Jumat, 14 Juni 2024
Selular.ID -

Menakar Kekuatan Polytron di Segmen Menengah

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Polytron Smartphone Experience Center
Jakarta, Selular.ID – Sejak lama, pasar ponsel di Indonesia dinilai memiliki potensi yang besar. Begitu pun saat ini, ketika terjadi peralihan dari feature phone ke smartphone. Bonus demografi dan pengguna layanan data yang terus berkembang, membuat vendor tak henti membanjiri berbagai produk yang diklaim terbaik dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Namun di balik manisnya potensi pasar, persaingan yang terbilang ketat membuat life cycle produk menjadi semakin pendek. Alhasil, pertarungan antar vendor handset cenderung sudah berdarah-darah.

Dampaknya mudah ditebak. Beberapa vendor terbilang stagnan, seperti Hisense, LG, Haier, Acer, Nubia, ZTE, Meizu, Coolpad, Alcatel dan lainnya. Beberapa bahkan harus mundur karena tak mampu bersaing dan beratnya regulasi pemerintah terkait kewajiban TKDN sebesar 30%. Seperti OnePlus, HTC, Blaupunkt, hingga raksasa elektronik asal Jepang, Sony.

Kesimpulannya produk atau brand image yang bagus tak menjamin keberlangsungan hidup vendor ponsel di Indonesia. Ada banyak faktor yang harus diadaptasi untuk bisa bertahan. Antara lain kualitas produk, strategi marketing terutama penetapan harga, tuntutan kebutuhan pengguna, jaringan penjualan (off line dan online), hingga regulasi pemerintah.

Bagaimana dengan brand lokal?

Harus diakui transformasi dari feature phone ke smartphone, menjadi kuburan bagi vendor-vendor lokal. Kurangnya penguasaan teknologi, membuat vendor dalam negeri tak banyak berkutik.

Gempuran vendor China yang seolah memiliki budget yang tak terbatas, membuat vendor lokal keteteran. Alhasil, saat ini hanya tersisa segelintir brand lokal yang boleh dibilang masih bertaji.

Mereka adalah Evercoss, Advan, Andromax (Smartfren), Polytron, dan Mito. Beberapa brand bisa dibilang timbul tenggelam, seperti Axioo, Asiafone, HiCore, Zyrex, dan SPC Mobile. Lainnya benar-benar tak lagi nongol alias khatam.

Baca juga: 7 Perbedaan Polytron Prime 7 Pro dari Prime 7 dan 7s

Padahal di era 2,5G alias periode 2007 – 2011, puluhan merek lokal sempat merajai pasar domestik. Siapa tak kenal Nexian yang disebut-sebut sebagai ponsel sejuta umat asli Indonesia. Pada 2010 silam, pangsa pasar Nexian bahkan menyentuh 20%.

Ketika itu, popularitas Nexian mampu menyaingi Blackberry yang sempat menjadi primadona. Sayangnya peralihan dari komunikasi dasar ke layanan data, membuat langkah Nexian terhenti.

Bagaimana pun kualitas produk dan penguasaan teknologi merupakan syarat utama dalam perlombaan di industri smart device. Artinya, mereka yang bertahan dipastikan karena jeli mengemas inovasi teknologi dengan strategi pemasaran, sejalan dengan perubahan perilaku konsumen.

Bukan Hit and Run

Seperti disebutkan di atas, salah satu brand lokal yang terus bersaing di era smartphone ditengah derasnya ekspansi vendor-vendor global di Indonesia adalah Polytron.

Bertumpu pada pengalaman dan brand awareness yang sangat bagus, yakni sebagai produsen elektronik dan home appliances, Polytron sejatinya telah terjun ke industri ponsel sejak 2011.

Dalam perjalanan yang terbilang panjang, perusahaan yang memiliki pabrik di Kudus, Jawa Tengah, sudah mengalami pahit getir menghadapi persaingan dari merek-merek elektronik terkemuka dunia, terutama dari Korea, Eropa dan Jepang.

“Kami bukan brand yang kalau untung masih ada, kalau buntung ya selesai. Faktanya lebih dari 40 tahun kami tetap survive. Ini menjadi modal berharga bagi Polytron untuk bisa bersaing dan merebut pasar di negeri sendiri”, ujar Usun Pringgodigdo, General Manager Polytron Mobile Phone, dalam satu kesempatan.

Komitmen Polytron dalam menapaki bisnis ponsel di Indonesia terlihat dari konsistensi mengguyur pasar dengan sejumlah produk. Setidaknya Polytron menyiapkan 9 – 12 ponsel dari berbagai seri setiap tahunnya.

Seperti vendor lokal lainnya, awalnya spesialisasi produksi dititik beratkan pada feature phone. Namun seiring dengan peralihan masyarakat yang lebih banyak mengakses layanan data, kini Polytron lebih banyak memproduksi smartphone. Mengikuti tren pasar, komposisinya kini 70 persen smartphone dan 30 persen feature phone.

Salah satu smartphone besutan Polytron yang terbilang fenomenal adalah ZAP 5. Smartphone dengan teknologi 4G LTE pertama di Indonesia itu, mendapat respon pasar yang bagus saat diperkenalkan kepada masyarakat pada 2015.

Prime Series

Sejauh ini smartphone kelas entry level memang merupakan pasar terbesar di Tanah Air. Namun demikian, terus membesarnya kelas menengah membuat pasar di segmen mid end juga semakin prospektif.

Menjawab tantangan tersebut, pada awal November 2016, Polytron, menghadirkan Prime 7s. Ini adalah smartphone Polytron pertama di kasta tertinggi yang diproduksi di di pabrik mereka di Kudus, Jawa Tengah. Mulai dari design dan komponen, semuanya dirancang dan diproduksi secara mandiri.

Menyasar kelas menengah (mid end), Prime 7s mengusung tujuh fitur unggulan. Mulai dari dual glass design, kamera 16MP, prosesor Helio P10, memori RAM3GB/64GB yang kompatibel dengan USB on the go (OTG), teknologi sensor sidik jari, turbo charging, dan tentu saja konektivitas 4G LTE.

Dengan tujuh keunggulan yang ditawarkan, Prime 7s hanya dilego 3,8 juta. Jauh berbeda dengan harga yang ditawarkan smartphone premium milik para pesaing, yang rata-rata ditawarkan di atas Rp 5 – 7 juta.

Agar bisa eksis di segmen menengah, menjelang HUT Kemerdekaan RI di 2017, Polytron terus berinovasi dengan memperkenalkan generasi kedua, yakni Prime 7. Smartphone ini mengusung body tahan banting, sehingga dijuluki “Break Resistant”.

Bodinya dirancang dengan konstruksi frame metal dan dibalut teknologi Nano Molding, membuatnya tetap aman saat terjatuh. Walau mengusung fitur ketahanan, bukan berarti desainnya kaku. Prime 7 tetap tampil cantik, modis dan berkelas.

Berbeda dengan Prime 7s, Polytron membandrol Prime 7 lebih murah, yakni hanya Rp 2.599.000.

Nah, melanjutkan dua varian sebelumnya, pada awal pekan ini (19/2/2018) Polytron kembali memperkenalkan generasi ketiga, yakni Prime 7 Pro.

Menyasar kaum milennial dan pekerja muda yang kekinian, Prime 7 Pro punya keunggulan dari sisi baterai besar yaitu 5000mAh yang diklaim mampu bertahan 10 hari standby.

Baterai besar juga dilengkapi fitur turbo charging. Polytron mengklaim, dengan pengisian daya 10 menit menggunakan charger bawaan dapat memberikan output 80 menit waktu bicara. Selain itu smartphone juga bisa berfungsi sebagai powerbank dan sudah mendukung fitur USB OTG (On-The-Go).

Di sektor layar, smartphone ini telah dibekali layar kurva 2.5D berukuran 5.5 inci dengan resolusi Full HD sudah dilapisi Corning Gorrila Glass.

Prime 7 Pro cocok bagi pengguna yang suka berfoto karena Polytron membekali kamera depan 13MP dan kamera utama 13MP. Kamera sudah dilengkapi lensa lima lapis yang diklaim mampu menghasilkan foto yang detil dan jernih.

Dengan prosesor Octa-core lengkap dengan memori RAM 3GB dan ROM 32GB, dipastikan Prime 7 Pro mampu menjalankan berbagai aplikasi secara bersamaan bahkan hingga lebih dari 20 aplikasi.

Untuk urusan security, Prime 7 Pro memiliki sensor fingerprint yang terletak pada tombol “Home” dan berkerja hanya dalam waktu sekitar 0.6 detik. Sensor sidik jari juga bisa diatur untuk mengunci lima macam aplikasi berbeda.

Polytron Prime 7 Pro, juga dilengkapi dengan teknologi DTS Sound (Digital Theatre Sound). Efek surround-nya dapat memberikan pengalaman suara home theatre. Fitur ini dapat dinikmati lebih optimal dengan menggunakan earphone Muze.

Fitur unggulan lainnya adalah IR blaster dapat berfungsi sebagai remote control untuk berbagai perlengkapan elektronik. Dengan 3-in-1 slot pengguna dapat bersamaan menyelipkan dua SIM card dan satu MicroSD card yang dapat menampung kapasitas hingga 128GB. Kedua SIM card tersebut bisa mendukung panggilan suara berbasis data 4G atau dikenal dengan VoLte (Voice Over Lte).

Prime 7 Pro memiliki tiga varian warna dengan finishing metal yang berkilau, yaitu Mocha, Blue, dan Gold, dijual dengan harga Rp2,5 juta. Smartphone ini sudah bisa di dapatkan di gerai-gerai Erafone, Carefour, Giant dan toko smartphone terdekat lainnya. Sedangkan untuk layanan online juga dapat dijumpai di Polytronstore.com, blibli, dan Lazada.

Tantangan Polytron

Upaya Polytron yang berusaha naik kelas di industri smartphone nasional, jelas menunjukkan bahwa brand-brand lokal sesungguhnya dapat bersaing dengan vendor global. Jaringan pemasaran yang luas dan layanan purna jual yang merata di seluruh Indonesia, menjadi nilai lebih Polytron dibandingkan merek ponsel lainnya.

Apalagi Polytron berada dibawah grup besar, yakni Djarum, yang merupakan salah satu kelompok usaha terbesar di Indonesia.

Namun untuk bisa memenangkan pertempuran, sebagaimana merek lokal lainnya, Polytron dihadapkan pada persoalan mendasar. Yakni rendahnya nasionalisme dan kebanggaan terhadap produk dalam negeri.

Seperti kita ketahui, hingga saat ini konsumen Indonesia belum sepenuhnya percaya kemampuan produk dalam negeri. Mereka tetap menyukai produk impor atau produk yang memiliki embel-embel luar negeri. Selain gengsi, sebagian besar masyarakat kita masih percaya produk luar negeri memiliki kualitas yang lebih baik dibanding produk lokal.

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah menyangkut persepsi. Harus diakui, persepsi yang bagus yang telah dicapai oleh produk-produk elektronik di segmen home appliances, belum sepenuhnya mengatrol ekuitas merek (perceive equity) Polytron di segmen ponsel.

Masyarakat Indonesia tentu sudah mengetahui bahwa Polytron adalah produsen elektronik terkemuka di Indonesia. Namun, belum banyak konsumen yang tahu kalau Polytron juga memproduksi smartphone dengan kualitas yang sebanding dengan brand global.

Ini artinya, secara awareness, ponsel buatan Polytron masih dalam tahap brand recognition. Belum sampai ke tahap brand recall, apalagi top of mind.

Karenanya diperlukan program kampanye pemasaran yang lebih intensif juga terintegrasi. Semisal menggencarkan program bundling dengan produk elektronik Polytron lainnya. Model purchase with purchase bisa menjadi solusi.

Permasalahan lain yang juga mengemuka adalah menyangkut segmentasi produk. Saat ini ponsel besutan Polytron umumnya menyasar segmen entry level hingga medium yang merupakan pasar mainstream. Namun di pasar yang gemuk ini, Polytron harus bertarung dengan belasan merek lain.

Keputusan Polytron mengusung Prime Series sebagai flagship produk, merupakan terobosan yang sangat bagus untuk mengatrol perceive equity. Namun hal itu perlu didukung serangkaian program yang bisa menyentuh sisi emosional pengguna. Karena pengguna kelas menengah tidak membeli produk sebatas penilaian pada harga saja. Namun juga kelengkapan fitur dan image produk.

Segmentasi pasar memang menjadi poin yang sangat krusial bagi Polytron. Karena hal ini berdampak pada penetapan harga produk. Untuk masuk ke segmen menengah yang mematok harga di atas Rp 3 juta, konsumen mungkin masih berfikir dua kali membeli smartphone besutan Polytron.

Berkaca pada produk-produk elektronik lain yang sudah dikuasai selama ini, segmentasi pasar yang tepat buat Polytron adalah tetap fokus di segmen menengah bawah. Khususnya rentang harga Rp 1 – 2,5 juta. Di sini, Polytron punya keunggulan untuk bisa bersaing dengan brand-brand lain.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU