Selular.ID – ChangXin Memory Technologies (CXMT), produsen chip memori terkemuka asal China, semakin memperkuat posisinya di kalangan vendor ponsel pintar lokal.
Sejumlah chip kelas atas buatannya kini digunakan dalam ponsel unggulan (flagship) China seiring langkah para vendor merambah pasar premium.
Ponsel NaviX Ultra dari Nubia—merek yang didukung oleh ZTE—yang mulai dijual pada Rabu (16/9/2026) menggunakan cip DRAM LPDDR5X dari CXMT, sebagaimana diumumkan oleh kedua perusahaan awal bulan ini.
Ponsel tersebut dijuluki sebagai ponsel “Nubia Doubao” karena mengintegrasikan asisten kecerdasan buatan (AI) Doubao milik ByteDance, perusahaan induk TikTok.
CXMT menyatakan bahwa kerja sama dengan Nubia, menandai penggunaan skala besar pertama untuk chip LPDDR5X buatan dalam negeri pada tingkat tersebut, yang memiliki kecepatan transfer data hingga 10.667 megabit per detik (Mbps).
Menurut situs web ZTE, ponsel unggulan yang dibanderol mulai dari 5.999 yuan (US$885) ini juga diklaim sebagai ponsel pintar pasar massal pertama yang dilengkapi dengan agen AI.
Versi konsumen dari asisten ponsel pintar Doubao milik ByteDance tersebut memberikan kemampuan bagi ponsel untuk merespons perintah suara dan menjalankan tugas atas nama pengguna.
Chip LPDDR5X dari CXMT mendukung kecepatan 8.533 Mbps, 9.600 Mbps, dan 10.677 Mbps, dengan dua versi berkecepatan lebih rendah telah diproduksi secara massal sejak tahun lalu.
Baca Juga: Samsung Hentikan LPDDR4, CXMT dan GigaDevice Siap Isi Pasar
Penggunaan LPDDR5X pada Nubia Doubao menegaskan keberhasilan CXMT dalam menembus segmen chip memori selular premium, di saat teknologi AI pada perangkat (on-device AI) sedang mendorong permintaan akan memori yang lebih cepat dan lebih tangguh.
Raksasa teknologi China yang bergerak di bidang ponsel pintar hingga kendaraan, Xiaomi, serta Transsion—yang dikenal dengan ponsel murahnya di pasar negara berkembang—juga termasuk pelanggan yang menggunakan lini produk LPDDR5X tersebut, ungkap CXMT dalam laporan interim yang diterbitkan Agustus 2026.
CXMT bulan lalu menyatakan bahwa chip LPDDR6 mereka yang lebih baru dan lebih cepat telah memasuki tahap produksi massal, dengan ponsel pintar unggulan Xiaomi, 18 Fold, menjadi perangkat pertama yang menggunakan produk memori tersebut secara komersial.
Chip memori ini menawarkan kapasitas 16 gigabit dan mendukung kecepatan transfer data maksimum 12.800 Mbps; menurut CXMT, angka ini merupakan “bandwidth data yang memadai untuk memenuhi kebutuhan komputasi berkinerja tinggi pada ponsel pintar unggulan dan perangkat edge”.
Menurut laporan analisis bongkar perangkat (teardown) yang diterbitkan oleh SemiAnalysis pada Juni 2026, prosesor Kirin 9030 Pro milik Huawei Technologies—yang digunakan pada ponsel Mate 80 Pro Max keluaran Februari—menggunakan kombinasi komponen memori dari Samsung Electronics dan CXMT.
Raksasa cip memori asal China ini terus mencatatkan pertumbuhan pesat di pasar DRAM global.
Berdasarkan data dari perusahaan konsultan pasar TrendForce pada awal September, pangsa CXMT terhadap pendapatan DRAM global meningkat menjadi 9,5 persen pada kuartal kedua, naik dari 7,6 persen pada kuartal pertama.
Kendati demikian, posisi perusahaan ini masih tertinggal jauh di belakang tiga raksasa memori global lainnya.
Menurut TrendForce, Samsung menguasai 39,4 persen pendapatan DRAM global pada kuartal kedua, diikuti oleh SK Hynix dengan pangsa 24,9 persen dan Micron Technology sebesar 23,3 persen.
Kemampuan CXMT yang terus berkembang tampaknya juga telah menarik perhatian Apple.
Menurut laporan Wall Street Journal bulan lalu yang mengutip sejumlah sumber, raksasa teknologi AS tersebut dikabarkan sedang menguji chip memori buatan perusahaan asal China itu untuk kemungkinan digunakan dalam berbagai produk—termasuk iPhone dan MacBook—khususnya yang dipasarkan di China.
Sejauh ini, baik Apple maupun CXMT belum mengumumkan kerja sama apa pun secara resmi.
Langkah Apple untuk menjajaki penggunaan chip asal China ini dilakukan di tengah kondisi industri global yang sedang menghadapi masalah kelangkaan pasokan chip memori.
Lonjakan permintaan akibat pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) telah menekan ketersediaan chip memori konvensional untuk ponsel pintar dan perangkat elektronik konsumen lainnya, sehingga memicu kenaikan harga.
Baca Juga: CXMT Tolak Permintaan Diskon DRAM Apple untuk Pasokan iPhone 18


