Selular.ID -

Cara Kerja Kacamata Pintar Untuk Merekam Video, Smart Glasses Tak Hanya Untuk Telepon

BACA JUGA

6. Bluetooth dan Wi-Fi Mengambil Peran Saat Transfer

Tahap berikutnya adalah transfer data. Untuk sistem Ray-Ban Meta, smartphone perlu dipasangkan dengan kacamata melalui aplikasi Meta AI.

Ketika fitur auto-import digunakan, kacamata harus dalam kondisi menyala dan berada di charging case, Bluetooth harus aktif, sementara smartphone terhubung ke jaringan Wi-Fi yang telah disimpan.

Kombinasi koneksi tersebut menunjukkan bahwa transfer media bukan sekadar proses Bluetooth sederhana.

Bluetooth berperan dalam koneksi antara perangkat, sementara Wi-Fi dapat digunakan dalam alur pemindahan media berukuran lebih besar.

Aplikasi pendamping kemudian mengatur proses impor sehingga file dapat masuk ke ekosistem smartphone.

7. Aplikasi Pendamping Menjadi Penghubung Utama

Aplikasi di smartphone memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar melihat hasil rekaman.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Pada Ray-Ban Meta, aplikasi Meta View yang kemudian beralih ke Meta AI digunakan untuk memasangkan perangkat, mengelola media, serta menyediakan berbagai pengaturan kacamata.

Dokumentasi resmi Ray-Ban juga menyebut bahwa perangkat membutuhkan smartphone dan aplikasi pendamping untuk pengoperasiannya.

Setelah file berhasil diimpor, pengguna dapat melihat, mengedit, atau membagikannya melalui smartphone seperti media biasa.

Pada perangkat Meta Ray-Ban Display, misalnya, media yang diimpor dipindahkan ke aplikasi foto smartphone dan kemudian dapat diakses melalui galeri aplikasi Meta AI dengan izin pengguna.

8. Dari File Lokal hingga Cloud

Setelah video masuk ke smartphone, prosesnya dapat berlanjut ke layanan cloud.

Pada dasarnya, kacamata pintar tidak harus mengirim setiap video langsung ke cloud.

Alur yang lebih umum adalah: Kamera → pemrosesan di kacamata → penyimpanan lokal → koneksi ke smartphone → aplikasi pendamping → galeri smartphone → cloud atau platform berbagi.

Tahapan tersebut membuat pengguna tetap memiliki kendali terhadap kapan rekaman dipindahkan dan kapan dibagikan.

Konsep serupa juga terlihat dalam ekosistem Android XR.

Google menjelaskan bahwa perangkat XR dapat menyimpan konten secara langsung di perangkat, sementara Quick Share memungkinkan foto dan video dikirim ke perangkat lain menggunakan koneksi Wi-Fi dan Bluetooth.

9. Mengapa Kacamata Pintar Tidak Bisa Disamakan dengan Kamera Smartphone?

Walaupun sama-sama dapat merekam video, kacamata pintar memiliki sejumlah keterbatasan yang berbeda.

Ukuran perangkat yang jauh lebih kecil membuat ruang untuk baterai, sensor kamera, prosesor, antena, dan penyimpanan menjadi terbatas.

Semua komponen tersebut harus ditempatkan di dalam bingkai yang tetap nyaman dipakai.

Karena itu, produsen harus menyeimbangkan kualitas kamera dengan konsumsi energi dan ukuran perangkat.

Meta, misalnya, menyebut Ray-Ban Meta Gen 2 memiliki daya tahan baterai hingga delapan jam dalam kondisi tertentu, sementara charging case memberikan tambahan daya.

Durasi sebenarnya tetap bergantung pada penggunaan dan fitur yang aktif.

10. AI Membuat Proses Rekaman Semakin Sederhana

Perkembangan berikutnya adalah integrasi AI. Pengguna tidak selalu perlu menyentuh tombol fisik.

Pada Ray-Ban Meta, perintah suara “Hey Meta” dapat digunakan untuk mengambil foto dan memulai atau menghentikan video.

Sistem kemudian menerjemahkan perintah suara tersebut menjadi tindakan pada perangkat.

Dalam perkembangan lebih luas, kacamata AI juga dapat menggunakan kamera untuk memahami lingkungan di sekitar pengguna.

Google, misalnya, menjelaskan bahwa perangkat Android XR dapat menggunakan kamera untuk mengenali dan mencari informasi mengenai objek yang berada di dunia nyata.

Dengan demikian, kamera pada kacamata pintar mulai bergeser dari sekadar alat dokumentasi menjadi sensor yang menjadi bagian dari sistem komputasi.

Kacamata Pintar pada Dasarnya adalah Komputer Mini di Wajah

Jika dibongkar berdasarkan alurnya, proses merekam video menggunakan kacamata pintar sebenarnya cukup kompleks.

Pengguna hanya melihat sebuah tombol kecil pada bingkai, tetapi di baliknya terdapat rangkaian proses yang melibatkan sensor kamera, mikrofon, pemrosesan gambar dan audio, penyimpanan, konektivitas Bluetooth dan Wi-Fi, aplikasi smartphone, hingga layanan cloud.

Teknologi tersebut membuat aktivitas yang sebelumnya membutuhkan smartphone menjadi jauh lebih sederhana.

Pengguna cukup menekan tombol atau memberikan perintah suara, sementara kamera yang berada tepat di depan sudut pandang pengguna menangkap momen tersebut.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa arah kacamata pintar tidak lagi hanya soal merekam video.

Dengan kamera beresolusi lebih tinggi, AI, audio yang semakin baik, serta integrasi dengan smartphone dan layanan digital, perangkat ini perlahan berkembang menjadi komputer wearable yang dapat melihat, mendengar, dan merespons lingkungan di sekitar penggunanya.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU