Selular.ID -

Perbanas dan IBM Ungkap Kedaulatan Digital Jadi Prioritas Perbankan

BACA JUGA

Selular.ID – Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) bersama IBM merilis whitepaper bertajuk Digital Sovereign AI and the Future of Trusted Banking yang mengungkap bahwa 73% bankir di Indonesia menempatkan kedaulatan digital sebagai agenda utama transformasi perbankan dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.

Studi tersebut mencatat tingkat relevansi kedaulatan digital di kalangan responden berada di angka 3,98 dari skala 5 atau hampir 80%.

Kedaulatan digital dalam konteks ini tidak sekadar berfokus pada lokasi penyimpanan data.
Melainkan mencakup kendali penuh atas data, kecerdasan buatan, serta operasional penting bank guna memperkuat keamanan dan kepatuhan.

Whitepaper yang turut disusun bersama K&A ini menyoroti adanya kesenjangan antara ambisi adopsi kecerdasan buatan dan tingkat kesiapan tata kelolanya.

Rata-rata kematangan proses tata kelola kecerdasan buatan di organisasi perbankan saat ini baru berada di angka 2,74 dari skala 5 atau sekitar 55%.

“Seiring meningkatnya adopsi AI, prioritas industri perbankan adalah membangun pemahaman bersama tentang penerapan kedaulatan digital dalam praktik,” ujar Toto Prasetio, Ketua Bidang Technology & Security Perbanas.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Ia menambahkan, keselarasan antara bank, regulator, asosiasi industri, dan mitra teknologi memegang peranan krusial untuk mendukung adopsi teknologi yang bertanggung jawab.

Temuan ini selaras dengan langkah penguatan kerangka tata kelola teknologi oleh otoritas di Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya telah menerbitkan panduan tata kelola kecerdasan buatan untuk sektor perbankan pada 2025.

Kemudian disusul Peraturan Anggota Dewan Gubernur OJK Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Teknologi Informasi oleh Bank Umum.

Berdasarkan data survei yang melibatkan 91 responden dari kalangan perbankan, sebanyak 34% bankir menyatakan organisasinya masih berada pada tahap uji coba terbatas atau proyek percontohan.

Sementara itu, 18% responden telah menerapkan teknologi tersebut untuk beberapa kebutuhan operasional, dan hanya 4% yang memperluas penerapannya lintas fungsi dengan tata kelola formal.

Terkait aspek risiko, sebanyak 82% responden mengidentifikasi privasi data sebagai faktor yang paling perlu dikendalikan, melampaui risiko keamanan siber sebesar 44% dan risiko regulasi di angka 41%.

Selain itu, kemampuan menjelaskan dasar keputusan sistem atau explainability serta kemampuannya untuk diaudit turut menjadi perhatian utama para pelaku industri.

Catherine Lian, General Manager IBM ASEAN, menyampaikan bahwa kecerdasan buatan kini menjadi pilar penting dalam perbankan modern, mulai dari layanan nasabah hingga pencegahan kecurangan.

“Seiring meningkatnya adopsi AI, semakin penting untuk membantu bank berinovasi secara bertanggung jawab sambil menjaga kedaulatan digital, yaitu transparansi dan kendali atas sistem, data, dan proses yang paling penting,” pungkasnya.

Sebagai tindak lanjut dari hasil studi tersebut, laporan ini memperkenalkan kerangka pengendalian lima lapis serta model kesiapan kecerdasan buatan berdaulat.

Rekomendasi praktis yang diberikan mencakup pengelolaan inventaris penggunaan teknologi, penguatan pemantauan model, penegasan tanggung jawab.

Baca Juga:Pengiriman PC Global Anjlok 21%, Counterpoint Prediksi Tekanan Berlanjut

Serta pengembangan kapabilitas sumber daya manusia di seluruh ekosistem perbankan Indonesia.

 

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU