Selular.ID – Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) menginvestasikan US$250 juta di HighPeak Energy, perusahaan minyak dan gas bumi yang berbasis di Texas, Amerika Serikat.
Investasi yang diumumkan pada 6 Oktober 2026 tersebut dilakukan melalui penerbitan saham preferen konvertibel dan memberi DIM eksposur terhadap aset migas yang didominasi minyak di Permian Basin.
HighPeak merupakan perusahaan independen yang berfokus pada akuisisi, pengembangan, eksplorasi, dan eksploitasi cadangan minyak serta gas bumi nonkonvensional di Midland Basin, bagian dari Permian Basin di Texas Barat.
Bagi Danantara, investasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas portofolio energi Indonesia ke pasar global sekaligus menjalankan mandat investasi pada sektor yang dinilai strategis bagi kepentingan nasional.
Pandu Sjahrir, Chief Executive Officer Danantara Investment Management, mengatakan investasi tersebut sejalan dengan mandat DIM untuk mengalokasikan modal ke sektor strategis dengan orientasi nilai jangka panjang.
Menurutnya, posisi HighPeak di salah satu pasar hulu minyak dan gas bumi utama dunia juga membuka ruang untuk pertukaran keahlian yang dapat mendukung pengembangan sektor energi Indonesia.
“Investasi ini sejalan dengan mandat kami untuk berinvestasi di sektor strategis yang memberikan imbal hasil berkelanjutan dalam jangka panjang sekaligus mendukung kepentingan nasional Indonesia,” ujar Pandu Sjahrir dalam keterangan resmi Danantara Indonesia.
Investasi DIM tersebut menjadi bagian dari transaksi yang lebih besar. Berdasarkan pengumuman HighPeak kepada otoritas pasar modal Amerika Serikat, DIM melalui PT Danantara Energy International berkomitmen membeli 250.000 saham Series A 6% Perpetual Convertible Preferred Stock dengan nilai US$250 juta.
Sementara itu, PT Tunas Harapan Perkasa, anak usaha PT Energi Mega Persada Tbk (IDX: ENRG), membeli 200.000 saham seri yang sama senilai US$200 juta.
Total investasi preferred equity dari kedua investor Indonesia mencapai US$450 juta. Transaksi tersebut dipadukan dengan fasilitas kredit berbasis cadangan atau reserve-based lending (RBL) senilai US$800 juta yang disiapkan HighPeak.
Perusahaan menyatakan kombinasi dana tersebut dan kas yang tersedia akan digunakan untuk membayar penuh pinjaman berjangka yang saat ini mencapai US$1,17 miliar.
Penyelesaian investasi dan fasilitas kredit tersebut ditargetkan berlangsung pada kuartal IV 2026, dengan tetap bergantung pada pemenuhan persyaratan penutupan transaksi.
Saham preferen yang dibeli investor memiliki nilai nominal US$1.000 per saham dan dapat dikonversikan menjadi saham biasa HighPeak berdasarkan harga konversi awal US$9,50 per saham.
Instrumen tersebut juga memberikan hak atas dividen kumulatif.
HighPeak dapat melakukan penebusan saham preferen setelah tiga tahun sejak transaksi ditutup dengan mekanisme yang ditetapkan dalam perjanjian.
Dari sisi tata kelola, DIM dan Energi Mega Persada masing-masing akan menunjuk satu direktur ke jajaran direksi HighPeak.
Ketentuan tersebut memberikan kedua investor Indonesia keterlibatan langsung dalam tata kelola perusahaan penerima investasi.
HighPeak juga akan mengembangkan program pelatihan dan penugasan kerja atau secondment bagi tenaga kerja Indonesia setelah transaksi selesai.
Program tersebut ditujukan untuk membangun kapabilitas sekaligus mendorong pertukaran keahlian teknis antara operasi HighPeak di Amerika Serikat dan sektor energi Indonesia.
Michael Hollis, President dan Chief Executive Officer HighPeak, mengatakan kemitraan dengan DIM dan Energi Mega Persada akan memperkuat posisi keuangan perusahaan sekaligus mendukung pengembangan aset di Midland Basin.
HighPeak menyebut tambahan modal tersebut akan memberi fleksibilitas lebih besar untuk menjalankan program pengembangan secara disiplin, termasuk perluasan aktivitas pengeboran.
Permian Basin Jadi Aset Strategis
Permian Basin menjadi salah satu alasan utama transaksi ini menarik bagi investor energi. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan wilayah Permian di Texas Barat dan New Mexico bagian tenggara menghasilkan sekitar 6,6 juta barel minyak mentah per hari pada 2025.
Angka tersebut setara sekitar 48% produksi minyak mentah Amerika Serikat dan menjadikan Permian sebagai wilayah penghasil minyak terbesar di negara tersebut.
Produksi minyak Amerika Serikat sendiri mencapai rekor rata-rata 13,6 juta barel per hari pada 2025.
EIA menyebut pertumbuhan produksi tersebut antara lain ditopang peningkatan produktivitas pengeboran dan efisiensi operasional di sejumlah wilayah shale, termasuk Permian.
Produksi minyak di Permian meningkat sekitar 4% dari 6,3 juta barel per hari pada 2024 menjadi 6,6 juta barel per hari pada 2025.
Pengembangan Permian juga berkaitan erat dengan penggunaan teknologi pengeboran horizontal dan hydraulic fracturing atau fracking. Teknik tersebut memungkinkan operator mengakses cadangan hidrokarbon pada formasi batuan yang sebelumnya lebih sulit diproduksikan secara ekonomis.
EIA mencatat pertumbuhan produksi tight oil di Permian menjadi salah satu pendorong utama peningkatan produksi minyak darat Amerika Serikat dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Danantara menilai pengalaman pengembangan lapangan di Permian memiliki relevansi bagi Indonesia.
Dalam keterangan resminya, lembaga tersebut menyebut teknologi pengeboran horizontal dan hydraulic fracturing, apabila sesuai dengan karakteristik reservoir, dapat diterapkan pada lapangan migas darat yang telah matang untuk meningkatkan produktivitas sumur dan tingkat perolehan migas.
Bagi HighPeak, transaksi ini sekaligus menjadi bagian dari restrukturisasi struktur permodalan.
Perusahaan menyatakan investasi preferred equity dan fasilitas RBL baru akan memperkuat likuiditas, menurunkan beban pembiayaan, serta menyediakan ruang yang lebih besar untuk pengembangan aset dan penciptaan nilai jangka panjang.
Investasi tersebut belum sepenuhnya selesai pada saat pengumuman 6 Oktober 2026. HighPeak menyatakan penutupan transaksi masih bergantung pada sejumlah persyaratan yang lazim dalam transaksi sejenis.
Setelah seluruh persyaratan terpenuhi, investasi DIM, masuknya Energi Mega Persada, serta program pertukaran keahlian dengan tenaga kerja Indonesia akan menjadi bagian dari kemitraan baru antara perusahaan energi Indonesia dan operator migas di salah satu kawasan produksi minyak terbesar Amerika Serikat.
Baca Juga: KONSISTENSI SHARP BIDIK SEGMEN MID TO HIGH END DI PASAR INDONESIA


