Selular.ID – Apple kembali menjadi perusahaan publik paling bernilai di dunia.
Produsen iPhone itu menyalip Nvidia ketika aksi jual menekan saham-saham yang selama ini menikmati lonjakan investasi kecerdasan buatan atau AI.
Anadolu Agency dikutip Sabtu, 18 Juli, melaporkan kapitalisasi pasar Apple, atau total nilai seluruh saham perusahaan, mencapai sekitar 4,9 triliun dolar AS dalam perdagangan intrahari pada Jumat.
Nilai itu sedikit lebih tinggi dibandingkan Nvidia yang tercatat sebesar 4,84 triliun dolar AS.Referensi Geografis
Pergantian posisi terjadi saat saham Nvidia kembali melemah.
Baca juga:
- Nvidia Sebut Ini Alasan Industri Raksasa Mulai Ogah Pakai AI yang Biasa-Biasa Aja
- Apple Bidik Akuisisi Perusahaan Chip AI, Kejar Ketertinggalan dari Rival
Aksi jual juga melanda perusahaan semikonduktor dan sejumlah saham lain yang selama ini paling diuntungkan oleh derasnya belanja AI.
Investor mulai mempertanyakan apakah ratusan miliar dolar AS yang digelontorkan untuk infrastruktur AI dan pusat data bisa menghasilkan keuntungan cukup cepat.
Kekhawatiran itu muncul ketika valuasi perusahaan teknologi sudah berada di tingkat tinggi.
Nvidia telah kehilangan sekitar 1 triliun dolar AS nilai pasar sejak harga sahamnya mencapai puncak pada pertengahan Mei.
Hingga awal Juli, saham perusahaan cip itu turun sekitar 16 persen.
Meluas ke Semikonduktor
Pelemahan juga meluas ke sektor semikonduktor. Indeks Semikonduktor Philadelphia turun sekitar 11,5 persen dalam sepekan, meski sejumlah produsen cip besar mencatat kinerja keuangan yang kuat.
Indeks momentum yang melacak saham-saham unggulan yang sebelumnya naik tajam juga turun 13 persen sejak Juni.
Risiko geopolitik dan kenaikan harga energi ikut membebani saham teknologi.
Kondisi itu memperkuat kekhawatiran inflasi tetap tinggi dan suku bunga bertahan di level tinggi lebih lama.
Saham Apple relatif lebih tahan dibandingkan Nvidia.
Kinerja itu membawa Apple kembali memimpin dari sisi valuasi ketika minat investor mulai bergeser dari sebagian produsen cip yang paling erat dikaitkan dengan lonjakan belanja AI.


