Jakarta, Selular.ID – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) yang semakin terjun bebas mulai mencemaskan para pelaku bisnis telekomunikasi. Dampak paling terasa terjadi pada vendor handset, terutama pabrikan lokal. Pasalnya selama ini komponen produksi, terutama komponen inti masih diimpor dari luar negeri, khususnya China.

Head of Marketing Communication Evercross, Suryadi Willim, mengatakan bahwa lemahnya nilai rupiah terhadap dollar sangat berpengaruh bagi harga ponsel Evercoss yang berikutnya akan diluncurkan.

“Karena komponen utama seperti chipset dan baterai masih menggunakan dari vendor luar, yang transaksinya tetap menggunakan Dolar,” ujar Suryadi.

Selain itu, ia mengaku bahwa posisi vendor-vendor ponsel lokal sedang terjepit. Pasalnya vendor ponsel dari negara lain seperti Korea dan China sedang berlomba lomba banting harga demi meningkatkan market share.

BACA JUGA:
Catatan Akhir 2018 : Registrasi Prabayar Berujung Negative Growth

“Kita agak kejepit sebenarnya dengan vendor-vendor smartphone luar yang suka banting harga. Sehingga di saat harga komponen naik, harga smartphone kita tidak bisa naik,” pungkasnya.

Melemahnya rupiah juga menjadi sinyal bagi operator untuk melakukan langkah antisipasi. XL Axiata mengatakan pihaknya telah mempersiapkan beberapa hal untuk mengantisipasi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini mengatakan perusahaan melakukan lindung nilai atau hedging serta mengencangkan ikat pinggang.

“Kita ada hedge. Selain itu, kalau sudah begini kita harus kencangkan ikat pinggang,” kata Dian ketika ditemui pada acara peresmian gerai Xplor di XL Axiata Tower di Jakarta, Selasa (4/9/2018)

BACA JUGA:
2019 Evercoss Incar Milenials

Dian memaparkan XL Axiata sebelumnya sudah merestrukturisasi hutang ke rupiah supaya eksposur dolarnya berkurang.

“Barang kali kalau rupiah naik terus, yang agak terganggu mungkin urusan Capex karena Capex kita kan 50% kita beli dalam USD,” ujarnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang terbilang mengkhawatirkan, pasalnya sudah menyentuh angka Rp14.949 per Rabu 5 September 2018 pukul 08.00 WIB. Nilai tersebut merupakan posisi terendah sejak dua dekade lalu.

Namun kondisi yang loyo tak hanya dialami oleh rupiah saja. Empat mata uang dari negara berkembang juga terus jatuh.

BACA JUGA:
Siapa Penguasa Pasar Smartphone di Asia Tenggara?

Melansir dari CNBC, Rabu (5/9/2018), Peso Argentina turun sekitar 3%. Dan sepekan lalu, mata uang Argentina ini telah tergerus 16%. Sehingga peso Argentina telah merugi hampir 50% terhadap dolar AS sepanjang tahun 2018.

Rupee India juga jatuh ke titik terendah baru pada Rabu pagi ini, menjadi 71,78 rupee per dolar AS. Lira Turki meluncur pada hari Selasa dan korban terbaru keperkasaan dolar AS. Begitu pun dengan Rand Afrika Selatan. Rand jatuh 3% pada Selasa lalu karena ekonomi Afsel sepanjang kuartal II 2018 mengalami resesi.