29 January 2014 11:00
selular20140127113623
Siapa bilang gula dipakai hanya untuk bahan pemanis pada makanan atau minuman saja. Tim peneliti dari Virginia Tech, Amerika Serikat, malahan mengembangkan prototipe baterai dengan bahan gula. Penelitian yang dipimpin oleh Y.H. Percival Zhang ini menemukan bahwa gula merupakan senyawa penyimpan energi yang paling sempurna di dunia. Di masa depan, baterai dari gula ini akan menggantikan baterai konvesional di smartphone dan tablet, karena ramah lingkungan.Dalam studi tersebut, peneliti menemukan bahwa bahan bakar terbaik adalah larutan gula yang terbuat dari 15% malodextrin, yang merupakan produk dari pati jagung. Dalam sel bahan bakar, campuran malodextrin dikombinasikan dengan air dan udara bisa untuk menghasilkan listrik.Tak hanya ramah lingkungan, baterai yang diklaim mempunyai densitas energi yang tinggi tersebut juga bisa dibuat dengan harga yang murah. Lebih hebatnya, karena berbahan dasar gula, maka baterai diisi ulang dengan sangat mudah – dengan hanya menambahkan gula seperti mengisi tinta cartridge. Para peneliti mengklaim bahwa baterai gula bisa menyimpan energi 10 kali lebih besar dari baterai lithium-ion pada smartphone.
selular18886801320140127113526
Selanjutnya, baterai bersifat biodegradable ini akan menggunakan reaksi kimia untuk menghasilkan listrik dari molekul yang dapat ditemukan di gula. Baterai gula berbeda dengan baterai yang berbahan hidrogen dan sel bakar metanol. Oleh karenanya selain menyimpan kepadatan energi yang lebih tinggi, baterai juga tidak mudah terbakar. Targetnya, pengembangan biobattery ini bisa rampung dalam beberapa tahun mendatang.
“Dalam tiga tahun ke depan, kami akan memproduksi baterai gula yang bisa digunakan untuk ponsel pintar, tablet, konsol game, dan perangkat elektronik lainnya yang membutuhkan baterai,” ungkap Zhang.
selular25987000420140127113526
“Masa pakai baterai tergantung pada konsentrasi gula, ditambah berapa banyak elektron yang diambil per glukosa,” tambah Zhang.Meski baterai gula menyimpan sejumlah energi yang tinggi, namun tak dipungkiri jumlah maksimum daya terukur masih lebih rendah dari lithium-ion, sehingga membatasi potensi aplikasi untuk perangkat portable. Contohnya, Anda tidak bisa menggunakan gula baterai untuk menjalankan kendaraan. (Choi)
Sumber : http://www.nature.com/