Monday, May 20, 2019
Home News Feature Unicorn Jadi Santapan Investor Asing, Apa Yang Kelak Terjadi?

Unicorn Jadi Santapan Investor Asing, Apa Yang Kelak Terjadi?

-

Jakarta, Selular.ID – Demi mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, pemerintah berusaha menarik lebih banyak investasi asing ke dalam negeri. Pentingnya investasi asing ditekankan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Dalam berbagai kesempatan, Jokowi menyebutkan bahwa kehadiran investasi yang terus tumbuh berdampak langsung pada arus uang yang masuk ke dalam negeri, sehingga bisa menggerakkan kegiatan ekonomi.

Berkat iklim ekonomi yang terbilang kondusif, menurut catatan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) saat ini total investasi langsung (investasi asing ditambah domestik) di Indonesia naik 11,8% tahun ke tahun menjadi Rp 185,3 triliun pada kuartal pertama 2018. Hal itu menunjukkan minat investor yang kuat dan menimbulkan optimisme bahwa target investasi langsung setahun penuh dapat tercapai.

Tak dapat dipungkiri, tingginya minat investasi asing khususnya di bidang ICT adalah bonus demografi dan massifnya pembangunan jaringan broadband (3G dan 4G) oleh operator. Kombinasi kedua hal itu, ditambah meningkatnya populasi generasi milenial yang melek teknologi, menjadikan Indonesia perlahan-lahan bergerak menuju ekosistem ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Data yang dilansir dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menyebutkan bahwa terdapat 143,26 juta orang Indonesia menggunakan internet pada akhir 2017. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat operator tak pernah menurunkan dana Capex (capital expenditure) atau belanja modal, terutama BTS 4G demi bisa bersaing dan memperebutkan pangsa pasar pengguna data.

Tentu saja besarnya pengguna internet, merupakan pasar yang sangat menggiurkan bagi start up yang bermimpi menjadi unicorn. Peluang tersebut juga tak disia-siakan oleh perusahaan-perusahaan global dan venture capital kelas kakap yang mulai banyak melirik perusahaan perusahaan rintisan ini.

Kolaborasi keduanya, pada akhirnya dengan segera mengantarkan sejumlah startup  menyandang status unicorn, yakni perusahaan dengan valuasi nilai lebih dari US$ 1 miliar. Sejak 2015, terdapat empat perusahaan rintisan yang sudah berpredikat unicorn di Indonesia, yakni GoJek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

Harus diakui, kehadiran unicorn sangat membantu pemerintah yang tengah berusaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tengah ketatnya iklim investasi global. Kontribusi para unicorn diyakini menjadi juru selamat perekonomian karena besarnya nilai konsumsi dan investasi yang dihasilkan dari berkembangnya ekonomi digital.

Sayangnya kepemilikan asing terhadap empat unicorn terlihat semakin nyata. Dari berbagai sumber, saya mencoba mengulik satu persatu investor kakap dibalik para unicorn itu.

Mari kita mulai dari GoJek. Tercatat, dua perusahaan investasi papan atas asal AS, Sequoia Capital dan Warburg Pincus LLC, menjadi pemilik GoJek sejak 2015. Investor lain adalah Northstar Group, DST Global, NSI Ventures, Rakuten Ventures, Formation Group, KKR, Farallon Capital, dan Capital Group Private Markets.

Sokongan para investor asing pada unicorn pertama Indonesia itu, diperkuat dengan kehadiran Google yang menggelontorkan dana Rp 16 triliun pada akhir 2017. Menyusul kemudian, konglomerat lokal Astra International dengan dana investasi Rp 2 triliun.

Selain investor asal AS, sinar terang GoJek juga menarik minat pemodal China. Tiga perusahaan raksasa China, yakni Tencent, JD.com dan Meituan Dianping juga telah menjadi pemilik Go-Jek. Tencent misalnya rela menggelontorkan dana sebesar US$1,2 miliar untuk memodali bisnis GoJek yang masih terbilang bakar uang.

Menurut Reuters, meski JD.com dan Meituan Dianping tak pernah mempublikasikan dana investasi yang dikucurkan, namun saat ini aliansi tiga investor China itu memiliki lebih dari 80% bagian saham Go-Jek.

Menyusul GoJek, Tokopedia masuk ke jajaran unicorn setelah memperoleh dana segar US$ 1,1 miliar dolar AS dari Alibaba berbarengan dengan HUT ke-72 Kemerdekaan RI 17 Agustus 2017. Kita ketahui Alibaba adalah raksasa e-commerce asal China.

Menurut catatan CNN, hingga pertengahan 2017, nilai pasar perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma itu sudah mencapai sekitar US$ 420 miliar. Menempel ketat penguasa bisnis ini, Amazon dengan kapitalisasi pasar US$ 465 miliar. 

Sementara, Traveloka dinobatkan sebagai unicorn selepas mendapatkan pendanaan sekitar 350 juta dolar AS dari Exepedia. Exepedia adalah perusahaan travel asal AS yang mengoperasikan sejumlah merek global lainnya, seperti hotels.com. Trivago, dan Orbitz.

Sedangkan, Bukalapak diklaim masuk ke tataran unicorn pada November 2017 lalu. Selain Grup Emtek, pemilik jaringan SCTV, dua perusahaan ventura asal AS, yaitu 500 Startup dan QueensBridge Venture Partners, juga diketahui menanamkan modal di Bukalapak. Namun, nilainya tidak dipublikasikan.

Menkominfo Rudiantara mengatakan bahwa guyuran investasi menunjukkan bahwa para investor internasional sudah semakin percaya terhadap Indonesia.

“Pendanaan yang terus-menerus kepada satu tech company seperti GoJek menunjukkan kepercayaan investor tersebut semakin besar,” kata menteri yang akrab disapa Chief RA itu (19/1/2018).

“Tambahan proceed kepada Go-Jek menunjukkan investor internasional bukan hanya percaya kepada Go-Jek, namun juga kepercayaan kepada dunia digital serta iklim investasi di Indonesia,” ujarnya.

Dengan semakin berkembangnya bisnis strat up, Rudiantara mengaku tak akan membuat regulasi yang memberatkan. Salah satu yang akan dilakukan adalah membuat prosedur perizinan yang mudah menggunakan e-registrasi.

“Ini karena berhadapan dengan anak muda Indonesia yang pola pikirnya beda,” tutup Rudiantara.

Perlu Diwaspadai

Ditengah euphoria bisnis start up, terutama unicorn yang dinilai telah meningkatkan kepercayaan investor, pandangan berbeda dilontarkan oleh Mantan Menko Bidang Perekonomian Chairul Tanjung (CT). Bos TransGroup ini mengingatkan bahwa kepemilikan pihak asing terhadap unicorn akan berdampak terhadap perekonomian kita di masa depan.

“Jangan berpikir Gojek itu milik anak bangsa, jangan berpikir Tokopedia itu milik anak bangsa, jangan berpikir semua yang ada saat ini milik anak bangsa. Bulshit,” kata CT dalam Seminar Nasional dan Kongres ISEI XX 2018 di Bandung, seperti dilansir GoRiau Jumat (10/8/2018).

CT menyatakan anak bangsa yang memiliki berbagai startup tersebut hanya memiliki saham yang kecil. Sebaliknya, kepemilikan saham terbesarnya adalah pihak asing.

“Kenapa? Karena milik anak bangsanya itu sudah tinggal mungkin ada yang 1%, ada yang 2%. Kenapa? Karena model bisnisnya membuat hal seperti itu. Investornya masuk USD1 billion, mengambil alih langsung 97%, yang founder disisain 3%. Besok dia masuk lagi (membeli saham), turun lagi (kepemilikan founder), lama-lama selesai,” jelas CT.

CT pun mengingatkan agar masyarakat jangan berpikir senang ketika ada investor asing yang masuk ke Indonesia. Sebab, ada dampak jangka panjang yang akan terjadi.

“Ini masalah kita. Kita tidak pernah berpikir secara holistik. Kita berpikir senang kalau ada investor asing. Tapi jangan lupa, begitu dia kuasai, 5-10 tahun lagi perusahaan ini akan membesar, menghasilkan deviden,” ungkapnya.

CT mencontohkan dividen saat ini mencapai USD1 juta yang harus dibayarkan Indonesia ke luar negeri. Itu karena banyak perusahaan yang dimiliki oleh investor asing di Indonesia.

“Itu juga yang membuat kita defisit. Karena tidak melihat secara holistik dan ada jangka pendeknya, menengah, panjang. Ini menjadi isu yang sangat signifikan. Sudah (kepemilikan saham orang Indonesia) tambah kecil, tambah kecil, dan akhirnya akan hilang,” tuturnya.

CT mengatakan, saat ini, para investor juga mau ‘membakar uangnya’ untuk mendapatkan database sebagai investasi jangka panjang. Dia mencontohkan investor Gojek yang rela mengucurkan dana banyak setiap bulan untuk menghidupkan Gojek.

“Tidak kurang tiap bulan Gojek membakar uang lebih dari USD30 juta, hampir Rp 400 miliar,” ujarnya.

“Untuk apa? Untuk dapetin yang namanya database. Dari database itu mereka nanti (investor) mencoba meng-create ekosistem. Dari situ mereka mau menguasai ekonomi, kalau ini berhasil,” tandas CT.

Senada dengan CT, Direktur Institute for Development of Economics & Finance (Indef), Enny Sri Hartati, menilai bahwa pemerintah terlambat dalam menyusun peta jalan bisnis digital.

Guna menghindari polemik yang bakal muncul, Enny mendesak Pemerintah untuk segera membuat aturan menyangkut investasi di startup digital.

Dia menilai, pemerintah sejauh ini kurang antisipasi terhadap perubahan lingkungan bisnis yang bergerak ke arah digital.

“Regulasi tidak ada. Yang sekarang hanya bersifat parsial. Contoh ride sharing hanya diatur PP Menhub. Itu pun hingga hari ini belum jelas. Padahal bisnis startup digital seperti Gojek sudah berkembang luas menjadi 10 bidang,” jelas Enny dalam diskusi “Peran Unicorn Dalam Mempertahankan Momentum Investasi dan Menjaga Stabilitas Rupiah”, di Jakarta (12/9/2018). .

“Perlu peta jalan dan blueprint yang jelas. Polemik dapat diakhiri jika regulator memiliki aturan. Ekonomi digital adalah keniscayaan. Tinggal aturan yang jelas untuk meminimalkan ekses. Kita harus maksimalkan manfaatnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Enny mengatakan bahwa semua negara yang mengimplelemntasikan ekonomi digital regulasinya sudah direncanakan, terstruktur sistematis bagaimana memanfaatkan teknologi. Tetapi berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Nyatanya para pemain di bidang ini sudah bergerak sangat jauh, namun regulasi masih sekedar wacana.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest