Kantor Sat Nusapersada (Foto: Bisnis.com)
Kantor Sat Nusapersada (Foto: Bisnis.com)
Kantor Sat Nusapersada (Foto: Bisnis.com)

Dibanding negara lain, Indonesia lagi-lagi terlambat dalam mengimplementasikan teknologi jaringan 4G. Padahal uji cobanya sudah dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya. Saat ini memang sudah ada layanan 4G, namun hanya terbatas untuk area Jabodetabek saja bagi pelanggan Bolt Internux. Di saat masih belum adanya kejelasan komersialisasi 4G di tingkat nasional, PT Sat Nusapersada Tbk, sebuah perusahaan manufaktur elektronik di Batam, dengan beraninya mempelopori produksi perangkat smartphone berteknologi 4G di Indonesia.

Seperti dilansir dari Investor Daily (06/07), Presiden Direktur PT Sat Nusapersada Tbk Abidin mengatakan bahwa pihaknya menggagas produksi lokal ini karena melihat kebutuhan akan smartphone semakin tinggi sementara ada upaya pembatasan produk luar negeri. Abidin mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan adanya kebutuhan smartphone cukup tinggi. Di mana selama 2013 impor ponsel mencapai 16.470 ton atau senilai dengan US$2,8 miliar atau setara dengan Rp34,1 triliun. Nilai itu bahkan menjadi penyumbang defisit neraca perdagangan tertinggi setelah sektor nonmigas.

“Pengguna smartphone kurang lebih 62 juta, dan untuk memenuhi kebutuhan kita mengandalkan impor. Karenanya kita mencoba mempelopori produksi dalam negeri,” ujar Abidin pada peluncuran di kantornya yang berlokasi di Pelita, Lubukbaja, Batam. Abidin menjelaskan, pembuatan smartphone 4G dalam negeri ini, didesain oleh PT Tata Sarana Mandiri (TSM) dan diproduksi oleh PT Sat Nusapersada Tbk.

TSM dalam hal ini berperan sebagai pengembang desain produk sekaligus pemilik merek smartphone 4G yang diberi nama IVO. Secara bertahap, proses desain dari kustomisasi perangkat lunak (software), operating system, desain user interface, desain produk, hingga desain tata letak sirkuit (PCB) dilakukan bekerja sama dengan Pusat Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pusat Unggulan Inovasi BWA ITB.

Sementara itu, Sat Nusapersada adalah sebuah perusahaan yang menyediakan jasa manufaktur elektronik (Electronics Manufacturing Services), dari proses surface mount technology (SMT), metal stamping, plastic injection, auto spray painting, hingga final assembly. Secara bertahap, Sat Nusapersada akan melakukan produksi ponsel dari tahap SKD (Semi Knocked Down), CKD (Completely Knocked Down), hingga peningkatan kandungan komponen lokal.

Pada tahap awal, Sat Nusa akan memproduksi sebanyak 100 ribu setiap bulan dan akan terus meningkat bergantung respon pasar. Tak hanya menyasar pasar domestik, ponsel pintar buatan Indonesia ini juga tak menutup peluang untuk diekspor ke luar negeri.Di awal, ditargetkan dapat memproduksi sekitar 100 ribu unit perbulan. Namun yang tak kalah penting menurut Abidin adalah bukan sekadar nilai produksi, melainkan juga upaya penciptaan lapangan kerja.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen IUBTT Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi mengapresiasi langkah Sat Nusa dan TSM sebagai independent design house yang telah berperan dalam membangun dan mengembangkan industri berbasis teknologi tinggi berupa seluler. Hal ini karena Indonesia merupakan populasi pengguna handphone terbesar keempat bagi produsen. Sebagai contoh, hingga Juni 2014 impor handphone sudah mencapai 27,3 juta unit. Sehingga ini harus diantisipasi dengan terus mengembangkan industri telepon selular di Indonesia. “Pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan industri seluler di dalam negeri, dan iniĀ  menjadi fokus ke depan,” tegasnya.

Karena berbasis 4G, smartphone dengan merek IVO ini diklaim memiliki kecepatan 10 kali lipat dibanding 3G. Dapur pacunya menggunakan chipset Qualcomm Snapdragon 400 dengan processor quad core 1,2 GHz, RAM 1 GB, strorage 8 GB, camera 8 MP, dan Dual Sim card yang didesain khusus untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Smartphone ini dapat bekerja pada berbagai frekuensi LTE lin seperti 1800Mhz, 2300Mhz, 2600Mhz, termasuk frekuensi data 3G dan 2G, sehingga dapat beroperasi di berbagai negara.

Direktur TSM, Sam AliĀ  mengatakan, dari analisa kebutuhan bahan baku, smartphone tersebut dilepas ke pasaran dengan harga cukup terjangkau. “Harga sangat terjangkau, tidak lebih dari Rp2 juta,” ujarnya. Estimasi harga ini, lanjutnya, karena memang produk tersebut akan dipasarkan di dalam negeri, dengan segmentasi masyarakat menengah ke bawah.