Selular.ID – Telkom Indonesia melalui PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC), menyiapkan pengembangan infrastruktur data center khusus kecerdasan buatan (AI) dengan kapasitas hingga 1 gigawatt (GW).
Rencana tersebut dibahas dalam National AI Data Center & Electrification Strategic Workshop yang diselenggarakan Danantara Indonesia di Wisma Danantara, Jakarta, pada September 2026.
Workshop bertema “Building Indonesia’s Sovereign AI Infrastructure: Validating National Demand, Data Center & Power Readiness” tersebut mempertemukan BUMN lintas sektor, regulator, penyedia infrastruktur digital, dan sektor energi.
Agenda utamanya memvalidasi kebutuhan komputasi AI nasional serta mencocokkannya dengan kesiapan data center dan pasokan listrik.
Bagi TelkomGroup, pembahasan ini berkaitan dengan pengembangan kapabilitas sovereign cloud, sovereign AI, dan sovereign cybersecurity.
Sovereign AI merujuk pada kemampuan suatu negara membangun dan mengoperasikan infrastruktur serta layanan AI dengan kendali yang lebih besar atas data, komputasi, dan ekosistem teknologinya.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan data center Telkom menjadi bagian dari fondasi pembangunan ekosistem Sovereign AI Indonesia.
“Data Center Telkom menjadi fondasi bagi Indonesia dalam membangun ekosistem Sovereign AI yang berdaulat dan berkelanjutan,” ujar Seno.
Workshop tersebut juga melibatkan Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia Ricardo Irwan Rei, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Utama NeutraDC Rakhmad Tunggal Afifuddin, serta Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero) M. Fahrur Rozy.
Memetakan Kebutuhan AI BUMN
Agenda hari pertama workshop diarahkan pada pemetaan prioritas penggunaan AI atau use case di lingkungan BUMN.
Peserta kemudian menyusun proyeksi kebutuhan compute dan kapasitas teknologi informasi menggunakan tiga skenario, yakni Low, Base, dan High.
Compute dalam konteks ini mengacu pada sumber daya komputasi yang dibutuhkan untuk menjalankan beban kerja AI, termasuk proses pelatihan dan inferensi model.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu dasar untuk menentukan kapasitas data center yang diperlukan.
Pemetaan melibatkan lebih dari 70 responden BUMN dari berbagai sektor. Hasilnya menunjukkan kebutuhan data center yang signifikan, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor perbankan, serta kelompok sektor mobilitas dan kesejahteraan.
Dari sisi wilayah, permintaan terbesar terkonsentrasi di Jawa-Madura-Bali (Jamali), disusul Batam dan Indonesia Timur.
Kebutuhan tersebut diproyeksikan meningkat hingga 2030 seiring dengan semakin luasnya penggunaan AI di lingkungan BUMN.
Pola pemanfaatan AI juga diperkirakan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Pada periode 2026–2029, AI masih banyak digunakan sebagai alat bantu untuk aktivitas sehari-hari.
Memasuki 2030, pemanfaatannya diproyeksikan bergerak menuju AI agentic dan operasional yang lebih terintegrasi.
Dalam skenario tersebut, konsumsi kapasitas data center untuk kebutuhan AI diperkirakan mencapai sekitar 70% dari total kapasitas data center.
NeutraDC Siapkan Kapasitas hingga 1 GW
Menanggapi proyeksi kebutuhan tersebut, NeutraDC menyiapkan rencana pengembangan AI data center dengan kapasitas hingga 1 GW. Pengembangan tersebut direncanakan mencakup Batam, Jabodetabek, Jawa, dan Manado.
NeutraDC juga menyiapkan 26 edge data center yang tersebar di 21 kota. Edge data center merupakan fasilitas komputasi yang ditempatkan lebih dekat dengan lokasi pengguna atau sumber data, sehingga dapat mendukung kebutuhan layanan dengan latensi yang lebih rendah sekaligus memperluas distribusi kapasitas komputasi.
Direktur Utama NeutraDC Rakhmad Tunggal Afifuddin memaparkan kesiapan infrastruktur AI data center sekaligus strategi pengembangan bertahap atau phasing menuju kapasitas 1 GW.
NeutraDC menggunakan strategi tiga wilayah atau 3-region strategy sebagai bagian dari rencana tersebut.
Pendekatan ini diarahkan untuk memperluas ketersediaan kapasitas komputasi AI di sejumlah wilayah Indonesia, sekaligus menjadi acuan dalam mencocokkan proyeksi kebutuhan BUMN dengan rencana pengembangan fasilitas data center.
Pengembangan infrastruktur juga tidak dapat dipisahkan dari kesiapan energi.
Data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil karena fasilitas tersebut beroperasi secara berkelanjutan untuk menjaga layanan dan sistem komputasi tetap tersedia.
Dalam workshop, PLN menyampaikan kesiapan untuk menjadi mitra strategis dalam penyediaan reliable power dan green energy.
PLN juga mempersiapkan dukungan pasokan listrik dalam skala gigawatt untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan data center sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi nasional.
Sinkronisasi Infrastruktur Digital dan Energi

Danantara Indonesia menempatkan penyelarasan antara kebutuhan AI, infrastruktur digital, dan energi sebagai bagian penting dalam proses perencanaan investasi.
Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia Ricardo Irwan Rei menekankan pentingnya memastikan proyeksi kebutuhan AI nasional berjalan seiring dengan kesiapan data center dan energi. Pendekatan tersebut ditujukan agar investasi BUMN memiliki nilai strategis yang dapat diukur.
Dari sisi regulasi, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menggarisbawahi kebutuhan koordinasi lintas kementerian dan dukungan regulasi dalam pembangunan ekosistem AI yang berdaulat.
Sementara itu, Telkom menempatkan data center sebagai salah satu bagian dari infrastruktur digital nasional yang dapat mendukung kebutuhan pemerintah dan BUMN.
Kapabilitas tersebut mencakup cloud, AI, hingga keamanan siber dengan pendekatan yang mempertimbangkan kebutuhan pengelolaan data dan infrastruktur di dalam negeri.
Masuk Tahap Validasi Investasi
Hasil pemetaan pada hari pertama workshop selanjutnya menjadi baseline untuk agenda hari kedua. Fokus berikutnya adalah mengidentifikasi peluang investasi Phase-1 sekaligus mengeksplorasi aspek bankabilitas bersama investor dan lembaga pembiayaan.
Sebelum masuk ke tahap investasi, proyeksi kebutuhan dan kapasitas yang telah dipetakan akan menjadi dasar untuk menilai kelayakan pengembangan.
Artinya, rencana kapasitas hingga 1 GW merupakan bagian dari roadmap pengembangan NeutraDC yang masih akan melalui tahapan validasi dan pengaturan fase investasi.
Rangkaian agenda tersebut mempertemukan tiga komponen utama dalam pengembangan infrastruktur AI, yakni permintaan komputasi dari pengguna, kesiapan fasilitas data center, serta ketersediaan energi
. Ketiganya menjadi faktor yang dibahas secara bersamaan dalam workshop Danantara Indonesia.
Bagi TelkomGroup dan NeutraDC, hasil pemetaan kebutuhan BUMN memberikan basis untuk menyelaraskan rencana ekspansi data center dengan perkembangan penggunaan AI hingga 2030.
Sementara bagi ekosistem digital nasional, strategi pengembangan tersebut mencakup perluasan kapasitas di pusat ekonomi utama sekaligus distribusi infrastruktur melalui fasilitas edge data center.
Tahapan selanjutnya akan diarahkan pada pemetaan peluang Phase-1 dan pembahasan bankabilitas dengan calon investor serta lembaga pembiayaan.
Proses tersebut menjadi bagian dari penyusunan fondasi infrastruktur AI nasional yang menghubungkan kebutuhan komputasi, data center, dan pasokan energi dalam satu perencanaan pengembangan.
Baca Juga: Telkom Akan Jual Saham Mayoritas Bisnis Data Center NeutraDC Senilai 1,5 Miliar USD


