Jakarta, Selular.ID – Seiring dengan tumbuhnya ekosistem digital, dalam lima tahun terakhir masyarakat Indonesia semakin akrab dengan beragam layanan yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan rintisan (start up).

Perusahaan rintisan ini merambah ke berbagai bidang, mulai dari e-commerce, financial technology, games, properti, transportasi, pertanian, life style, dan lainnya.

Dari sekian banyak start up, empat diantaranya sudah mengentas menjadi unicorn, yakni perusahaan dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar. 

Sejak 2015 hingga kini, terdapat empat perusahaan rintisan yang sudah berpredikat unicorn di Indonesia. GoJek menjadi start up pertama yang meraih label unicorn, disusul kemudian oleh Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

Harus diakui, derasnya kucuran dana kepada para unicoran, menandakan tingginya minat para investor khususnya asing kepada Indonesia.

Selain model bisnis yang menarik dan regulasi yang tak bikin ribet, animo terbesar adalah bonus demografi dan massifnya pembangunan jaringan broadband (3G dan 4G) oleh operator.

Kombinasi kedua hal itu, ditambah meningkatnya populasi generasi milenial yang melek teknologi, menjadikan Indonesia perlahan-lahan bergerak menuju ekosistem ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Prediksi bahwa Indonesia akan menjadi pemain kunci di bisnis digital memang bukan sekedar isapan jempol. Hal ini terlihat dari laporan e-Conomy SEA 2018 yang dikeluarkan oleh Google dan Temasek.

BACA JUGA:
Grab Sukses Antarkan 13 Juta Ayam

Kedua perusahaan raksasa itu, memprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2025.

Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai US$ 100 miliar atau setara Rp 1.449 triliun (asumsi kursi Rp 14.4494 per US$ 1) dengan pertumbuhan Compounded Annual Growth Rate (CAGR) tercepat sejak 2015.

Dengan potensi pasar yang besar dan kucuran dana yang terus menerus dari venture capital, diprediksi tak lama lagi Indonesia akan memiliki decacorn.

Decacorn adalah startup yang memiliki valuasi di atas US$10 miliar atau setara Rp 147 triliun (asumsi US$1 = Rp 14.700). Meski memiliki valuasi besar, startup ini masih mencatatkan kerugian.

Bocoran mengenai decacorn disampaikan langsung oleh Rudiantara. Dalam acara Innocreativation 2018 di Surabaya, Kamis (15/11/2018), menteri yang akrab dipanggal Chief RA itu, optimis bahwa Indonesia akan memiliki decacorn.

“Decacorn di Indonesia tinggal tunggu waktu. Tinggal tunggu transaksinya,” ujar Rudiantara.

Putaran Pendanaan

Pertanyaannya, siapa dari empat unicorn di atas yang paling berpotensi menjadi decacorn pertama di Indonesia?

Jika kita mengacu pada putaran pendanaan dan nilai yang diperoleh, GoJek berada di posisi terdepan. Menurut Cruchbase, perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim itu telah tujuh kali melakukan pengumpulan dana dengan total sebesar US$3,3 miliar. Hingga 30 Oktober 2018 Go-Jek memiliki valuasi US$7,8 miliar.

BACA JUGA:
Grab Tambah Fitur Baru Di Roadmap Teknologi Keselamatan

GoJek ditempel ketat oleh Tokopedia. Perusahaan yang didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison itu, sudah delapan kali melakukan penggalangan dana dari investor dan berhasil mengumpulkan US$1,3 miliar. Hingga pertengahan 2017, nilai pasar Tokopedia mencapai US$3,5 miliar.

Posisi ketiga diduduki oleh Bukalapak. Menurut Crunchbase, platform market place yang didirikan oleh Ahmad Zaki itu, diketahui telah lima kali melakukan pengggalangan dana.

Sayangnya sejauh ini, manajemen Bukalapak tidak pernah mempublikasikan berapa dana yang sudah berhasil dikumpulkan. Namun manajemen mengakui valuasi Bukalapak sudah di atas US$1 miliar.

Posisi keempat ditempati Traveloka. Perusahaan yang didirikan oleh tiga sahabat, Derianto Kusuma, Ferry Unardi, dan Albert itu, telah empat kali melakukan penggalangan dana sebesar US$ 500 juta. Saat ini valuasi Traveloka mencapai US$1 miliar.

Dengan meluasnya jasa pelayanan ke fintech yang memiliki prospek cerah, dibarengi dengan langkah bisnis yang agresif, GoJek memang paling berpeluang menjadi decacorn pertama di Indonesia.

Apalagi pada pertengahan November 2018 lalu, Telkom dikabarkan siap menyuntikan dana sebesar Rp 4 triliun, seperti yang dilansir dari sejumlah media regional dan lokal. 

Namun, faktanya, hingga kini aksi korporasi itu masih sebatas rumor. Telkom belum mengambil keputusan apa pun, meski pembicaraan ke arah sana sudah dilakukan kedua belah pihak.

BACA JUGA:
Ini Pencapaian Grab Selama 2018

Kegagalan menggaet Telkom sejatinya sedikit menghambat GoJek untuk memperluas ekspansi, sekaligus meningkatkan skala bisnis perusahaan. Menurut laporan Strait Times, terakhir kali GoJek mendapat suntikan modal US$ 2 miliar atau sekitar Rp 29 triliun pada 17 September 2018.  

Kucuran dana segar sangat penting bagi GoJek demi menghadapi ketatnya persaingan dengan rivalnya, Grab. Persaingan di bisnis ride sharing semakin ketat setelah Uber memilih bergabung dengan Grab. Kolaborasi keduanya memungkinkan Grab mengadopsi sistem dan teknologi dari Uber yang terkenal mumpuni di bisnis ini.

Berbeda dengan GoJek, sepanjang 2018, pundi-pundi Grab semakin membesar. Pada November dan Desember 2018 lalu, Grab telah memperoleh kucuran dana dari dua investor, yakni Booking Holding dan Yamaha Motor, senilai USD 200 juta dan USD 150 juta.

Hingga akhir 2018, Grab telah mendapatkan total investasi sebesar USD 2,7 miliar yang dikucurkan sejumlah investor, dari target USD 3 miliar. Perusahaan menargetkan dapat menjadi decacorn pertama di kawasan Asia Tenggara pada tahun ini.

Perusahaan yang berbasis di Singapura itu, kini tengah menantikan kucuran dana investasi dari perusahaan asal Jepang, SoftBank senilai USD 1,5 miliar atau setara Rp 21,8 triliun.