Selular.ID – Penunjukan Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama Telkom Indonesia memunculkan pertanyaan mengenai arah baru transformasi perusahaan, terutama setelah posisi pucuk pimpinan kini dipegang sosok yang sebelumnya menjabat Direktur Network.
Latar belakang Nanang yang kuat di sektor jaringan dinilai bisa menjadi sinyal bahwa infrastruktur Telkom akan memainkan peran semakin penting dalam strategi perusahaan.
Namun, penguatan infrastruktur bukan berarti Telkom bakal meninggalkan bisnis digital.
Pengamat Telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai tantangan Nanang justru bagaimana mengubah besarnya aset jaringan Telkom menjadi sumber pertumbuhan dan nilai ekonomi baru.
Baca juga:
- Profil Nanang Hendarno, Dirut Baru Telkom dan Susunan Direksi TLKM
- Danantara Beri Target Dirut Baru Telkom, Perampingan Anak Usaha Dikebut
“Penunjukan Nanang, yang sebelumnya merupakan Direktur Network, memang dapat dibaca sebagai sinyal bahwa kekuatan infrastruktur dan konektivitas tetap menjadi bagian penting strategi Telkom,” ujar Heru kepada Selular, Jumat (2/10/2026).
“Namun saya tidak akan menyimpulkan bahwa Telkom akan meninggalkan bisnis digital,” sambungnya.
Infrastruktur Jadi Fondasi Bisnis Telkom
Heru menyoroti langkah Telkom melakukan spin-off InfraCo sekaligus mengonsolidasikan lebih dari 90% aset infrastruktur jaringan ke InfraNexia.
Aset tersebut mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, sehingga memberikan Telkom basis infrastruktur yang sangat besar untuk dikembangkan.
Menurut Heru, strategi tersebut lebih tepat dibaca sebagai upaya Telkom mempertajam fokus bisnis.
Infrastruktur menjadi fondasi, sementara lini digital dituntut memberikan monetisasi dan nilai tambah yang semakin jelas.
“Menurut saya arahnya lebih tepat disebut mempertajam fokus bisnis dimana infrastruktur menjadi fondasi, sementara bisnis digital harus menghasilkan monetisasi dan nilai tambah yang lebih jelas. Tantangannya adalah memastikan keduanya saling memperkuat,” jelasnya.
Artinya, pekerjaan rumah Telkom bukan sekadar memiliki jaringan dalam skala besar. Perseroan harus memastikan aset tersebut memiliki tingkat utilisasi tinggi sekaligus menghasilkan pertumbuhan pendapatan.
100 Hari Nanang Hendarno Jadi Ujian
Heru juga menilai 100 hari pertama Nanang Hendarno sebagai Dirut Telkom seharusnya tidak diukur berdasarkan seberapa banyak program baru yang diluncurkan.
Hal yang jauh lebih penting adalah kemampuan jajaran direksi baru menentukan prioritas sekaligus mengeksekusinya.
“Menurut saya, 100 hari pertama Nanang jangan diukur dari banyaknya program baru, tetapi dari kejelasan prioritas dan eksekusi,” kata Heru.
Setidaknya terdapat lima pekerjaan yang menurut Heru perlu menjadi perhatian awal Nanang, yakni memastikan transformasi TLKM 30 tetap berjalan, memperkuat monetisasi dan utilisasi infrastruktur setelah spin-off InfraCo, serta meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan.
Selain itu, Telkom harus memperjelas lini bisnis mana yang layak diperbesar, diperbaiki, dikolaborasikan maupun dihentikan.
Efisiensi juga harus menghasilkan dampak nyata tanpa mengorbankan kualitas jaringan yang menjadi tulang punggung layanan Telkom.
Aset Besar Harus Menghasilkan Uang
Tantangan tersebut semakin penting karena besarnya aset infrastruktur yang kini dikonsolidasikan ke InfraNexia.
Dengan jaringan fiber optic mencapai sekitar 112.000 kilometer, keberhasilan strategi baru Telkom pada akhirnya akan bergantung pada kemampuan perusahaan mengoptimalkan aset tersebut.
Karena itu, perubahan struktur maupun perampingan organisasi saja belum cukup menjadi indikator keberhasilan direksi baru.
“Ukuran awal keberhasilan Nanang bukan sekadar perubahan organisasi, tetapi apakah aset besar tersebut mampu menghasilkan pertumbuhan dan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Telkom dan ekosistem digital Indonesia,” tegas Heru.
Dengan demikian, strategi Telkom di bawah Nanang Hendarno menghadapi tantangan besar: menjadikan kekuatan jaringan bukan hanya sebagai aset infrastruktur, tetapi mesin monetisasi.
Jika strategi tersebut berhasil, infrastruktur dan bisnis digital justru dapat menjadi dua kekuatan yang saling menopang dalam transformasi Telkom ke depan.


