Selular.ID – Setelah SpaceX membatasi penggunaan layanan internet satelit Starlink dan Starshield di Ukraina—yang menyebabkan pesawat nirawak (drone) berkecepatan tinggi kehilangan koneksi dan jatuh dari langit—Kyiv kini mencari alternatif lain.
Kementerian Pertahanan Ukraina menyatakan pada hari Kamis bahwa mereka telah menandatangani surat pernyataan niat untuk mengembangkan kapabilitas pertahanan dan komunikasi satelit baru, melalui kemitraan dengan perusahaan teknologi asal Finlandia, Nokia, serta perusahaan pembuat satelit, ICEYE.
“Peperangan modern telah membuktikan bahwa komunikasi yang andal merupakan masalah keamanan nasional,” ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam sebuah pernyataan.
“Kita semua harus mengandalkan kapabilitas yang dapat kita kendalikan sendiri.”
Minggu ini, Zelenskyy juga mengumumkan kemitraan dengan Norwegia untuk bersama-sama mengembangkan sistem pertahanan udara dan komunikasi yang dapat menjadi alternatif bagi Starshield.
Chad Anderson, pendiri sekaligus CEO perusahaan modal ventura Space Capital, mengatakan bahwa alternatif semacam itu mungkin baru akan terealisasi dalam “dua hingga tiga tahun ke depan,” seraya menambahkan bahwa “menyamai skala Starlink membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.”
Menurut data yang dilacak oleh astronom Jonathan McDowell, SpaceX saat ini memiliki sekitar 11.000 satelit yang mengorbit.
Anderson menyebutkan bahwa Starshield mungkin menjadi layanan yang jauh lebih sulit untuk digantikan.
“Dokumen kontrak Pentagon sendiri menyatakan bahwa SpaceX adalah satu-satunya penyedia yang mampu memenuhi kebutuhan tertentu mereka hingga tahun 2026. Kendalanya bukan lagi pada modal, melainkan pada peluncuran”, kata Anderson seperti dikutip dari CNBC.
Bahkan para pesaing Starlink pun selama ini mengandalkan peluncuran yang dilakukan oleh SpaceX untuk menempatkan satelit mereka ke orbit.
Baca Juga: Starlink Mendadak Lemot di Tengah Perang Rusia-Ukraina, Zelenskyy Murka
Hingga Jumat (23/10), para pejabat Ukraina melaporkan bahwa negara tersebut masih menghadapi pembatasan pada layanan Starlink, yang memutus konektivitas bagi drone atau pesawat lain yang melaju dengan kecepatan di atas 100 mil per jam (sekitar 160 km/jam).
Baik pemerintahan Trump maupun CEO SpaceX, Elon Musk, sama-sama tidak mengakui tanggung jawab atas perubahan layanan Starlink yang dilakukan tanpa pemberitahuan—sebuah masalah yang dilaporkan oleh Ukraina lebih dari seminggu yang lalu.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada para wartawan di Gedung Putih pada Jumat (23/10) bahwa ia akan meminta Musk untuk mencabut pembatasan tersebut.
Para anggota parlemen AS dari kedua partai politik kini mendesak dilakukannya penyelidikan resmi terhadap Musk dan SpaceX terkait dugaan perubahan sepihak yang dilakukan perusahaan tersebut terhadap layanan mereka di Ukraina.
Jay Shambaugh, seorang peneliti senior di Brookings sekaligus profesor ekonomi dan hubungan internasional di George Washington University, mengungkapkan kepada CNBC melalui surel bahwa perubahan mendadak pada layanan Starlink merupakan “bagian dari pola yang muncul sejak Trump kembali menjabat, di mana Amerika Serikat bertindak sebagai sekutu yang tidak dapat diandalkan.”
Shambaugh memperingatkan, “seiring berjalannya waktu, hal ini dapat mengurangi ekspor AS ke Uni Eropa jika negara-negara tersebut tidak ingin bergantung pada sesuatu yang sewaktu-waktu bisa diputus aksesnya oleh AS.”
Sejumlah pesaing Starlink mulai bermunculan, termasuk proyek dari Amazon, Eutelsat asal Prancis, serta layanan yang tengah disiapkan oleh Blue Origin milik Jeff Bezos—bernama TeraWave—yang hingga kini belum meluncurkan satelit pertamanya.
Di luar kasus Ukraina, beberapa negara tengah menjajaki pengembangan sistem komunikasi satelit berdaulat.
Uni Eropa, misalnya, sedang membangun IRIS²—sebuah konstelasi yang terdiri dari ratusan satelit—meskipun peluncuran pertamanya diperkirakan baru akan terlaksana pada 2029.
Menurut riset yang dilakukan oleh Anderson—yang perusahaannya melacak kesepakatan di industri ini—sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, para investor modal ventura dan ekuitas swasta telah mengucurkan sekitar $8 miliar ke dalam alternatif Starlink dan Starshield.
Sekitar $3,9 miliar dari pendanaan tersebut mengalir ke berbagai calon pesaing Starlink, terutama Spacesail dan China SatNet.
Virginia Burger, analis kebijakan pertahanan senior di Project on Government Oversight, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CNBC bahwa masalah saat ini adalah belum adanya pengganti yang setara untuk Starlink.
Padahal, medan pertempuran kini semakin beralih ke arah “sistem nirawak, peperangan berbasis drone, dan berbagai sistem lain yang membutuhkan koneksi internet berkecepatan tinggi.”
Baca Juga: SpaceX Akuisisi Spektrum 800 MHz untuk Perluas Starlink Mobile


