Kominfo Akan Panggil Indosat Ooredoo Terkait Kampanye Tarif Murah

IMG-20160615-WA0011Jakarta, Selular.ID – Belakangan beredar kampanye tarif telepon murah antar operator yang dilakukan Indosat Ooredoo. Dalam kampanye tersebut, selain menawarkan tarif murah juga menyudutkan salah satu operator selular. Sebagai respon atas kampanye tersebut Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan memanggil Indosat Ooredoo untuk memberikan klarifikasi.

Hal tersebut disampaikan Rudiantara, Menkominfo RI saat menghadiri buka puasa bersama Sinar Mas Group di kantor pusat Smartfren, Jakarta (16/6/2016). “Saya akan minta Badan Regulasi Telekomunikasi Indoneaia (BRTI) untuk mengundang Indosat Ooredoo dan meminta penjelasan,” tegasnya.

Menurut Rudiantara ada dua isu dalam kampanye tersebut. Pertama, isu substansi mengenai tarif. Kedua, cara berpromosi yang menyangkut masalah etika.

Lebih lanjut menteri yang biasa dipanggil Chief RA ini menyampaikan dari sisi masyarakat, promosi ini memberikan pilihan bagi masyarakat. Namun demikian Pemerintah juga harus memperhatikan bahwa berkompetisinya harus fair dan bersifat jangka panjang. Pemerintah berkepentingan juga jangan sampai promosi-promosi yang malah menyesatkan masyarakat.

“Jadi tugas pemerintah juga harus melindungi masyarakat agar kalau promosi itu sesuatu yang sustainable. Baik dari sisi substansi yang ditawarkan kepada masyarakat maupun dari sisi cara berkomunikasi terutama etika komunikasinya,” tegasnya.

Menkominfo juga berharap hal ini tidak berkepanjangan dan promosi yang dilakukan tidak menjelekkan pihak lain dan tidak menyesatkan. Masyarakat harus mendapatkan kepastian bahwa promosi itu memberikan manfaat bagi masyarakat. Bukan yang promosi terus tiba-tiba hilang.

Dihubungi secara terpisah, I Ketut Prihadi Kresna, Komisioner BRTI membenarkan pihaknya akan memanggil Indosat Ooredoo terkait hal inj.

“Nanti kami segera undang Indosat Ooredoo. Iklan spt ini tidak sesuai dengan etika Pariwara. Jika hal tadi adalah iklan, maka iklan ini tidak etis jika berusaha menjatuhkan kompetitornya, apalagi dengan menyebut nama pesaingnya langsung,” tuturnya.

Lebih lanjut dikatakan Ketut jika hal ini benar iklan, seharusnya PPPI juga bisa menegur atau menghimbau si pembuat iklan.