Thursday, September 19, 2019
Home Chatting Unggulkan Desain dan Performa Teknologi

Unggulkan Desain dan Performa Teknologi

-

Dwi Lingga Jaya - Chief Executive Officer Wiko Mobile Indonesia
Dwi Lingga Jaya – Chief Executive Officer Wiko Mobile Indonesia
Persaingan pasar smartphone di Indonesia sudah sedemikian sengit. Banyak vendor baru yang tertarik untuk mencoba bersaing merebut potensi pasar yang ada. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memang menjadi target pasar yang menggiurkan. Ditambah penetrasi smartphone di Tanah Air yang masih terbilang rendah. Di mana banyak pengguna yang masih menggunakan feature phone dan belum beralih ke smartphone.

Ini tentu menjadi magnet bagi para vendor ponsel untuk mencicipi ‘gurihnya’ pasar smartphone di Indonesia.  Dan terbukti, beberapa tahun belakangan terakhir pasar smartphone di sini bertambah riuh. Tidak hanya vendor yang sudah eksisting, juga muncul vendor merek lokal yang sempat banyak bermunculan meski akhirnya tidak sedikit pula yang akhirnya tumbang. Tidak berselang lama, muncul vendor baru yang sebenarnya pemain lama. Yaitu para vendor yang sebelumnya lebih fokus di bidang IT (Information Technology) Komputer, yang memcoba untuk juga masuk ke ranah smartphone. Dan belakangan, kian banyak vendor asal luar negeri menyerbu pasar Indonesia. Mulai dari vendor asal negeri Tiongkok, yang tercatat paling banyak, hingga vendor dari belahan benua lain.

Salah satunya vendor asal daratan Eropa, yaitu Wiko Mobile. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, vendor asal Perancis ini menghadirkan serangkain produk smartphone dengan keunggulan tersendiri. Strategi apa saja yang dilakukan Wiko untuk bisa bersaing di ramainya pasar smartphone di Indonesia? Selular berkesempatan mewawancarai secara eksklusif Dwi Lingga Jaya, Chief Executive Officer Wiko Mobile Indonesia.

Kehadiran cukup memberikan kejutan. Merek baru yang sepertinya belum pernah terdengar sebelumnya. Bisa dijelaskan profile Wiko?
Wiko memang terbilang vendor baru. Baru hadir pada 2011 di kota Marsielle, Perancis. Meski begitu Wiko mampu tumbuh dengan pesat. Di Eropa, Wiko sudah mampu menembus pasar. Hanya dalam waktu dua tahun, Wiko sudah mampu menjadi vendor nomor dua dengan market share sebesar 16,2%. Bahkan boleh dikatakan Wiko menjadi vendor handset terbesar di Perancis untuk non kontrak dengan operator. Wiko memang memulai pasar smartphone dengan sistem non kontrak. Lalu di Portugal, Wiko juga  berhasil menduduki peringkat kedua. Serta di Belgia Wiko masuk dalam lima besar.

Selanjutnya Wiko juga merambah negara-negara di Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara. Untuk Asia tenggara, Wiko masuk pertama kali ke Vietnam, Thailand baru kemudian Indonesia pada 27 Februari 2015.

Apa yang membuat Wiko tertarik masuk ke pasar Indonesia?
Sepertinya semua vendor ponsel tertarik dengan pasar Indonesia. Karena pangsa pasarnya yang besar. Selain karena jumlah penduduknya yang besar, juga karena konsumsi ponselnya besar. Termasuk konsumsi smartphone yang jumlahnya mencapai 2,5 juta unit perbulan.

Di Indonesia kontribusi smartphone dan non smartphone saat ini sama-sama 50%. Ini berarti potensi pasar smartphone masih besar, baik yang beralih dan maupun yang baru menggunakan smartphone. Selain itu juga masyarakat Indonesia saat ini sudah faham teknologi, sudah mengerti spesifikasi smartphone dan sudah pintar membandingkan harga. Plus masyarakat juga sudah melek internet. Dan bicara akses internet, pasti terkait smartphone.

Meski memiliki potensi besar, namun persaingan di pasar smartphone Indonesia terbilang ketat. Terutama dengan masuknya merek-merek baru. Seperti apa Wiko menghadapinya?
Salah satu strategi yang Wiko lakukan, yaitu ketika masuk ke pasar Indonesia tidak hanya membawa satu-dua tipe saja. Wiko menyediakan smartphone untuk semua segmen, mulai dari entry level yang harganya Rp 1 jutaan hingga smartphone flagship kelas high end.  Kami ingin memberikan banyak pilihan ke konsumen.

Apa yang menjadi diferensiasi dari smartphone Wiko?
Wiko mengedepankan desain dan performa. Karena berasal dari Perancis, yang merupakan salah satu pusat mode dunia, maka Wiko mengedepankan desain yang lebih fashionable. Namun selain desain yang menarik, Wiko juga tidak melupakan sisi teknologi terutama performanya. Teknologi yang Wiko bawa buka sekedar teknologi yang pas-pasan.

Selain itu, kami juga memberikan harga yang pantas untuk setiap seri smartphone. Ada value for money dari setiap produk yang kami jual. Karena saat ini orang Indonesia sudah faham spesifikasi dan harga. Kalau dulu orientasi pengguna hanya merek saja.

Sebagai pendatang baru, bagaimana strategi Wiko terkait brand awareness?
Terkait dengan brand awareness, kami melakukan banyak aktifitas, mulai dari above the line (atl) dan below the line (btl). Salah satunya kami menghadirkan sesuatu yang berbeda di Roxy sebagai pusat ponsel terbesar se-Asia Tenggara, yaitu Wiko Experience Store. Selain itu kampanye kami di sosial media juga kuat. Follower Wiko di facebook dan twitter terbilang banyak.

Apa target dengan dihadirkannya Wiko Experience Store?
Targetnya sebenarnya lebih kepada brand awareness dan edukasi. Sisi penjualan ada juga tapi porsinya hanya 30%. Kami hadirkan outlet dengan konsep yang berbeda, dengan harapan orang nyaman untuk mencoba berbagai produk Wiko. Perkara membeli smartphone Wiko di toko lain, bukan di Wiko Experiences Store, itu tidak masalah. Yang penting pengguna bisa merasakan pengalaman menggunakan produk Wiko.

Bagaimana dengan strategi distribusi dari Wiko?
Wiko memakai distributor nasional dan lokal. Untuk distributor lokal seperti di Surabaya, Batam dan Jawa Tengah. Pendistribusian Wiko juga sudah nasional, mulai dari Aceh hingga Kupang dan Kendari. Wiko juga masuk ke ritel, seperti bekerjasama dengan SentraPonsel dan Point2000. Kami juga memanfaatkan modern channel, bekerjasama dengan LotteMart. Serta juga memanfaatkan toko online, misalnya dengan melakukan pre order.

Antara kota besar dan daerah, bagaimana pertumbuhan pasar smartphone, khususnya untuk Wiko?
Kalau melihat dari data lembaga riset GFK, potensi paling besar masih di Jakarta. Tapi dari Jakarta biasanya juga merambah ke kota-kota sub urban di sekitarnya. Untuk Wiko sendiri bisa dikatakan hampir berimbang penjualan di kota besar dengan di sub urban, tidak terlalu timpang. Ini karena Wiko memiliki product range yang banyak mulai dari entry level hingga high end.

Bagaimana dengan layanan service center yang disediakan Wiko?
Wiko sudah membuka 31 titik service center di 29 kota. Untuk di beberapa kota besar, kamu menyediakan layanan same day service atau swap. Jadi ketika smartphone rusak dan perbaikannya memerlukan waktu lebih dari satu hari, maka akan kami langsung ganti dengan yang baru. Untuk sementara layanan ini baru jalan di 5 kota besar. Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, Makasar.

Dwi-Lingga-Jaya-1Bagaimana Wiko memandang pasar 4G yang baru hadir di Indonesia?
Hadirnya 4G merupakan indikasi yang bagus. Berarti Indonesia terus berkembang teknologinya. Semakin cepat dalam mengkases internet, membawa dampak pada semakin sering dan maksimal dalam penggunaan smartphone. Semua smartphone flagship dari wiko sudah mendukung 4G.

Terkait 4G, bagaimana Wiko menilai aturan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) yang diterapkan pemerintah?
Pendapat pribadi saya, itu bagus untuk Indonesia. Karena tujuannya untuk transfer knowledge. Jadi Indonesia tidak hanya jadi sasaran untuk pasar, tapi juga untuk investasi dan transfer knowledge. Wiko sendiri sudah menyiapkan dari awal terkait TKDN. Mulai dari mengirimkan orang untuk belajar manufaktur di Shenzhen, Cina hingga rencana untuk bangun pabrik. Kalau semua berlanjar, mudah-mudahan Desember ini sudah Wiko sudah bisa produksi di sini.

Apa yang menjadi target dari Wiko?
Target Wiko sebenarnya lebih kepada kualitas. Soal jumlah penjualan masih dikesampingkan sementara. Selain itu juga target memberikan experience yang bagus tidak hanya ke konsumen tapi juga ke dealer. Masalah brand awareness juga menjadi target Wiko lainnya.

Latest