Selular.ID -

Dividen Telkom Makin Menggiurkan Usai Kisruh MSCI, AI Jadi Andalan

BACA JUGA

Selular.ID – Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) kembali menjadi sorotan setelah gejolak pasar modal akibat kekhawatiran terhadap kebijakan MSCI.

Tekanan terhadap harga saham Telkom justru dinilai membuka peluang peningkatan imbal hasil dividen atau dividend yield bagi investor.

Menurut laporan riset CGS International, yang Selular kutip, Senin (26/10/2026), saham Telkom dinilai semakin menarik seiring potensi pemulihan harga saham dan transformasi bisnis perusahaan.

Peningkatan dividend yield terjadi ketika harga saham turun sementara nilai dividen per saham yang menjadi dasar perhitungan tetap.

Baca juga:

Dengan demikian, kenaikan imbal hasil dividen bukan berarti Telkom telah mengumumkan kenaikan nominal pembagian dividen.

Di sisi lain, Telkom tengah menyiapkan strategi transformasi bisnis untuk memperkuat profitabilitas, termasuk memperbesar kontribusi bisnis teknologi informasi, pusat data, dan kecerdasan buatan (AI).

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Telkom Bidik Margin EBITDA 50%

Setelah pergantian direktur utama, Telkom mengarahkan transformasi perusahaan melalui strategi TLKM 30.

Strategi tersebut bertumpu pada empat pilar utama, yakni bisnis konsumen atau business to consumer (B2C), infrastruktur digital, bisnis internasional, serta teknologi informasi dan komunikasi (ICT).

Melalui transformasi tersebut, Telkom diharapkan mampu meningkatkan margin EBITDA hingga 50%.

EBITDA merupakan indikator kinerja operasional sebelum memperhitungkan bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Peningkatan margin EBITDA menjadi penting karena dapat memperkuat kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas untuk mendukung investasi, pengembangan bisnis, dan potensi pembagian dividen.

Namun, target margin tersebut masih merupakan sasaran transformasi, bukan pencapaian yang telah terealisasi.

Bisnis ICT Ditargetkan Sumbang 25% Pendapatan

Salah satu langkah strategis Telkom adalah pembentukan TLKM Enterprise sebagai wadah pengembangan bisnis ICT untuk pelanggan korporasi atau business to business (B2B).

Berdasarkan riset CGS International, segmen tersebut ditargetkan berkontribusi sebesar 25% terhadap total pendapatan Telkom pada 2030.

Langkah ini mencerminkan upaya Telkom mengurangi ketergantungan terhadap bisnis telekomunikasi konvensional.

Selain layanan konektivitas, perusahaan berupaya memperbesar pendapatan dari solusi digital untuk pelanggan perusahaan.

Penguatan bisnis ICT juga berpotensi membuka peluang baru seiring meningkatnya kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor industri.

Telkom Genjot Data Center hingga 400 MW

Selain bisnis ICT, pusat data atau data center menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru yang disiapkan Telkom.

Melalui anak usahanya, NeutraDC, Telkom menargetkan total kapasitas pusat data mencapai 400 megawatt (MW) pada 2030.

Target tersebut mencerminkan ambisi perusahaan untuk menangkap peluang meningkatnya kebutuhan infrastruktur komputasi, khususnya untuk pengembangan AI.

CGS International menyebut fasilitas pusat data Telkom telah mendapatkan kontrak penuh, didorong meningkatnya permintaan layanan berbasis kecerdasan buatan.

Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi prospek bisnis infrastruktur digital perusahaan.

Meski demikian, ekspansi pusat data juga membutuhkan investasi besar, termasuk untuk penyediaan listrik, sistem pendinginan, jaringan, dan perangkat komputasi.

Karena itu, kemampuan Telkom menjaga efisiensi belanja modal menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keuntungan jangka panjang dari ekspansi tersebut.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU