan konsisten.

Di Indonesia, laporan tersebut menunjukkan bahwa sekitar separuh dari pengguna smartphone akan mengganti operator mereka dalam kurun waktu enam bulan jika operator yang mereka gunakan saat ini tidak menyediakan layanan 5G.

Dengan meningkatnya kesadaran konsumen mengenai 5G, rata-rata responden percaya bahwa 5G akan diterapkan dalam dua tahun mendatang.

Pengguna smartphone bersedia membayar harga premium sebesar Rp 30.000 untuk menikmati layanan 5G. Early adopter bahkan bersedia membayar lebih sebesar Rp 50.000.

Hal tersebut sejalan dengan ekspektasi akan hadirnya layanan yang dapat memberikan pengalaman imersif untuk kegiatan olahraga dan berbagai acara lainnya, dimana AR dan hubungan telepon menggunakan holografik 3D akan menjadi dua terapan utama yang akan tersedia saat 5G hadir.

Berdasarkan prediksi pola penggunaan yang dilakukan konsumen, rata-rata penggunaan data ponsel melalui perangkat 5G dapat meningkat hingga 60GB/bulan.

Pengguna ponsel pintar dengan konsumsi data yang besar dapat menghabiskan 110GB setiap bulannya.

Head of Network Solutions Ericsson Indonesia Ronni Nurmal mengatakan bahwa melalui penelitian tersebut, Ericsson telah mematahkan sejumlah mitos mengenai pandangan pelanggan terhadap 5G.

Riset itu sekaligus menjawab pertanyaan apakah fitur 5G memerlukan jenis perangkat baru, atau apakah ponsel pintar akan menjadi silver bullet untuk 5G.

“Pelanggan secara jelas menyatakan bahwa ponsel pintar tidak akan menjadi satu-satunya solusi 5G”, tandas Ronni.

Latest