Monday, May 27, 2019
Home News Feature Dirut Indosat Dijabat Asing, Saham Dwi Warna Tak Berlaku?

Dirut Indosat Dijabat Asing, Saham Dwi Warna Tak Berlaku?

-

Jakarta, Selular.ID – Ditengah penurunan kinerja perseroan yang terjadi sepanjang 2018, Dirut dan CEO Indosat Ooredoo Chris Kanter mendadak mengundurkan diri. Lengsernya Chris tak berapa lama setelah perusahaan menggelar RUPS tahunan di Kantor Pusat Indosat Ooredoo, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Tak ada penjelasan mengapa Chris yang baru menahkodai Indosat enam bulan lalu itu, memutuskan untuk mundur dari posisinya itu.

Surat yang disampaikan oleh Presiden Komisaris Ooredoo, Waleed Mohamad Al-Sayed, hanya menjelaskan bahwa posisi Chris Kanter digantikan Ahmad Abdulaziz Alneama sebagai CEO, efektif sejak 2 Mei 2019.

Mundurnya Chris yang terkesan mendadak, tentu saja menimbulkan spekulasi. Salah satunya dikarenakan tidak kunjung direalisasikannya Capex sebesar USD2 Miliar.

Seperti diketahui, usai terpilih sebagai Dirut pada Oktober 2018 lalu, Chris memaparkan bahwa dirinya berencana mengalokasikan capex senilai USD2 miliar atau sekitar Rp30 triliun dalam dua tahun kedepan.

Baca juga: Indosat Ooredoo Tunjuk CEO Baru Gantikan Chris Kanter

Capex tersebut akan digunakan  meningkatkan belanja modal demi memperluas cakupan 4G, setelah bertahun-tahun perusahaan kekurangan belanja investasi.

Selular pun mencoba menghubungi langsung Chris Kanter melalui pesan singkat. Namun hingga berita ini diturunkan dirinya belum memberikan jawaban.

Terlepas dari berbagai spekulasi, drama pengunduran diri Chris sebenarnya terbilang by design. Pasalnya, rentang waktu antara lengsernya Chris dengan keluarnya surat resmi yang menjelaskan penunjukkan Ahmad Abdulaziz Alneama sebagai CEO hanya dalam hitungan jam saja.

Sumber Selular menyebutkan bahwa mundurnya Chris akan memberi jalan kepada Ahmad Abdulaziz Alneama, bukan sekedar menjadi CEO saja, namun juga menjadi Direktur Utama. Itu sebabnya, pasca pengunduran diri sebagai dirut, Chris kembali ke posisi sebelumnya sebagai komisaris.

Peran Chris sebagai komisaris sangat dibutuhkan, terutama untuk melobi pemerintah. Dalam hal ini, Chris punya tugas penting yakni meminta kepada pemerintah agar bersedia melepaskan posisi dirut kepada eksekutif langsung dari Ooredoo.

Pasalnya, selama ini posisi dirut terganjal oleh saham dwi warna yang dimiliki oleh pemerintah. Seperti diketahui, saham dwi warna atau golden share hanya berjumlah satu lembar saham, namun bernilai strategis.

Baca juga: Chris Kanter Mundur dari Dirut Indosat

Meski kepemilikan pemerintah di Indosat minoritas, akan tetapi melalui saham dwi warna itu pemerintah memiliki hak veto yang besar terhadap pengendalian dan rencana bisnis perusahaan. Salah satunya pemerintah bisa mengusulkan Dewan Direksi dan‎ Dewan Komisaris.

Jika pada akhirnya Ahmad Abdulaziz Alneama menjadi Dirut/CEO Indosat Ooredoo, ini adalah sejarah baru bagi perusahaan.

Pasalnya, sejak mengambilalih saham mayoritas dari STT Singapura pada 2008 silam, Qatar Telecom (kini Ooredoo) tak pernah bisa menempatkan orang kepercayaan langsung pada posisi puncak. Hal ini berdampak pada tingkat kepercayaan induk usaha yang berbasis di Doha, Qatar.

Penunjukkan Ahmad Abdulaziz sebagai orang nomor satu di Indosat Ooredoo, dapat meningkatkan level confident Ooredoo Group terhadap operasi bisnisnya di Indonesia.

Hal ini diprediksi akan membuat aliran investasi kembali mengucur. Sehingga belanja dana untuk pembangunan jaringan, terutama BTS 4G dapat sesuai dengan target yang ditetapkan.

Sekedar diketahui, sebagai induk usaha, Ooredoo terakhir kali menggelontorkan dana investasi senilai Rp 15 triliun kepada Indosat. Dana tersebut digunakan untuk memodernisasi jaringan, saat Indosat dikomandani oleh Alexander Rusli (2012 -2017).

Tampilnya Ahmad Abdulaziz sebagai CEO Indosat yang baru sesungguhnya juga tidak mudah, apalagi kinerja perusahaan merosot sepanjang 2018. Laporan keuangan 2018 menunjukkan, Indosat menelan rugi bersih Rp 2,4 triliun. Padahal pada 2017 masih mencatatkan laba Rp 1,13 triliun.

Kinerja mengecewakan Indosat disebabkan anjloknya pendapatan hingga 22,68% atau Rp 6,6 triliun. Pendapatan operator yang identik dengan warna kuning itu, pada 2018 tercatat hanya Rp 23,14 triliun, sementara setahun sebelumnya sebesar Rp 29,93 triliun.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest