WhatsApp Gelar Kelas Pengasuhan Digital di Tiga Kota Indonesia

BACA JUGA

Selular.ID – WhatsApp bersama ICT Watch dan Keluarga Kita, dengan kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI), meluncurkan program Kelas Pengasuhan Digital pada 16 Oktober 2026.

Program edukasi selama tiga bulan ini berlangsung di Jakarta, Padang, dan Cirebon untuk membantu orang tua mendampingi remaja di ruang digital sekaligus memperkenalkan fitur kontrol orang tua opsional yang tersedia di WhatsApp.

Program yang berjalan dari Oktober hingga Desember 2026 tersebut dimulai di Jakarta dengan melibatkan 100 orang tua. Selanjutnya, pelatihan akan diperluas melalui penggerak komunitas lokal di Padang dan Cirebon.

Secara keseluruhan, inisiatif ini menargetkan 2.100 orang tua sebagai peserta yang dijangkau secara langsung, serta sekitar 179.000 orang tua melalui distribusi materi edukasi dan kanal komunitas mitra.

Victoria Grand, VP Business Operations and External Affairs WhatsApp, mengatakan fitur kontrol orang tua dirancang untuk menjawab kebutuhan keluarga yang ingin mendampingi remaja tanpa menghilangkan privasi percakapan mereka.

Menurutnya, pengenalan fitur tersebut perlu disertai edukasi agar orang tua memahami pengaturan yang tersedia dan dapat menggunakannya sesuai kebutuhan keluarga.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

“Fitur ini hanya salah satu bagian dari upaya kami. Kami ingin memastikan para orang tua mengetahui keberadaan fitur-fitur ini dan memahami cara menggunakannya,” ujar Victoria dalam keterangan resmi WhatsApp.

WhatsApp Hadirkan Kontrol Orang Tua Tanpa Membuka Pesan Pribadi

Fitur kontrol orang tua yang diperkenalkan WhatsApp memungkinkan orang tua mengelola sejumlah pengaturan akun remaja tanpa harus membaca percakapan pribadi mereka.

Pendekatan ini menggabungkan pendampingan penggunaan aplikasi dengan perlindungan privasi, sehingga orang tua dapat membantu mengatur interaksi digital tanpa memperoleh akses ke isi pesan.

Pengaturan yang tersedia mencakup beberapa aspek penggunaan WhatsApp, antara lain menentukan siapa yang dapat menambahkan akun remaja ke grup, memantau notifikasi aktivitas grup dan Saluran yang diikuti, serta mengatur Saluran yang boleh diikuti remaja.

Orang tua juga dapat mengelola izin bagi remaja untuk membuat Saluran sendiri, pengaturan visibilitas Status, dan pembatasan interaksi dengan Meta AI.

WhatsApp menyatakan kontrol tersebut bersifat opsional dan dapat disesuaikan. Artinya, penerapannya dapat mengikuti kebutuhan masing-masing keluarga, bukan menjadi pengaturan wajib bagi semua pengguna remaja.

Perusahaan juga menegaskan bahwa pesan pribadi di WhatsApp dilindungi enkripsi end-to-end secara default.

Teknologi ini memastikan isi pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerima yang berkomunikasi, bukan oleh WhatsApp sebagai penyedia layanan.

Pengaturan kontrol orang tua yang dijelaskan dalam program ini tidak memberikan akses kepada orang tua untuk membaca isi percakapan pribadi anak.

Pengenalan fitur tersebut menjadi salah satu fokus Kelas Pengasuhan Digital. Program ini tidak hanya membahas cara mengaktifkan pengaturan keamanan, tetapi juga mendorong komunikasi terbuka antara orang tua dan remaja ketika menghadapi persoalan di internet.

Materi Edukasi Membahas Interaksi, Konten, dan Kesehatan Mental

Untuk mendukung pelaksanaan program, Meta, WhatsApp, ICT Watch, Keluarga Kita, dan KOMDIGI mengembangkan perangkat pembelajaran atau parental learning kit.

Materi tersebut terdiri atas modul, buku saku, video edukasi, serta dua permainan edukatif yang dirancang untuk membantu orang tua memahami tantangan pengasuhan di era digital.

Materi pembelajaran berfokus pada empat isu yang kerap menjadi perhatian keluarga, yakni interaksi, konten, kecanduan, dan kesehatan mental.

Pembahasannya diarahkan pada pemahaman risiko, pengenalan pengaturan keamanan, serta cara membangun komunikasi yang mendukung remaja ketika mereka menghadapi situasi sulit di ruang digital.

Program ini juga mencakup pelatihan bagi para pelatih atau Training of Trainers (ToT).

Para peserta yang telah dibekali materi diharapkan dapat meneruskan edukasi kepada komunitas masing-masing.

Pendampingan lanjutan akan melibatkan Parent Champions, yaitu orang tua penggerak yang membantu memperluas jangkauan pembelajaran.

Materi parental learning kit juga akan didistribusikan melalui kanal komunitas mitra.

Strategi tersebut menjadi bagian dari target jangkauan sekitar 179.000 orang tua hingga Desember 2026, di luar sasaran 2.100 orang tua yang dijangkau melalui rangkaian program di tiga kota.

Indriyatno Banyumurti, Direktur Eksekutif ICT Watch, menyebut pemahaman orang tua menjadi faktor penting agar fitur keamanan digital dapat digunakan secara efektif.

Pengalaman organisasi tersebut dalam literasi digital menunjukkan bahwa pengetahuan teknis perlu disertai komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.

Karena itu, modul yang dikembangkan bersama para mitra menitikberatkan praktik langsung. Orang tua tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai pengaturan keamanan, tetapi juga berlatih menggunakannya dan mempelajari cara membangun percakapan terbuka dengan remaja.

KOMDIGI Kaitkan Literasi Digital dengan Pelindungan Anak

Keterlibatan Kementerian Komunikasi dan Digital menempatkan program ini dalam konteks upaya pelindungan anak di ruang digital.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan pemerintah menjalankan PP TUNAS untuk memperkuat pelindungan anak di lingkungan digital.

Menurut Nezar, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, penyedia platform digital, keluarga, dan komunitas.

Ia juga menyoroti pentingnya membekali anak dengan kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, menjaga data pribadi, serta menggunakan teknologi secara bijak dan beretika di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau AI.

Nezar mengapresiasi kolaborasi WhatsApp, ICT Watch, dan Keluarga Kita melalui Kelas Pengasuhan Digital. Ia menekankan bahwa orang tua perlu menjadi teman berdiskusi agar anak merasa nyaman bercerita ketika menghadapi masalah di internet, bukan hanya berperan sebagai pengawas.

Sementara itu, Yulia Indriati, Co-Founder Keluarga Kita, menilai sebagian orang tua membutuhkan panduan praktis untuk mengikuti perubahan lingkungan digital yang dialami anak-anak mereka.

Menurutnya, materi pengasuhan perlu membantu orang tua memahami risiko sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dalam membangun komunikasi terbuka di rumah.

Yulia juga menyoroti sifat opsional fitur kontrol orang tua WhatsApp. Pengaturan yang dapat disesuaikan memberi ruang bagi keluarga untuk menentukan pendekatan pendampingan sesuai kebutuhan, sambil tetap memperhatikan keamanan dan privasi remaja.

Melalui Kelas Pengasuhan Digital, WhatsApp dan para mitra menggabungkan pengenalan fitur keamanan dengan pendidikan pengasuhan dan literasi digital.

Program ini dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026 di Jakarta, Padang, dan Cirebon, dengan distribusi materi melalui komunitas sebagai upaya memperluas akses edukasi kepada orang tua dan pengasuh di Indonesia.

Baca Juga: Meta Uji Coba Tampilan Baru WhatsApp Android Lewat Fitur Navigasi Oval

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU