Selular.ID – PUMA Indonesia memperkenalkan pendekatan baru dalam dunia lari urban melalui gelaran Deviate Route di Jakarta, 2 Mei 2026.
Ajang lari 5K bertema urban crawl ini sekaligus menjadi panggung bagi PUMA untuk menyoroti inovasi teknologi pada sepatu PUMA Deviate 4, khususnya sistem PWRPLATE yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi langkah, stabilitas, dan performa pelari saat menghadapi rute dinamis.
Melalui event yang digelar di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, PUMA menghadirkan pengalaman lari yang berbeda dari road race konvensional.
Rute yang melintasi gang sempit, tanjakan tangga, hingga segmen sprint terbuka menjadi medan pengujian nyata bagi teknologi yang dibenamkan pada Deviate 4.
Fokus utama dari peluncuran ini adalah PWRPLATE, teknologi pelat pendukung yang terintegrasi pada struktur midsole sepatu.
Sistem ini dirancang untuk menjaga stabilitas kaki sekaligus menciptakan transisi langkah yang lebih efisien, terutama ketika pelari meningkatkan pace atau melakukan perubahan ritme secara cepat.
Teamhead Marketing PUMA Indonesia, Rachmat B. Trilaksono, mengatakan pendekatan ini merepresentasikan filosofi PUMA dalam menghadirkan inovasi yang tidak sekadar mengejar kecepatan, tetapi juga mendorong pelari keluar dari pola latihan yang monoton.
“Melalui Deviate Route, kami ingin menunjukkan bahwa berlari cepat bukan hanya soal angka di pace, tetapi juga tentang bagaimana pelari berani menghadapi rute yang tidak biasa dan terus mencari tantangan baru. Spirit Deviate 4 hadir untuk mendorong progres saat pelari keluar dari comfort route,” ujar Rachmat.
Dalam konteks teknologi sepatu lari modern, penggunaan pelat penopang seperti PWRPLATE kini menjadi salah satu inovasi yang paling banyak diadopsi industri sportswear global.
Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan struktur kaku yang ditempatkan di antara lapisan bantalan untuk mengoptimalkan transfer energi dari tumit ke ujung kaki.
Pada Deviate 4, PWRPLATE dikombinasikan dengan material bantalan NITRO™ Foam. Integrasi keduanya memungkinkan terciptanya keseimbangan antara responsivitas dan stabilitas, dua aspek yang kerap sulit dicapai secara bersamaan pada sepatu kategori speed training.
Secara teknis, NITRO™ Foam berfungsi sebagai bantalan ringan dengan tingkat energy return tinggi. Material ini membantu mengembalikan energi dari tekanan langkah menjadi dorongan ke depan.
Sementara itu, PWRPLATE bertugas mengarahkan energi tersebut agar tersalurkan lebih efisien melalui struktur kaki.
Hasilnya adalah sensasi lari yang lebih responsif tanpa mengorbankan kontrol, terutama pada situasi yang menuntut adaptasi cepat seperti akselerasi mendadak, perubahan arah, atau transisi dari permukaan datar ke elevasi.
Keunggulan ini menjadi relevan dengan konsep Deviate Route yang dirancang untuk menguji kemampuan adaptasi pelari.
Berbeda dari lomba 5K konvensional yang cenderung menekankan konsistensi pace di lintasan linear, urban crawl menuntut pelari untuk terus menyesuaikan ritme sesuai karakter rute.
Rute sepanjang 5 kilometer yang melintasi Jalan Lauser, Barito, Melawai Raya, Pattimura, hingga Sisingamangaraja menjadi simulasi nyata bagaimana teknologi sepatu dapat memengaruhi performa dalam kondisi variatif.
Peserta yang terdiri dari komunitas lari dan jurnalis pelari diberi pilihan format Individual Race maupun Community Relay Race.
Seluruh hasil pelacakan dilakukan melalui aplikasi Strava, menegaskan integrasi antara olahraga lari dan ekosistem digital berbasis data.
Aktor sekaligus pegiat olahraga Ibnu Jamil yang turut ambil bagian menilai tantangan rute tersebut memberikan pengalaman berbeda dibanding road race biasa.
“Deviate Route memberikan pengalaman yang berbeda karena rutenya lebih dinamis dan menuntut kita terus menyesuaikan ritme. Tantangan seperti ini membuat setiap segmen terasa mendorong kita berkembang dan keluar dari kebiasaan saat latihan,” ujarnya.
Dari sisi spesifikasi, PUMA Deviate 4 hadir dengan stack height 38 mm pada tumit dan 30 mm pada forefoot, menghasilkan drop 8 mm yang dirancang untuk mendukung transisi langkah natural saat pace meningkat.
Bobotnya sekitar 250 gram, cukup kompetitif untuk kategori sepatu speed training premium.
Selain PWRPLATE dan NITRO™ Foam, sepatu ini dilengkapi outsole PUMAGRIP yang menawarkan traksi kuat di berbagai permukaan urban.
Platform outsole yang lebih lebar juga meningkatkan kestabilan lateral, aspek penting saat pelari melakukan manuver di tikungan tajam atau permukaan tidak rata.
Bagian upper menggunakan engineered mesh yang ringan dan breathable, memastikan sirkulasi udara tetap optimal selama sesi latihan intens.
PUMA membanderol Deviate 4 di harga ritel Rp2.599.000, menempatkannya pada segmen premium performance running.
Posisi ini mencerminkan strategi PUMA untuk bersaing di kategori sepatu lari berteknologi tinggi yang saat ini menjadi salah satu segmen paling kompetitif dalam industri sportswear global.
Melalui Deviate Route dan penguatan teknologi PWRPLATE pada Deviate 4, PUMA menunjukkan bahwa inovasi sepatu lari kini tidak hanya berorientasi pada material yang lebih ringan atau bantalan lebih empuk, tetapi juga pada rekayasa biomekanik yang mendukung efisiensi gerak.
Bagi pasar Indonesia yang menunjukkan pertumbuhan komunitas lari urban dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan berbasis teknologi seperti ini berpotensi memperluas adopsi sepatu performance running yang lebih spesifik sesuai kebutuhan latihan dan race day.
Baca Juga: Planet Sports Run 2026 Hadir Awal Tahun, PUMA Jadi Jersey Partner




