Selular.id – Industri perakitan dan pengujian chip China memasuki fase ekspansi besar-besaran setelah lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI) mendorong laba perusahaan semikonduktor melonjak. Tiga perusahaan utama, Jiangsu Changjiang Electronics Technology (JCET), Tongfu Microelectronics, dan Huatian Technology, menyiapkan investasi lebih dari 15 miliar yuan atau sekitar Rp39,5 triliun untuk memperbesar kapasitas produksi, terutama untuk kebutuhan chip AI.
Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana ledakan AI mulai mengubah rantai pasok semikonduktor hingga ke tahap paling akhir. Setelah chip diproduksi di wafer, komponen tersebut masih harus melalui proses perakitan dan pengujian sebelum dapat digunakan dalam perangkat elektronik. Untuk chip AI berperforma tinggi, tahap ini semakin kompleks karena kebutuhan integrasi komponen yang lebih padat.
Ekspansi juga berjalan ketika kinerja industri semikonduktor China mencatat pertumbuhan tajam. Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan laba industri manufaktur integrated circuit (IC) melonjak 2.579,5 persen pada semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, laba industri elektronik secara keseluruhan meningkat 96,9 persen.
Lonjakan tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya penggunaan AI dan kebutuhan daya komputasi. Permintaan tersebut tidak hanya menguntungkan produsen prosesor, tetapi juga perusahaan yang menangani pengemasan, pengujian, memori, konektivitas, hingga komponen pendukung pusat data.
JCET Bangun Fasilitas AI
JCET menjadi salah satu perusahaan yang paling agresif memperbesar kapasitasnya. Perusahaan semikonduktor asal China tersebut mencatat laba bersih 845 juta yuan pada semester I 2026, naik 79,4 persen secara tahunan. Pendapatannya juga mencapai rekor 19,5 miliar yuan, didorong pertumbuhan bisnis elektronik komputasi.
Pada Juni 2026, JCET mengumumkan rencana investasi 7,8 miliar yuan untuk membangun fasilitas pengemasan dan pengujian semikonduktor canggih di kawasan Lingang, Shanghai.
Fasilitas tersebut ditujukan untuk menangani chip AI kelas atas. Tahap pertama proyek ditargetkan selesai pada paruh kedua 2028. Kapasitas baru itu diharapkan memperkuat kemampuan JCET menangani kebutuhan teknologi pengemasan yang semakin kompleks.
Dalam laporan perusahaan, JCET menyebut pendapatan dari bisnis elektronik komputasi meningkat 40,4 persen pada semester pertama. Perusahaan juga menilai percepatan adopsi AI ikut meningkatkan kebutuhan terhadap komputasi, memori, interkoneksi, dan pasokan daya.
Tongfu Perluas Kapasitas Memori
Tongfu Microelectronics juga mengambil langkah serupa. Perusahaan tersebut memperkirakan laba semester I 2026 dapat meningkat hingga 337 persen secara tahunan. Salah satu pendorongnya adalah kerja sama strategis dengan Advanced Micro Devices (AMD) untuk prosesor generasi berikutnya.
Tongfu telah memperoleh persetujuan regulator untuk aksi penempatan saham senilai 4,2 miliar yuan. Dari dana tersebut, sekitar 888 juta yuan akan dialokasikan untuk menambah kapasitas produksi chip memori hingga 849.600 wafer per tahun. Perusahaan memang telah mengembangkan kemampuan pengemasan untuk kebutuhan komputasi berperforma tinggi, penyimpanan data, jaringan, otomotif, hingga AI. Situs resmi Tongfu juga mencantumkan AI sebagai salah satu area aplikasi utama layanan pengemasan dan pengujiannya.
Pengemasan menjadi semakin penting karena perkembangan chip AI menuntut lebih banyak komponen ditempatkan dalam ruang yang semakin kecil. Teknologi seperti wafer-level packaging memungkinkan koneksi dan integrasi komponen dilakukan lebih rapat, sekaligus membantu meningkatkan performa serta efisiensi perangkat.
China Kejar Kemandirian Chip
Ekspansi tersebut juga memiliki konteks yang lebih luas. Beijing selama beberapa tahun terakhir mendorong penguatan industri semikonduktor domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing.
Data Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China menunjukkan produksi integrated circuit mencapai 279,8 miliar unit pada semester I 2026, tumbuh 23,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan industri manufaktur elektronik juga mencapai 9,41 triliun yuan, naik 18,5 persen, sementara laba meningkat 96,9 persen.
Dorongan tersebut semakin relevan ketika kebutuhan AI berkembang cepat. Infrastruktur AI membutuhkan kombinasi prosesor, memori berkecepatan tinggi, jaringan, serta sistem pendingin dan daya. Artinya, pertumbuhan AI menciptakan pasar yang jauh lebih luas daripada sekadar GPU atau akselerator AI.
Perkembangan ini juga terlihat pada perusahaan foundry China. Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC), misalnya, mencatat laba bersih kuartal II 2026 melonjak 261,7 persen secara tahunan. Manajemen perusahaan mengaitkan pertumbuhan tersebut dengan meningkatnya permintaan chip pendukung AI.
Bagi China, investasi besar di sektor perakitan dan pengujian memperkuat mata rantai yang berada setelah proses fabrikasi wafer. Jika ekspansi berjalan sesuai rencana, kapasitas tersebut dapat membantu industri domestik menangani lebih banyak kebutuhan chip AI di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi China dalam rantai pasok semikonduktor global.
Namun, pembangunan kapasitas juga harus mengikuti perkembangan teknologi AI yang bergerak cepat. Fasilitas yang mulai beroperasi beberapa tahun mendatang perlu mampu menangani desain chip dan metode pengemasan generasi baru. Karena itu, investasi yang kini digelontorkan perusahaan China bukan hanya soal menambah jumlah produksi, tetapi juga mempersiapkan kemampuan manufaktur untuk kebutuhan komputasi generasi berikutnya.
Baca juga: Produsen Memory Asal China, YMTC Bidik Posisi Nomor Satu NAND, Tantang Samsung dan SK hynix


