Selular.ID -

Kisah Sinar Mas, Satu-Satunya Konglomerat yang Bertahan di Tengah Kerasnya Persaingan Industri Telekomunikasi

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Pada awal 2025, Smartfren dan XL Axiata memutuskan untuk merger. Kesepakatan penggabungan kedua operator itu, memunculkan entitas baru, bernama XLSmart.

Dengan penggabungan itu, operator selular di Indonesia tinggal tersisa tiga, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), dan XLSmart.

Padahal, dua dekade lalu, jumlah operator selular di Indonesia masih mencapai belasan. Namun, kerasnya kompetisi, jumlahnya menciut.

Sebagian tumbang karena dibelit persoalan keuangan, sebagian lagi harus melakukan konsolidasi, baik melalui merger atau akuisisi.

Para pemain yang tinggal nama itu, seperti Telkom (Flexi), Bakrie Telecom (Esia), Mobile-8 (Fren dan Hepi), StarOne (Indosat), Sampoerna Telekomunikasi Indonesia(Ceria), Lippo Telecom (Sitra dan Bolt), dan Berca Hardaya Perkasa (HiNet).

Dipicu oleh kerasnya kompetisi, langkah operator selular di Indonesia melakukan merger terutama untuk menciptakan efisiensi operasional, meningkatkan kualitas jaringan, dan menciptakan industri telekomunikasi yang lebih sehat.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Pasar yang sangat kompetitif dengan jumlah operator sebelumnya yang terlalu banyak, dinilai membuat bisnis kurang berkelanjutan secara finansial.

Begitu pun alasan utama mengapa Smartfren harus bergabung dengan XL Axiata. Upaya memperbaiki kinerja keuangan menjadi salah satu alasan utama.

Asal tahu saja, Smartfren menjadi satu-satunya operator yang sebelum bergabung dengan XL Axiata, rapornya kebanyakan tetap merah, padahal perusahaan yang sebelumnya bermarkas di jalan Sabang, Jakarta Pusat itu, telah lama berdiri, yaitu sejak 2002.

Berdasarkan laporan keuangan yang telah dipublikasikan, tercatat, Smartfren mencatat kerugian rata-rata sebesar Rp 2,1 triliun dalam 10 tahun terakhir. Sementara, kerugian terbesar terjadi pada 2018 mencapai Rp 3,55 triliun.

Sepanjang 2023, kinerja Smartfren juga menukik. Perusahaan harus menelan rugi bersih bersih sebesar Rp 108,9 miliar. Pencapaian itu berbanding terbalik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencetak laba sebesar Rp1,06 triliun.

Dapat dipastikan, “nafas kuda”  Smartfren tak lepas dari dukungan induk usaha, yaitu Sinar Mas Group. Dukungan dana berlimpah, membuat Smartfren seperti kebal dari kebangkrutan.

Padahal konglomerat-konglomerat lain, seperti Bakrie Telecom, Lippo Group, Berca Hardaya Perkasa, dan Sampoerna, telah tumbang di bisnis ini.

Seperti diketahui, sebagai pemilik Smartfren, Sinar Mas adalah konglomerat yang bergerak di berbagai bidang bisnis.

Baca Juga: Maybank Indonesia dan Bank Sinarmas Realisasikan Transaksi SRIA

Berdiri sejak 3 Oktober 1938, kegiatan usaha Sinar Mas awalnya mengelola produk makanan dan terus berkembang dengan pesat hingga kini.

Dalam beberapa dekade kemudian, perusahaan yang didirkan oleh Eka Cipta Wijaya itu, merambah ke berbagai sektor strategis, yaitu Pulp dan Kertas, Agribisnis dan Pangan, Layanan Keuangan, Pengembang dan Real Estate, Telekomunikasi, Energi dan Infrastruktur, serta Layanan Kesehatan.

Masuknya Sinar Mas Group ke dalam bisnis telekomunikasi ditandai dengan akuisisi Smart Telecom milik grup perusahaan itu terhadap Mobile 8 Telecom.

Akibat krisis finansial dan penurunan penjualan, Mobile 8 Telecom yang sebelumnya dikuasai oleh taipan sekaligus pemilik grup usaha MNC, Hari Tanoesudibyo, dilego kepada Sinar Mas pada November 2011.

Oleh Sinar Mas, Smartfren kemudian dijadikan holding atau induk usaha dari PT Smart Telecom.

Sebelumnya, Smartfren sendiri merupakan hasil merger dari PT Telekomindo Selular Raya (Telesera), PT Metro Selular Nusantara (Metrosel), PT Komunikasi Selular Indonesia (Komselindo), dan PT Menara Jakarta.

Tentu ada alasan strategis di balik bertahannya Sinar Mas di industri telekomunikasi. Meski harus menggelontorkan dana yang tak sedikit untuk menopang Smartfren.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, konglomerat yang berkantor pusat di kawasan BSD ini, tengah berupaya untuk membangun ekosistem digital yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Seperti divisi-divisi yang telah menjadi mesin uang, telekomunikasi menjadi salah satu pilar bisnis utama yang sangat penting untuk mendukung unit bisnis lainnya, menciptakan efisiensi, serta menangkap peluang emas dari pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Baca Juga: Smartfren Transformasi Brand “Jagoan Sinyal Se-Indonesia” di 400 Kota

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU