Selular.ID – Perubahan teknologi dari era konvensional berbasis saluran telepon tetap (PSTN) dan mesin faks menuju otomatisasi perangkat lunak serta kecerdasan buatan (AI) terbukti meningkatkan efisiensi operasional teknis, meski aspek kedalaman analisis tetap bergantung pada sumber daya manusia (SDM).
Hal tersebut diungkapkan Niken Widi Hapsari, Founder dan CEO Seqara Communications, menurutnya perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah alur kerja praktisi hubungan masyarakat (PR) dan konsutansi secara fundamental.
Dari proses pengiriman rilis media secara manual yang memakan waktu menjadi serba otomatis melalui platform digital dan AI.
Namun, efisiensi teknis tersebut perlu diimbangi dengan analisis strategis mendalam agar informasi yang dihasilkan benar-benar memberikan solusi nyata bagi klien di berbagai lini industri.
Integrasi AI dan perangkat digital mampu memangkas waktu kerja pada tataran teknis secara signifikan.
“Meski demikian, penyusunan strategi komunikasi dan penerjemahan data menjadi wawasan bisnis (insight) yang akurat tetap membutuhkan kerangka berpikir manusia, khususnya praktisi komunikasi tingkat menengah hingga senior,”ujar Niken, kepada Selular, dalam Bincang Eksekutif.
Pendekatan ini diterapkan oleh Seqara Communications yang beroperasi sebagai agensi konsultan komunikasi terintegrasi (Integrated Communications Consultant).
Agensi ini menangani berbagai lini layanan mencakup PR serta pemasaran digital bagi klien di sektor bisnis-ke-bisnis (B2B) maupun bisnis-ke-konsumen (B2C), yang meliputi industri teknologi, produk konsumen (FMCG), pertambangan, hingga sektor keuangan.
Evolusi Teknis dan Efisiensi Operasional PR
Lebih jauh Niken menyebutkan, perubahan alur kerja dalam dunia humas terlihat sangat kontras jika dibandingkan dengan era awal 2000-an.
Pada masa konvensional, distribusi dokumen seperti siaran pers dan undangan acara mengandalkan mesin faks serta panggilan telepon manual melalui jaringan PSTN, yang membutuhkan alokasi tenaga kerja khusus dan biaya operasional kertas yang tinggi.
Masuknya era internet dan platform pemasaran email otomatis seperti MailChimp mulai menyederhanakan alur kerja distribusi media secara masif.
Kehadiran aplikasi pesan instan hingga alat bantu berbasis AI saat ini makin mempercepat proses pemantauan media (media monitoring) serta pengumpulan data mentah, sehingga praktisi komunikasi dapat mengeksekusi tugas teknis dengan lebih cepat.
Pentingnya Analisis Strategis Berbasis SDM
Meskipun perangkat AI mampu memproses data monitoring dan pemetaan sentimen publik secara cepat melalui pemicu perintah (prompting), data tersebut belum tentu langsung menjadi wawasan strategis yang siap pakai.
Formulasi strategi komunikasi tahunan tetap membutuhkan ketajaman sudut pandang dan analisis mendalam dari konsultan berpengalaman.
Kebutuhan analisis yang melibatkan SDM berkualitas menjadi makin krusial saat penanganan dinamika di lapangan, krisis komunikasi, hingga pemecahan masalah penjualan di area tertentu.
Kondisi pasar dan karakteristik masyarakat di setiap wilayah memiliki kompleksitas berbeda yang tidak selalu dapat diselesaikan secara otomatis oleh algoritma kecerdasan buatan.
Kesiapan Talenta dalam Mengimbangi Teknologi
Adopsi teknologi digital tanpa didukung kesiapan talenta yang matang berisiko menghasilkan keluaran strategi komunikasi yang dangkal dan kurang maksimal bagi klien.
Oleh karena itu, penguatan kapasitas SDM menjadi syarat mutlak dalam memanfaatkan otomatisasi teknologi secara bijak. Seqara Communications terus menekankan pentingnya penguasaan kerangka berpikir analitis bagi praktisi komunikasi dalam merespons dinamika industri.
Baca juga:Lintasarta Raih Sertifikasi ISO 42001 untuk Tata Kelola AI
“Transformasi teknologi diposisikan sebagai alat pendukung operasional, sementara arah dan eksekusi komunikasi strategis tetap dipimpin oleh kemampuan intelektual manusia,”tutur Niken,


