Selular.ID – Kemampuan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia keamanan siber semakin mengkhawatirkan.
Model AI asal China, DeepSeek V4.1-Flash-1017, dilaporkan berhasil mengembangkan eksploit untuk menembus sistem keamanan sandbox Google Chrome hanya dalam waktu sekitar 12 jam.
Temuan tersebut memicu kekhawatiran mengenai potensi penggunaan AI untuk mengotomatisasi serangan siber yang sebelumnya membutuhkan keahlian teknis tinggi dan waktu pengembangan relatif panjang.
Menurut laporan Wccftech, seorang peneliti memanfaatkan model DeepSeek terbaru untuk membangun eksploit secara bertahap dari awal.
Baca juga:
- DeepSeek jadi Startup AI Tiongkok Nomor Wahid Global
- DeepSeek Makin Bermasalah, 10 Kali Gangguan Sepanjang 2026
Eksploit tersebut melibatkan sejumlah tahapan kerusakan memori (memory corruption) yang digunakan untuk mencari cara melewati perlindungan keamanan browser Google Chrome.
Namun, belum ada informasi yang memastikan eksploit tersebut telah digunakan untuk menyerang pengguna Chrome secara nyata.
DeepSeek Diklaim Tembus Sandbox Chrome dalam 12 Jam
Salah satu kemampuan yang paling menarik perhatian adalah cara DeepSeek menjalankan pengujian kode secara berulang.
Model AI tersebut dilaporkan mampu mencoba berbagai pendekatan, mengevaluasi hasilnya, kemudian memperbaiki metode hingga menemukan jalur eksploitasi yang berhasil dalam lingkungan pengujian.
Proses tersebut berlangsung sekitar 12 jam.
Kemampuan ini memperlihatkan perkembangan AI yang tidak lagi sekadar menghasilkan potongan kode berdasarkan instruksi pengguna.
Model AI kini semakin mampu menjalankan rangkaian pekerjaan rekayasa perangkat lunak secara bertahap dengan intervensi manusia yang lebih terbatas.
Sebagai informasi, sandbox merupakan salah satu mekanisme keamanan penting pada Google Chrome.
Teknologi tersebut membatasi aktivitas proses browser agar tidak dapat mengakses bagian lain dari sistem operasi secara bebas.
Dengan perlindungan ini, dampak serangan dapat dibatasi meskipun terdapat kerentanan pada komponen browser.
Karena itu, kemampuan untuk melewati sandbox menjadi perhatian serius dalam penelitian keamanan siber.
Meski demikian, laporan yang tersedia belum menjelaskan kerentanan spesifik yang dimanfaatkan, status perbaikannya, maupun apakah Google telah memverifikasi hasil pengujian tersebut secara independen.
AI DeepSeek Mampu Jalankan Pengujian Kompleks
DeepSeek V4.1-Flash-1017 disebut memiliki kemampuan yang menonjol dalam menjalankan tugas berbasis agen atau agentic AI.
Pendekatan ini memungkinkan model AI menyelesaikan pekerjaan melalui beberapa tahapan, termasuk melakukan pengujian dan mencoba kembali ketika pendekatan sebelumnya gagal.
Menariknya, model tersebut dilaporkan tidak selalu menduduki peringkat tertinggi dalam berbagai pengujian kemampuan AI konvensional.
Namun, kemampuannya mempertahankan proses kerja dalam tugas rekayasa perangkat lunak yang kompleks menjadi salah satu keunggulan yang disorot.
Model ini disebut menggunakan mesin pemrosesan DeepInfer milik DeepSeek.
Berdasarkan laporan tersebut, teknologi itu diklaim mampu memproses hingga 155 triliun token setiap hari dengan kebutuhan memori sekitar 890 byte per token.
Efisiensi tersebut dinilai dapat membantu menjalankan pengujian berulang dalam durasi panjang tanpa membutuhkan biaya komputasi yang terlalu besar.
Kendati demikian, angka performa tersebut merupakan klaim dalam laporan yang belum dijelaskan metode verifikasi independennya.
Ancaman Serangan Siber Menggunakan AI Meningkat
Kasus DeepSeek ini menambah perhatian terhadap perkembangan penggunaan AI dalam aktivitas keamanan siber.
Sebelumnya, Microsoft juga melaporkan aktivitas kelompok ancaman Storm-0940 yang dikaitkan dengan kepentingan negara.
Kelompok tersebut disebut memanfaatkan alat berbasis AI untuk membantu mengotomatisasi aktivitas serangan terhadap organisasi di sejumlah negara.
Laporan lain turut menyoroti penggunaan AI dalam penelitian kerentanan perangkat lunak serta upaya melewati perlindungan perangkat elektronik.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa teknologi AI berpotensi mempercepat pekerjaan teknis yang sebelumnya memerlukan proses manual panjang.
Di satu sisi, kemampuan tersebut bermanfaat bagi peneliti keamanan untuk menemukan kelemahan sistem sebelum dimanfaatkan penjahat siber.
Namun, di sisi lain, teknologi serupa dapat disalahgunakan untuk mempercepat pencarian celah keamanan dan pengembangan eksploit.
Risiko inilah yang menjadi perhatian industri keamanan siber ketika model AI semakin canggih dan mudah diakses.
Amerika Serikat Khawatir dengan Model AI Terbuka
Laporan mengenai kemampuan DeepSeek turut memperkuat perdebatan di Amerika Serikat mengenai keamanan model AI open-weight.
Model jenis ini memungkinkan pihak lain mengunduh dan menjalankan bobot AI sesuai ketentuan distribusinya.
Sejumlah analis keamanan menilai akses luas terhadap model berkemampuan tinggi dapat memperbesar risiko penyalahgunaan untuk aktivitas peretasan otomatis.
Karena itu, muncul dorongan agar pengembangan dan distribusi model AI tertentu mendapatkan pengawasan lebih ketat.
Salah satu pendekatan yang diperdebatkan adalah membatasi akses model melalui layanan komputasi awan dengan mekanisme keamanan tambahan.
Namun, pembatasan tersebut juga menuai perdebatan karena model terbuka memiliki manfaat bagi penelitian, pengembangan teknologi, dan pengujian keamanan independen.
Model AI yang dapat diakses secara luas memungkinkan lebih banyak peneliti mengidentifikasi kelemahan perangkat lunak dan mengembangkan sistem pertahanan.
Dengan demikian, tantangan utama bukan hanya membatasi kemampuan AI, melainkan memastikan teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
Apakah Pengguna Google Chrome Harus Khawatir?
Meski laporan DeepSeek terdengar mengkhawatirkan, pengguna Google Chrome tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa browser mereka telah berhasil diretas.
Keberhasilan membuat eksploit dalam pengujian tidak otomatis berarti serangan tersebut dapat diterapkan terhadap seluruh versi Chrome atau telah digunakan di dunia nyata.
Belum tersedia pula konfirmasi independen mengenai cakupan kerentanan maupun dampaknya terhadap pengguna.
Sebagai langkah pencegahan, pengguna disarankan memastikan Google Chrome selalu diperbarui ke versi terbaru.
Pembaruan browser penting karena Google secara berkala merilis perbaikan keamanan untuk menutup kerentanan yang ditemukan.
Pengguna juga sebaiknya menghindari tautan mencurigakan, unduhan dari sumber tidak resmi, dan ekstensi browser yang tidak dikenal.
Laporan kemampuan DeepSeek mengembangkan eksploit dalam 12 jam menjadi pengingat bahwa persaingan AI kini tidak hanya menyangkut kemampuan menghasilkan teks, gambar, atau video, tetapi juga kemampuan menjalankan pekerjaan keamanan siber yang semakin kompleks.
Bagi perusahaan teknologi, perkembangan ini memperbesar kebutuhan untuk mempercepat penemuan kerentanan, memperkuat pertahanan browser, serta mengembangkan sistem keamanan yang mampu menghadapi ancaman berbasis AI.


