Selular.ID – Telkomsel Enterprise melalui solusi periklanan digital DigiAds meluncurkan whitepaper Ramadan Insight 2027: Reading the Rhythms of Ramadan untuk membantu agensi periklanan, pengiklan, dan pemilik merek menyusun kampanye yang lebih relevan selama Ramadan.
Dirilis pada Oktober 2026, laporan ini memetakan perubahan perilaku konsumen Indonesia dalam tiga fase Ramadan, mulai dari mencari inspirasi, berbelanja dan bersosialisasi, hingga melakukan perjalanan mudik menjelang Idulfitri.
Berdasarkan telco insight atau wawasan yang diolah dari data jaringan dan aktivitas digital, Telkomsel membagi Ramadan menjadi tiga ritme yang memiliki kebutuhan konsumen berbeda.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi DigiAds untuk menawarkan pendekatan periklanan yang menyesuaikan pesan, kanal, dan waktu penayangan dengan konteks aktivitas pelanggan.
VP Corporate Innovation, Sustainability, Marketing, and Digital Advertising Telkomsel, Mia Melinda, mengatakan strategi pemasaran selama Ramadan perlu mempertimbangkan perubahan kebutuhan konsumen sepanjang bulan tersebut.
Menurut dia, pendekatan yang relevan tidak hanya mengandalkan frekuensi kemunculan iklan, tetapi juga kesesuaian pesan dengan momen yang dihadapi calon pelanggan.
“Brand yang menang di Ramadan bukan yang paling lantang, melainkan yang paling memahami ritme konsumennya. Kebutuhan konsumen pada awal Ramadan sangat berbeda dengan kebutuhan mereka menjelang Idulfitri,” ujar Mia.
Tiga Fase Perilaku Konsumen Selama Ramadan
Dalam Ramadan Insight 2027, Telkomsel mengidentifikasi tiga fase utama yang dapat menjadi acuan perencanaan kampanye.
Pembagian ini mencerminkan perubahan aktivitas konsumen, yang berpengaruh terhadap jenis informasi dan penawaran yang berpotensi relevan pada setiap periode.
1. Sepuluh hari pertama: mencari inspirasi dan beradaptasi
Pada fase awal Ramadan, konsumen menyesuaikan rutinitas sahur, berbuka puasa, dan ibadah. Menurut data yang dipaparkan Telkomsel, trafik seluler pada waktu sahur meningkat 77% dibandingkan hari biasa.
Trafik layanan video dan streaming tumbuh 38%, sedangkan konsumsi konten religi naik 63%.
Pola tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan aktivitas digital konsumen pada awal Ramadan.
Bagi pengiklan, periode ini dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan konten yang sesuai dengan kebutuhan dan rutinitas baru, termasuk informasi produk yang berkaitan dengan aktivitas harian maupun persiapan menjalani bulan puasa.
Pendekatan kontekstual memungkinkan pesan iklan disesuaikan dengan situasi penggunaan layanan digital. Namun, relevansi kampanye tetap bergantung pada kesesuaian materi, sasaran audiens, dan waktu penayangan.
2. Sepuluh hari kedua: bersosialisasi dan berbelanja
Memasuki pertengahan Ramadan, perhatian konsumen bergeser ke kegiatan buka puasa bersama, kebutuhan keluarga, dan persiapan Idulfitri.
Telkomsel mencatat penggunaan aplikasi transportasi meningkat 58%, sementara penggunaan aplikasi kebutuhan sehari-hari dan ritel tumbuh 32%.
Laporan tersebut juga menyebut kunjungan ke pusat perbelanjaan meningkat 19%. Selain itu, sebanyak 88% konsumen yang berbelanja kebutuhan Ramadan masih memilih datang langsung ke toko fisik.
Data tersebut menunjukkan pentingnya menghubungkan aktivitas pemasaran digital dengan pengalaman belanja langsung.
Kampanye tidak hanya dapat diarahkan untuk menjangkau konsumen melalui perangkat seluler, tetapi juga dirancang untuk mendukung kunjungan ke gerai melalui informasi lokasi, promosi, atau penawaran yang sesuai.
Bagi merek di sektor ritel dan barang konsumsi atau fast-moving consumer goods (FMCG), fase ini menjadi salah satu periode untuk menyesuaikan komunikasi dengan kebutuhan belanja yang meningkat menjelang Idulfitri.
3. Sepuluh hari terakhir: mudik dan berkumpul bersama keluarga
Pada fase akhir Ramadan, aktivitas konsumen semakin berkaitan dengan persiapan perjalanan dan pertemuan keluarga. Telkomsel mencatat akses ke aplikasi perjalanan meningkat 32%.
Laporan tersebut juga menyebut 73% pemudik singgah di area istirahat atau rest area untuk beristirahat, beribadah, dan makan.
Perubahan aktivitas ini membuka peluang bagi merek untuk menghadirkan informasi yang relevan selama perjalanan.
Produk kebutuhan perjalanan, makanan dan minuman, layanan transportasi, serta kebutuhan keluarga dapat menyesuaikan pesan kampanye dengan situasi konsumen pada periode mudik.
Bagi pengiklan, pemahaman terhadap waktu dan konteks aktivitas menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan penempatan iklan.
Meski begitu, efektivitas kampanye tetap perlu diukur berdasarkan indikator yang sesuai dengan tujuan bisnis masing-masing.
DigiAds Tawarkan Iklan Kontekstual dan Berbasis Lokasi
Untuk menerjemahkan temuan tersebut menjadi strategi pemasaran, Telkomsel Enterprise menawarkan sejumlah solusi melalui DigiAds.
Layanannya mencakup Contextual Messaging, komunikasi berbasis lokasi, integrasi merek dalam tayangan spesial Ramadan di MAXStream, serta penempatan kampanye di titik-titik perjalanan mudik.
Contextual Messaging merupakan pendekatan penyampaian pesan yang mempertimbangkan konteks atau momen tertentu agar informasi yang diterima konsumen lebih sesuai dengan kebutuhannya.
Sementara itu, pendekatan berbasis lokasi dapat membantu pengiklan menghubungkan interaksi digital dengan aktivitas di wilayah atau titik tertentu, termasuk kunjungan ke toko fisik.
Telkomsel menyebut penerapan Contextual Messaging pada momen yang relevan mampu meningkatkan rasio klik hingga 2,6 kali lipat.
Rasio klik atau click-through rate (CTR) mengukur proporsi pengguna yang mengeklik iklan dibandingkan dengan jumlah penayangan atau impresi yang menjadi dasar perhitungannya.
Namun, materi yang disampaikan belum merinci tolok ukur pembanding, kategori kampanye, periode pengukuran, maupun jumlah sampel yang mendasari peningkatan tersebut.
Karena itu, angka 2,6 kali lipat perlu dipahami sebagai hasil yang diklaim Telkomsel untuk penerapan solusi tersebut, bukan jaminan hasil yang sama pada setiap kampanye.
Integrasi merek dalam tayangan Ramadan di MAXStream juga memperluas pilihan penempatan iklan ke lingkungan konten video.
Pendekatan ini memberi pengiklan opsi untuk menyelaraskan pesan dengan jenis konten yang dikonsumsi audiens, sementara komunikasi berbasis lokasi dapat digunakan untuk mendukung kampanye yang memiliki sasaran kunjungan fisik.
Data Agregat Menjadi Dasar Perencanaan Kampanye

Telkomsel memaparkan temuan Ramadan Insight 2027 dalam forum Ramadan Insight 2027: The Rhythms of Ramadan yang berlangsung di Jakarta pada 16 Oktober 2026.
Acara tersebut mempertemukan agensi, pengiklan, pemilik merek, dan praktisi industri, dengan pembicara dari Telkomsel, Meta, Nestlé, dan WPP.
Perusahaan menyatakan seluruh wawasan dalam laporan diolah secara agregat dan dianonimkan, sehingga tidak ditujukan untuk mengidentifikasi pelanggan secara personal.
Pengolahan tersebut menjadi bagian dari pendekatan Telkomsel dalam memanfaatkan data aktivitas digital untuk kebutuhan bisnis dan perencanaan periklanan.
“Dengan insight yang kuat dan eksekusi yang tepat, brand dapat hadir bukan sebagai distraksi, tetapi sebagai bagian yang relevan dari perjalanan konsumen,” kata Mia Melinda.
Bagi pelaku industri periklanan, laporan ini menawarkan kerangka untuk membagi kampanye Ramadan berdasarkan perubahan kebutuhan konsumen, alih-alih memperlakukan 30 hari Ramadan sebagai satu periode dengan perilaku yang seragam.
Data aktivitas digital dapat menjadi salah satu masukan dalam perencanaan, sementara evaluasi hasil tetap diperlukan untuk menilai efektivitas setiap kanal dan format iklan.
Telkomsel Enterprise menyediakan laporan lengkap DigiAds Ramadan Insight 2027: Reading the Rhythms of Ramadan melalui tautan resmi tsel.id/ramadanwhitepaper2027-news.
Dokumen tersebut dapat menjadi rujukan bagi agensi dan pemilik merek yang mulai menyusun strategi pemasaran untuk Ramadan 2027, terutama dalam menyesuaikan pesan dengan fase adaptasi, belanja, dan mudik konsumen.


